Kementan: Penyakit Kulit Berbenjol pada Sapi Tidak Menulari Manusia, Aman

Sabtu, 12 Maret 2022 – 18:48 WIB
Sapi yang terjangkit penyakit kulit berbenjol. Kementan menjamin daging sapi atau kerbau yang terjangkit penyakit ini bisa untuk dikonsumsi asalkan bagian yang terdampak dihilangkan. Foto: Humas Kementan

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan penyakit kulit berbenjol atau lumpy skin disease (LSD) pada sapi di Provinsi Riau tidak berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Nasrullah pada Sabtu (12/3).

BACA JUGA: Begini Strategi Kementan Agar Kedelai Tidak Lagi Impor

"Penyakit ini tidak menular dari hewan ke manusia atau bukan penyakit zoonosis," ungkapnya.

Menurut Nasrullah, daging sapi atau kerbau yang tertular LSD dan kemudian telah sembuh masih dapat dikonsumsi setelah bagian-bagian yang terdampak dihilangkan.

BACA JUGA: Kementan Bersama Perguruan Tinggi Gencarkan Gerakan Ketahanan Pangan Lokal

"Pastikan daging yang akan dikonsumsi berasal dari rumah potong hewan yang diawasi dokter hewan," tambahnya.

Dia menyatakan, daging yang dijual di masyarakat selama memiliki bomor kontrol veteriner (NKV) atau berasal dari rumah potong hewan yang memiliki NKV pasti telah diperiksa sebelum ternaknya dipotong dan setelah dipotong.

BACA JUGA: Selamat, UPT Kementan Raih Penghargaan Pelayanan Publik dari KemenPAN-RB

"Jadi, masyarakat tidak usah khawatir atau ragu untuk membeli dan mengonsumsi daging sapi atau kerbau," imbuhnya.

Dia juga meminta masyarakat agar hewan yang masih sakit untuk tidak dijual, dilalulintaskan, atau dipotong.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH Nuryani Zainuddin menyampaikan, saat ini kasus LSD telah terkonfirmasi di tujuh kabupaten atau kota di Provinsi Riau dan upaya pemberantasan intensif terus dilakukan.

“Kementan tengah mempersiapkan vaksinasi massal LSD di Riau. Vaksinnya sudah kami siapkan," jelasnya.

Nuryani menyampaikan, pada Minggu kedua Maret ini, 147 petugas kesehatan hewan yang terdiri atas dokter hewan dan paramedis sudah siap diterjunkan untuk melakukan vaksinasi setelah mendapatkan pelatihan dari tim pusat.

"Kami juga siapkan program sosialisasi kepada semua tingkatan pemangku kepentingan untuk mendukung program ini," ungkapnya.

Nuryani menambahkan, selain dengan dukungan APBN dan APBD, pengendalian LSD di Riau mendapatkan dukungan dari program Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) dan Global Health Security Program Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).

"Dukungan dari pemda dan mitra kerja sama ini sangat penting untuk melaksanakan tindakan darurat di lapangan. Semoga LSD di Riau dapat segera reda dan tidak menyebar ke wilayah lain," pungkasnya. (mrk/jpnn)


Redaktur : Tarmizi Hamdi
Reporter : Tarmizi Hamdi, Tarmizi Hamdi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler