Kerisauan M. Haitami, sang Penjaga Tradisi Ukiran Dayak di Kalimantan Tengah

Separuh Hidup untuk Jaga Heart of Borneo

Jumat, 24 April 2015 – 18:18 WIB
KHAS DAYAK: Haitami menunjukkan salah satu karyanya, ukiran Dayak yang terbuat dari kayu ulin. Model ukiran itu telah menyebar ke berbagai negara. Foto: Amri Husniati/Jawa Pos

jpnn.com - ’Kalau memang pemerintah daerah tidak mau membantu, biar saya bakar saja semua kerajinan serta alatnya. Biarlah riwayat Baniang terkubur selamanya.’’ Kata-kata bernada pedih itu meluncur dari bibir M. Haitami, perajin tradisional ukiran kayu khas Dayak.

Laporan Amri Husniati, Sampit

BACA JUGA: Calon Menang, Bisa Kantongi Sampai Rp 150 Juta Plus ke Kelab Malam

HAITAMI, penjaga kearifan lokal Borneo itu, tidak mampu menyembunyikan emosinya ketika Jawa Pos berkunjung ke workshop-nya yang bersahaja di Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, Kotawaringin Timur, Kalteng, Rabu siang (15/4).

Rupanya, sepucuk surat yang diterima sehari sebelumnya membuat pria sepuh itu gundah bukan kepalang. Bukan soal kelanjutan nasib periuk belanga keluarganya. Namun, Haitami lebih memikirkan nasib salah satu warisan budaya Dayak pada masa mendatang.

BACA JUGA: Amin Ginting, Kades yang Kehilangan Warga dan Wilayah di Kawasan Gunung Sinabung

Dalam layang yang diketik rapi tersebut, sang pengirim, Tono, menyatakan tidak sanggup lagi mengulurkan tangannya untuk membantu usaha kerajinan kayu bernama Baniang yang dirintis Haitami itu. Bahkan, pengusaha yang tinggal di Jl Terusan Dieng, Malang, Jawa Timur, tersebut berniat meminta kembali tanah yang sejak 1992 dipinjamkannya untuk usaha Baniang. Yang seperempat bagian sudah dihibahkan untuk bangunan SD di belakang Baniang.

’’Selama dipinjami, kami tidak pernah bayar,’’ tutur pria yang usianya memasuki kepala enam itu. Bahkan, yang mengusahakan sambungan listriknya juga Tono. ’’Kalaupun kini diminta, kami bisanya apa selain mengembalikan? Sebab, itu memang bukan milik kami. Bukan hak kami.’’

BACA JUGA: Patricia Deandra, Kartini Muda Pembelah Angkasa

Dengan berapi-api, pria sepuh yang akrab disebut Pak Tamik itu menuturkan, dirinya sangat bisa memahami mengapa tanah yang dipinjamnya itu diminta kembali. Pasalnya, kondisi keuangan sang bapak asuh Baniang sedang kurang bagus.

Haitami sangat berterima kasih karena hampir seperempat abad hanya Tono yang memberikan bantuan riil tanpa embel-embel apa pun kepada dirinya dan pasukan kecilnya untuk menuangkan kreasi sekaligus menjaga kearifan lokal lewat ukiran kayu ulin serta sungkai. ’’Luar biasa jasa dia bagi kami,’’ tegas Haitami.

Sementara itu, untuk membeli tanah berukuran 19 x 150 meter senilai Rp 150 juta seperti yang diminta Tono, ayah enam anak tersebut menyatakan tidak mampu. ’’Dari mana kami punya uang sebanyak itu? Hasil kami membuat kerajinan ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,’’ tambah Mufti Rahman, putra Haitami yang mewarisi darah seni ukir dari sang ayah, seraya mengerjakan pesanan jam dinding bermotif ikan jelawat. Mufti terpaksa drop out kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta lantaran terbentur biaya.

Ironi kehidupan perajin ukir yang mengangkat nama Kalimantan Tengah dalam berbagai event itu tidak mampu ditutupi Haitami. Apalagi hampir separuh hidupnya diabdikan untuk menjaga aset budaya heart of Borneo tersebut.

Berbagai event pameran di tingkat provinsi hingga nasional dia ikuti demi mengenalkan pesona ukiran Dayak. Tidak terhitung berapa kayu ulin maupun sungkai yang disulapnya menjadi hiasan memikat, yang tidak hanya menarik minat warga lokal, namun juga mancanegara.

’’Setiap kali Kotawaringin Timur atau Kalimantan Tengah ikut pameran di daerah lain, kami pasti diajak,’’ tutur Haitami dengan nada mulai menurun.

Dia lantas menceritakan aneka kerajinan yang lahir dari sentuhan tangannya maupun yang dikerjakan generasi penerus, tetapi idenya masih dari dia. Mantan guru SD itu mengenang, dirinya kali pertama diajak berpameran semasa Kalimantan Tengah dipimpin Gubernur Suparmanto era 90-an. Saat itu, Haitami mengirimkan 16 patung kayu yang dilembur karena hanya punya waktu kurang dari dua pekan untuk menyelesaikannya –termasuk menyiapkan bahan, desain, sekaligus alat– lantaran Haitami memang benar-benar mengawali dari nol.

Patung-patung bercorak Dayak primitif tersebut menggambarkan orang yang sedang menombak kelep (kura-kura kecil), menyumpit, serta memancing. ’’Begitu patung ukiran saya dipajang di meja utama stan pameran, kerajinan yang lain langsung dipinggirkan ke tempat lain,’’ kenang Haitami tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

Pengalaman ikut pameran pertama di Palangkaraya pada awal 90-an itu begitu membekas. Bukan saja karena karyanya langsung ludes dibeli dengan banderol masing-masing Rp 10 ribu –yang jika dibelikan perhiasan emas bisa dapat 4 gram. Namun, apresiasi pembeli yang datang ke pameran lebih mengantarkan dia menemukan jati diri plus kebahagiaan.

’’Bagi saya, kultur kebudayaan Kalimantan terjaga itu adalah nilai yang tidak terkira,’’ tegasnya.

Tawaran pameran berikutnya terus mengalir. Melebar ke Pulau Dewata hingga Jakarta. Ketika pameran di Bali, patung papujut alias hantu Kalimantan menjadi favorit pengunjung. Seperti sejumlah event lain sebelumnya, pahatan Haitami ludes tidak tersisa.

’’Saya sampai ditawari orang Bali untuk bekerja pada dia dengan gaji Rp 500 ribu per bulan. Keluarga saya diboyong semua ke sana dan hidup kami ditanggung. Masih juga diberi rumah dan mobil. Tugas saya cukup mendesain dua demit Kalimantan (papujut) setiap bulan. Namun, semua tawaran itu saya tolak,’’ ungkapnya.

Sejatinya, jika dibandingkan dengan penghasilannya sebagai guru SD yang saat itu hanya Rp 94 ribu per bulan, kontrak kerja tersebut jelas menggiurkan. Namun, Haitami bergeming. Dia lebih suka hidup di kampung kelahiran dan mengembangkan kearifan lokal tanah leluhurnya.

Sebagai pemahat tradisional, alat-alat yang digunakan Haitami memang masih konvensional. Kalaupun saat ini dibantu mesin, itu sekadar untuk memotong dan menghaluskan. Yang lain tetap harus dengan sentuhan tangan. Tidak heran jika Baniang tidak bisa memproduksi masal.

Beberapa kali permintaan dalam jumlah besar terpaksa ditolak karena alat-alat produksi yang dimiliki Haitami terbatas. Dia pernah diminta menulis proposal kepada pemerintah daerah untuk meminta bantuan. ’’Sudah saya buat (proposal) sampai beberapa kali, tapi sampai saat ini tidak ada kabar sama sekali.’’

Haitami mengakui, dalam pameran terkadang ada pula barang yang tidak laku. Nah, yang membikin dia jengkel, barang sisa pameran itu merana karena tidak diurusi panitia. Pernah saat ikut pameran di Jakarta, nilai barang yang tersisa sekitar Rp 20 juta. Eh, aneka kerajinan kayu tersebut ditelantarkan begitu saja, tidak dikembalikan ke Baniang Hamimi yang bisa dicapai dengan kapal klotok dari pusat perbelanjaan Mentaya Sampit.

Haitami jelas kecewa. Di mata dia, sudah minim dana bantuan, pemda masih juga tega menyia-nyiakan nasib kreasinya. ’’Sejak 2013, saya menolak tawaran pemda ikut pameran. Lebih baik saya berkonsentrasi menerima pesanan-pesanan individu. Meskipun jumlahnya kecil, tapi lebih nyata,’’ timpal Mufti yang pernah menjadi juara nasional pemuda pelopor bidang kebudayaan.

Selain papujut, pahatan yang banyak disukai adalah patung putri Dayak, jam dinding betang, serta telabang atau perisai dinding. Untuk pewarnaan, ada yang kimiawi dan ada yang masih natural. Untuk yang alami, warna putih didapatkan dari air kapur, sedangkan hitam adalah hasil kombinasi dedaunan mengkinang tikus, gambir, serta marjan.

Seperti tradisi Dayak yang terus tergerus zaman, tubuh Haitami juga mulai lemah. Beberapa kali dia menyambangi rumah sakit. Kekuatannya untuk memahat tidak seperti dulu lagi. Dia pun menyiapkan sang anak, Mufti, untuk meneruskan tradisi itu yang dibantu meruai atau saudara ipar. Haitami kini lebih banyak mendesain sekaligus melukis khazanah kultur Dayak yang diyakini mencapai 500 item.

Satu impian Haitami yang tak jua bergayung sambut dengan pemda, dia ingin lebih banyak Haitami baru lahir dari tangannya. ’’Saya sudah katakan ke dinas pariwisata, bantu saya untuk menyiapkan mobil dilengkapi alat-alat memahat, lantas bawa saya ke pedalaman untuk mengajari mereka di sana. Gratis. Tak perlu mereka yang jauh-jauh belajar ke sini. Apalagi di sana banyak bahannya seperti bonggol-bonggol ulin itu.’’

Namun, obsesi tersebut tidak kunjung kesampaian. Padahal, umur Haitami terus berjalan. Kontrak hidupnya di dunia bakal habis seiring berjalannya waktu. Semoga Pemprov Kalimantan Tengah maupun Pemkab Kotawaringin Timur belum terlambat untuk segera menyadari dan menghargai sang penjaga tradisi pahatan Dayak tersebut. (*/c5/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ternyata, Salah Satu Peneliti Vaksin Kanker Serviks Itu Orang Indonesia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler