Kerusuhan di Kazakhstan Mereda, Polisi dan Intel Mulai ‘Bersih-Bersih’

Senin, 10 Januari 2022 – 01:49 WIB
Aparat keamanan Kazakhstan memblokir jalan saat terjadi protes massa terhadap kenaikan harga bahan bakar di Almaty, Kazakhstan, 5 Januari 2022. Foto: ANTARA/Reuters/Pavel Mikheyev/as

jpnn.com, NUR-SULTAN - Sebanyak 164 orang, termasuk dua anak kecil, meninggal saat kerusuhan yang disertai kekerasan berlangsung di Kazakhstan selama pekan lalu, kata Kementerian Kesehatan Kazakhstan, Minggu (9/1).

Rentetan demonstrasi mulai berlangsung pekan lalu untuk menentang kenaikan harga bahan bakar.

BACA JUGA: Update Situasi Mencekam di Kazakhstan: Sekutu Eks Presiden Berkhianat, Banyak yang Ditangkap

Aksi unjuk rasa itu kemudian berkembang menjadi demonstrasi menentang pemerintah.

Kemenkes mengatakan 103 orang meninggal di Almaty, kota utama Kazakhstan tempat kekerasan terjadi.

BACA JUGA: Kabar Terbaru dari Kazakhstan: Kediaman Presiden Dibakar, Rusia Jilat Ludah Sendiri

Sementara itu, dari Almaty dilaporkan bahwa pihak berwenang Kazakhstan pada Minggu menyatakan telah mengendalikan situasi di seluruh negeri setelah negara itu dilanda kekerasan paling maut selama 30 tahun merdeka.

Para pejabat keamanan dan intelijen memberi pemaparan kepada Presiden Kassym-Jomart Tokayev bahwa mereka terus melancarkan "pembersihan", tindakan yang disebut Tokayev sebagai operasi kontraterorisme besar-besaran.

BACA JUGA: Pesan Dubes Fadjroel untuk Segenap WNI di Kazakhstan: Ini Bukan Urusan Kita

Pekan lalu, puluhan orang tewas, ribuan orang ditangkap, dan banyak gedung dibakar.

Keadaan itu membuat Tokayev mengeluarkan perintah tembak mati dalam penanganan kerusuhan, yang ia katakan disebabkan oleh para bandit dan teroris. (ant /dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler