Ketua MPR Ajak untuk Belajar Kisah Pendiri Bangsa

Jumat, 16 Agustus 2019 – 23:56 WIB
Zulkifli Hasan. Foto: dok/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pidato Ketua MPR Zulkifli Hasan menyinggung keberhasilan pelaksanaan program Empat Pilar. Menurutnya, program tersebut harus dilanjutkan dan dijadikan pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Zulkifii menyatakan dalam implementasi nilai yang terkandung dalam Empat Pilar khususnya bagi penyelenggara negara, sangat penting belajar dari kisah para pendiri bangsa yang memberi keteladanan.

BACA JUGA: Kritik Hendardi terhadap Pidato Presiden Jokowi

"Bahwa memimpin adalah mengabdi, bukan sekadar jalan mencari

kuasa," kata Zulkifli saat berpidato pada Sidang Tahunan MPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8).

BACA JUGA: Sering Dikritik, Jokowi Tetap Puji Kinerja DPR

Zulkifli lantas mengungkap kisah tokoh bangsa seperti Proklamator RI Bung Karno, kemudian Agus Salim, serta Bung Hatta.

Dia menjelaskan, pasacapenetapan Bung Karno sebagai presiden pertama dalam Rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 18 Agustus 1945, sang proklamator itu pulang berjalan kaki.

BACA JUGA: Stan Pameran MPR Laris Manis Diserbu Pengunjung Sidang Tahunan MPR 2019

"Santapan berbuka puasanya adalah sate ayam yang dibelinya sendiri di pinggir jalan dari seorang pedagang tanpa pakaian atas, alias bertelanjang dada," katanya.

Selain itu, Zulkifli menambahkan, H. Agus Salim sampai meninggal dunia tetap berstatus ‘kontraktor’. Artinya, kediamannya berupa rumah sempit di gang sempit pula masih berstatus sewa ketika Agus Salim wafat. Kasur gulung, ruang makan, dapur, dan tempat menerima tamu di rumah kontrakannya bersatu dalam satu ruangan besar.

"Nasi goreng kecap mentega menjadi menu favorit, khususnya ketika sedang tidak ada makanan lain yang lebih bergizi, dan tidak ada uang," jelas ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu.

Dia menambahkan, hal serupa juga dilakukan Bung Hatta sesaat setelah berhenti dari jabatannya sebagai wapres.

Dia menjelaskan, Bung Hatta menolak menerima uang Rp 6 juta yang merupakan sisa dana nonbujeter untuk keperluan operasional dirinya selama menjabat wapres. "Itulah sepenggal kisah para Pendiri Bangsa yang akan terus hidup di tengah-tengah masyarakat dan patut kita teladani," katanya.(boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Fadli Zon: Diplomasi Politik Luar Negeri Tak Bisa Cuma Pakai Smartphone


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler