Ketum Pakar Apresiasi Upaya Jokowi Menjaga Pasokan Pangan Nasional

Jumat, 12 Agustus 2022 – 20:49 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan kembali pentingnya menjaga pasokan pangan nasional. Ilustrasi. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan kembali pentingnya menjaga pasokan pangan nasional.

Jokowi mengingat hal itu terkait sejumlah negara di dunia tengah dilanda krisis pangan dan kelaparan sehingga Indonesia harus tetap hati-hati dan waspada menghindari hal serupa.

BACA JUGA: Mentan SYL Ajak Kembalikan Kejayaan Pangan Nasional

Hal itu disampaikan Jokowi saat meninjau pengembangan dan penanaman kelapa genjah di Desa Sanggang, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (11/8).

Ketua Umum Pusat Kedaulatan Rakyat (PAKAR) Razikin Zuraid mendukung langkah Presiden Joko Widodo yang mengajak para petani dan masyarakat untuk mengambil peluang dan memanfaatkan lahan yang mereka kelola dengan menanam tanaman pangan pokok seperti padi, jagung, porang, hingga sorgum.

BACA JUGA: Ganjar Dorong Industri Desa Jadi Pemacu Ketahanan Pangan

Razikin menilai upaya Presiden Jokowi dalam mengantisipasi krisis pangan di tanah air dinilai sangat tepat dan harus diapresiasi oleh masyarakat Indonesia.

Sebab, Jokowi sangat memahami situasi global yang terjadi saat ini.

BACA JUGA: Mentan SYL Serukan Semangat Kembalikan Kejayaan Pangan Nasional

Menurut Razikin, ancaman krisis pangan sudah berada di depan mata, serta politik dunia yang belum stabil akibat perang

“Ya, saya kira Jokowi sebagai Presiden G20, kemudian kemarin lakukan kunjungan ke beberapa negara tentu itu memahami betul bagaimana situasi global sekarang, ancaman krisis pangan. Dari situ, saya lihat tentu saja presiden dengan membaca peta politik dunia yang mengalami krisis pangan sekarang, itu harus kita apresiasi betul,” kata Razikin Juraid, Jumat (12/8).

Menurut Razikin, krisis pangan sekarang menjadi isu dunia, maka harus ada kesadaran bersama untuk melakukan inovasi dalam pengembangan pangan.

Oleh karena itu, arahan Presiden Jokowi kepada pemerintah daerah untuk membudidayakan sorgum satu langkah yang harus disambut secara baik oleh pemerintah daerah.

“Hanya saja memang ada persoalan terkait sorgum karena budi daya yang tidak terlalu familiar di tengah-tengah petani,” ujar Razikin.

Dia menyebut butuh waktu yang cukup lama kemudian perlu dihitung oleh pemerintah misalnya pasca-panen, prapanen, pratanam saat tanaman sampai pascapanen.

“Itu harus dihitung betul sehingga petani-petani di daerah-daerah ini tidak lagi mengalami kesulitan,” ujarnya.

Menurut Razikin, jika merujuk pada data global krisis pangan, saat ini menjadi ancaman besar bagi negara-negara di dunia. Beberapa negara terancam mengalami kelaparan akibat krisis pangan tersebut.

Bahkan, bank dunia menyebut per Juni 2023 ini, harga pangan dunia berada di angka 8 persen.

Namun, krisis pangan ini belum menentu hingga perlu ada kebijakan-kebijakan baru terkait pengembangan pangan di Indonesia.

“Poin saya sangat mengapresiasi karena kita memang sekarang ini kalau kita lihat data global krisis pangan ini menjadi ancaman kelaparan dunia sekarang. Krisis ini kan masih fluktuatif, kita enggak tahu hari-hari ke depan tentu tetap memang perlu ada kebijakan-kebijakan yang lebih strategis,” ucapnya.

Razikin pun memastikan arahan Presiden Jokowi ini merupakan salah satu solusi dalam menghadapi krisis pangan.

Pasalnya, kalau melihat rencana besar Presiden Jokowi soal kemerdekaan pertanian atau pangan ini sudah dimulai sejak 2014 silam.

Pada medio 2014-2015 hingga 2016, Presiden Jokowi menggenjot pertanian Indonesia dan meminimalisir impor pangan dari luar.

“Presiden Jokowi, saya kira sudah konsen soal pertanian dan pangan di 2014-2015 2016. Waktu itu kalau enggak salah presiden mengeluarkan kebijakan untuk harus ada area tanah baru, percetakan sawah baru karena lahan produktif kita kan mengalami penyempitan, karena pembangunan terus-menerus,” ujar Razikin.

Akhirnya, kata dia, presiden membuka lahan baru kalau enggak. Slah lebih kurang tujuh juta hektare itu dengan sawah baru produktif.

“Potensi impor kita bisa diminimalisir karena produksi dalam negeri bisa memenuhi kebutuhan kita,” ujar dia.

Menurut Razikin, arahan presiden untuk mengembangkan tanaman sorgum ini menjadi hadiah pemerintah bagi petani atau masyarakat Indonesia menjelang hari lahir bangsa Indonesia, yakni 17 Agustus 2022.

Razikin pun memastikan tanaman sorgum ini sangat mudah dan bisa ditanam di tempat manapun, baik di tanah basah atau tanah kering sekalipun.

“Saya kira sorgum ini juga sangat mudah ditanam, memiliki daya tahan terhadap kekeringan. Saya kira arahan presiden itu kita harus sambut baik,” ujar Razikin.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler