Kiat Agar Bisnis Kuliner Bisa Bertahan Lama

Selasa, 13 Agustus 2019 – 09:48 WIB
Ilustrasi kafe. Foto: AFP

jpnn.com, SURABAYA - Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restauran (Apkrindo) Jawa Timur Tjahjono Haryono mengatakan, pasar yang kompetitif menuntut para pelaku bisnis kuliner kreatif dan inovatif.

’’Kalau ingin bertahan lama, ya, harus rajin berinovasi. Mulai menu, teknologi, hingga equipment,’’ katanya dalam Business & Culinary Talks di Surabaya, Sabtu (10/8).

BACA JUGA: Strategi Pemprov Jatim Dorong Ekspor Olahan Kopi

Bisnis kuliner di Jatim memang semakin menggeliat. Restoran dan kafe tumbuh terus.

BACA JUGA: Indonesia Masih Seksi di Mata Investor Asing

BACA JUGA: Strategi Baba Rafi Gaet Investor

Pertumbuhannya mencapai 20 persen pada 2018. Tahun ini proyeksi pertumbuhannya akan lebih tinggi. Karena itu, kompetisinya pun semakin sengit.

Tjahjono menambahkan, konsumen zaman now tidak ragu merogoh kocek dalam-dalam demi makanan atau minuman yang sedang tren.

BACA JUGA: Hutan di Jatim Terbakar, Kabut-Angin Kencang Hambat Operasi Pemadaman Udara

Asalkan harga yang mereka bayar sebanding dengan yang mereka dapatkan. Karena itu, para pebisnis restoran dan kafe harus selalu meng-update wawasan mereka soal kuliner.

Menurut Tjahjono, nilai transaksi industri food and beverage (f&b) di Indonesia besar.

Sepanjang tahun lalu saja angkanya mencapai lebih dari Rp 800 triliun. Di Surabaya, nilai PAD dari sektor restoran berkisar Rp 450 miliar.

’’Itu angka yang besar. Artinya, prospek bisnis industri ini masih sangat cerah,’’ tegasnya.

Investor bisnis kuliner di Jatim adalah anak muda. Usia mereka kira-kira 20 tahun hingga 40 tahun.

Hampir 40 persen pebisnis tersebut adalah milenial. Demikian juga konsumennya. Karena itu, industri kuliner tidak bisa terlepas dari teknologi.

’’Bagi konsumen milenial, pengalaman lebih penting ketimbang rasa makanan,’’ kata Chef & Kitchen Consultant Mandif Warokka.

Pengalaman, menurut dia, mencakup semua aspek restoran. Bukan hanya menu, melainkan juga sampai ke suasana restoran atau kafe dan layanan.

Menyajikan menu dalam tampilan digital, menurut Mandif, juga penting. Sebab, pemesanan makanan akan menjadi jauh lebih cepat.

Selain itu, juga tidak selalu harus mengandalkan staf untuk menawarkan menu tertentu.

Karena itu, dia mengimbau para pelaku bisnis kuliner tidak eman-eman berinvestasi di sisi teknologi.

’’Intinya, kalau mau investasi, berinvestasilah ke hal-hal yang bisa memberikan solusi dan membuat semuanya lebih praktis,’’ tegasnya.

Owner Restomart Damian Pius menambahkan, ke depan restoran dan kafe berteknologi tinggilah yang akan menjadi tren.

’’Orang-orang masa kini sudah tidak bisa dijauhkan dari teknologi. Itu cara paling efektif untuk mempertahankan pelanggan sekaligus menambah yang baru,’’ tuturnya. (car/c4/hep)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Produksi Jagung Diprediksi Mencapai 6,7 Juta Ton


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler