Kisah Asmara Liem Swie King dan Eva Arnaz Hanya Ada Di Sini...

Kamis, 08 Oktober 2015 – 12:05 WIB
Eva Arnaz, bintang film papan atas era 1970-1980-an. Liem Swie King beradu akting dengan Eva Arnaz di film Sakura dalam Pelukan (1979). Foto: Istimewa.

jpnn.com - DI masa keemasannya, Liem Swie King diskors PBSI selama tiga bulan, Oktober hingga Desember 1979. King pun terjun ke dunia akting. Beradu peran dengan Eva Arnaz. Kabarnya, dialah bintang film termahal di masanya.

=======
Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network
=======

BACA JUGA: King...I am Liem Swie King (1)

King dipanggil Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Sudirman dan Suharso Suhandinata, Ketua Bidang Luar Negeri PBSI. Mereka jumpa di rumah Suharso di Bulungan, Jakarta Selatan.

King ditanya, seandainya dikenakan sanksi skorsing, apakah tetap bermain? Sudirman khawatir, sanksi itu akan membuat sang juara dunia merajuk dan tak mau main lagi. 

BACA JUGA: Ketahuilah, Hanya Jenazah Bung Tomo yang Bisa Dibawa Pulang

"Waktu itu aku menjawab, aku akan tetap bermain. Usiaku masih 23 tahun, dan aku beranggapan  karirku di dunia bulutangkis masih panjang," kenang King, sebagaimana dituliskan Robert Adhi Ksp dalam buku Panggil Aku King.

King mengaku salah. Dia diskors karena kelalaiannya, telat datang dan dinyatakan kalah WO dalam sebuah laga di Sea Games X 1979 di Jakarta.

BACA JUGA: DARDERDOR...! Kisah Tiga Butir Peluru di Palagan Ambarawa

Menurut King, hari itu dia tidak menyangka ada pertandingan yang digelar pagi hari di Gelanggang Mahasiswa Kuningan, Jakarta Selatan. Mengingat tiga hari sebelumnya, pertandingan selalu malam hari.

Bagaimana pun, hal itu menjadi santapan pers. "Ada yang bilang aku pulang pagi. Itu tidak benar!" sergahnya.

Pesona Bintang

Skorsing untuk sang juara dunia jadi buah bibir. Topik perbincangan hangat. Maklum, masa itu dia bintangnya. Apalagi, King sedang pegang rekor 33 bulan tak sekalipun terkalahkan. 
 
Sang bintang tak meredup. Dari bintang lapangan, dia jadi bintang film. 

Tawaran pertama datang dari Ratno Timur. Ia diajak bermain di film Kau dan Aku Sayang. Hanya saja itu baru sebatas omong-omong saja.  

Tak lama dia ditawari lagi main di film Sakura dalam Pelukan. Kontrak pun diteken dengan produser Diwandida Film. 

"Secara tidak sadar, aku ingin mencoba bermain film seperti halnya idolaku, Rudy Hartono," akunya. Rudy pernah bermain film Matinya Seorang Bidadari bersama Poppy Dharsono pada 1971.

Nah, untuk beradu akting dengan Eva Arnaz di film itu, King dibayar Rp15 juta. Honor itu besar sekali untuk ukuran waktu itu. "Sebagai perbandingan, Roy Marten dan Yenny Rachman diberi honor Rp6 juta," tulis Adhi Ksp.

Dua bintang film yang namanya disebut Adhi adalah bintang film kesohor ketika itu.

King sendiri rupanya tak begitu mengerti kenapa dirinya mendapat bayaran sebesar itu. "Mungkin juga supaya aku mau bermain di film ini," guraunya.

Main Film

Ilustrasi musik film berklasifikasi 17+ ini ditangani Fariz RM.

Dalam film berdurasi 109 menit itu lakon Santo yang diperankan King terlibat asmara dengan Michiko yang diperankan Eva Arnaz. Sebagaimana di dunia nyata, dalam film ini King alias Santo adalah pebulutangkis.

Namanya orang saling cinta, nyaris beberapakali King dan Eva Arnaz (salah satu bintang panas kenamaan masa itu) melakukan karekanokulukuluk di film garapan sutradara Fritz G. Schadt tersebut.

Dua bulan lamanya King mengikuti syuting di daerah Yogyakarta. "Aku menikmati saja syuting film ini," tutur King, sebagaimana dituliskan Adhi Ksp dalam Panggil Aku King.

"Waktu syuting pertama, aku merasa kaku. Bermain film, ternyata terlalu banyak diatur...kalau di lapangan bulutangkis aku yang mengatur dan mengendalikan, aku yang memutuskan," sambung King.

Sakura dalam Pelukan menjadi film pertama dan terakhir Liem Swie King. Dia mengaku tak cocok di dunia peran.

Sebetulnya, sebelum memutuskan ikut main film, dia sempat dinasehati Rudy Hartono yang sudah lebih dulu berpengalaman.

Ayah dan pelatihnya juga mengkhawatirkan pilihan King. Namun, King tetap pada pendiriannya. Baginya, main film paling tidak bisa menjadi penawar rasa jenuh. 

...aku mengalami titik jenuh dan kebosanan dalam dunia bulutangkis. Bertahun-tahun berlatih di pelatnas tanpa putus-putusnya, aku merasa jenuh. Ini yang sering tidak disadari pengurus PBSI.

Sebelum diskors dan bermain film, King memegang rekor tak terkalahkan selama 33 bulan. 

Belakangan dia menyadari, jarang berlatih selama masa skorsing tiga bulan tersebut mempengaruhi permainannya di kemudian hari. 

Rekor tak terkalahkannya pecah setelah main film. Siapa yang memecahkan rekor King?--bersambung (wow/jpnn) 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tanggal-tanggal Penting dalam Sejarah Terbentuknya TNI


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler