Kisah Kepala Kampung yang Sudah 18 Tahun Belum Lengser

Sabtu, 30 Juli 2016 – 05:07 WIB
Alex Felix. Foto: Radar Sorong.

jpnn.com - UNTUK bertamu ke kampung ini memang bukan hal gampang tapi bukan pula sulit menemukannya. Kampung ini berada di pinggiran hutan yang masih kental dengan pepohonan besar. Kampung Klain yang berada di SP 3, Kabupaten Sorong, Papua Barat.

Suci Dalam Debu, Radar Sorong

BACA JUGA: Petugas Bandara Kualanamu Temukan Sabu 2 Ribu Gram

Jalan setapak hanya cukup untuk dilewati motor. Saat musim hujan jalanannya banyak yang becek, kubangan air di jalan berlubang menjadi pemandangan yang kerap mengundang ekstra kehati-hatian.

Ada banyak cerita unik di kampung ini. Keharmonisan warga, tradisi gotong-royong dan toleransi antar umat beragama terjaga baik. Kebersamaan inilah yang membuat warga di Kampung Klain selalu dikenal ramah dan tak ada masalah.

BACA JUGA: FBB Minta Parpol Tak Usung Cagub Dinasti di Pilkada Banten

Suasana kampung terasa damai dan adem rasanya. Bangunan musala, Pustu, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga, dan Kantor Kampung pun tampak dari ujung jalan. 

Sebuah rumah berdinding tembok bercat hijau muda terlihat tegar di tengah pemukiman warga lainnya. Rumah ini milik kepala Kampung Klain Alex Felix. Senyum dan jabat tangan pun mengawali perkenalan kami pada saat itu dalam suasana hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya.  

BACA JUGA: Berani Banget Bangun Kafe Remang - Remang di Tanah Pemerintah

Pria kelahiran Sorong ini merupakan tokoh penting di kampung Klain. Kepala kampung yang sudah menjabat sejak tahun 1998 sampai saat ini.  tokoh yang didengar dalam memberikan solusi dan pendapat di kampung yang warganya didominasi Suku Moi.

Selama 18 tahun menjadi kepala kampung, ia sebenarnya sudah beberapa kali menyampaikan untuk mengundurkan diri. Tujuannya agar ada warga lain yang menggantikan, supaya memberi sentuhan perubahan di kampung itu. 

“Beberapakali saya mengundurkan diri dan saya mencoba untuk menawarkan kepada masyarakat lain untuk menggantikan saya dan supaya masyarakat juga ada pembaharuan, tapi ternyata tidak ada yang mau dan saya pun harus melanjutkan amanah ini,” katanya dengan senyum dan tawa kecil kepada Radaro Sorong.

Warga kampung Klain merupakan warga yang sangat memprioritaskan dunia pendidikan. Meski bermata pencarian sebagai petani sayuran. Berternak sapi juga ayam. 

“Pendidikan 100% harus dipenuhi dan senua sudah sekolah bahkan sudah banyak yang sudah menjadi pejabat, PNS, dan pekerjaan layak lainnya,” imbuh Alex. 

Perhatian pemerintah terhadap kampung Klain itu pun tak pernah luput. Bantuan yang mengalir berguna untuk beberapa bangunan atau fasilitas yang diperlukan seperti tempat ibadah, pustu, sekolah, kantor pemberdayaan dan jembatan.

Bantuan penerintah dalam dunia pendidikan pun dibanggakan seperti di bangunnya SD dan sekolah Keguruan atau KPG. Malah, rencananya akan dibangun lagi Kampus Nani Billi. “Pemerintah sangat perhatian supaya anak-anak kami ini jika sekolah tidak terlalu jauh dan tidak menambah biaya,” ungkapnya.

Kampung Klain mempunyai dua jalur yang berbeda, satu jalur terdiri dari campuran beragam suku dan satu jalur lainnya hanya terdiri dari satu suku yaitu suku Moi. Warga Kampung Klain ada yang beragama Islam dan ada yang beragama Nasrani.

Kampong Klain yang terletak di Distrik Mayamuk, juga mendapatkan bantuan sapi dari pemerintah yang sebelumnya sudah membentuk kelompok tani. 

”Sapi yang diberikan dan diajukan dari masyarakat mungkin hanya 10 sampai 15 ekor saja nanti setelah sapi di bagikan kewarga dan di pelihara maka pada saat sapi itu melahirkan akan di berikan ke warga yang belum punya sapi,” tuturnya. 

Pria kelahiran 12 September 1972 ini juga menjelaskan mengenai toleransi beragama, bagaimana perbedaan suku, agama tidak dipermasalahkan. Pada saat hari Jumat yang beragama Islam melaksanakan salat Jumat. 

Sedangkan hari Minggu, warga beragama nasrani beribadah di gereja. Selama ibadah, masing-masing warga saling menjaga keamanan. “Kemarin pada saat sebelum bulan Ramadan, saya dan warga mengadakan pertemuan dan membahas mengenai beragam suku di kampung kecil itu untuk menghormati bulan suci ramadhan bagi umat muslim, ibarat islam sedang menjadi tanaman dan kita umat nasrani ini yang berada di luar pagar untuk saling menjaga dan sebaliknya pada saat hari Natal,” bebernya. (**)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Alhamdulillah..Tabung Rumah PKK Pesisir Selatan Disambut Positif


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler