Kisah Saidah, Janda si Guru Mengaji, Hidupi 8 Anaknya

Kamis, 22 Maret 2018 – 00:05 WIB
Saidah, bersama dua anaknya Yusnia (kiri) dan Julistesia (kanan) di rumahnya di RT 20 Kelurahan Sebengkok, Tarakan Barat, Kamis (15/3). Foto: YUSTINA LUMBAA/RADAR TARAKAN/JPNN.com

jpnn.com - Saidah (44), janda yang kini harus membesarkan delapan anaknya. Dia seorang guru mengaji untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya.

YUSTINA LUMBAA - Tarakan

BACA JUGA: Rumah Dirazia, Isinya Lima Janda Berprofesi PSK

DI sebuah rumah yang terletak di RT 20 Kelurahan Sebengkok, Tarakan Barat, Kaltara, hidup seorang janda bernama Saidah dengan delapan anaknya.

Rumah kecil dan sempit, lagi rentan terdampak longsor itu dihuni sejak 2014 lalu. Rumah itu dihibahkan oleh adik Saidah.

BACA JUGA: Ortu Tak Rela Anak Nikahi Janda, Beginilah Jadinya

Di dalamnya hanya ada kamar dan ruang keluarga, dua ruangan sempit. Jika hujan turun, Saidah mau tidak mau harus mengungsi di rumah keluarganya karena takut longsor.

Saidah saat ini bekerja sebagai seorang guru mengaji di daerah tempat tinggalnya. Sebelumnya dia bekerja di perusahaan udang. Juga pernah bekerja di Malinau di sebuah perusahaan roti selama satu bulan.

BACA JUGA: Ririn Ekawati: Tidak Ada Lagi Suami Berikutnya

Pada 2017, dia berhenti bekerja dan mulai untuk mengajar mengaji, alasannya mengejar akhirat.

“Kita tidak boleh untuk mengurus dunia terus, harus ingat juga dunia akhirat. Mengajar ngaji lebih baik karena ikhlas,” katanya.

Saidah dibayar seikhlasnya oleh para orang tua murid mengajinya, bisa Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu. Itu digunakannya untuk kehidupan sehari-hari bersama anak-anaknya.

Saidah sudah lama menjanda, sejak ia bercerai. Sang suami pergi meninggalkannya demi seorang perempuan lain.

Saidah mengajar mengaji dari rumah ke rumah. Karena tidak memiliki kendaraan, maka harus berjalan kaki dari rumah ke rumah.

“Demi anak dan untuk menyebarkan ajaran agama, memang harus bersusah-susah dahulu. Kalau tidak begitu, yah tidak akan bisa hidup,” ujarnya.

Saidah memiliki delapan anak yang saat ini seharusnya semuanya menempuh pendidikan.Tetapi karena keterbatasan ekonomi tiga dari delapan anaknya harus berhenti sekolah.

Anak Saidah yang pertama bernama Ramli (24) saat ini kuliah di Makassar bisa mandiri dengan beasiswa.

Ramli sempat hidup dan tinggal di panti asuhan karena Saidah tidak sanggup membiayai.

“Sempat saya titipkan di panti asuhan selama enam tahun, karena memang saya tidak memiliki biaya untuk merawat dia. Sedih juga dan kasihan, tetapi mau bagaimana lagi,” ungkapnya.

Anak kedua bernama Jumain (22) saat ini juga sedang menempuh pendidikan di Samarinda mengambil jurusan peternakan.

Jumain juga mendapatkan biaya kuliah dari beasiswa bidik misi. Anak yang ketiga bernama Deden (20), keempat Udin (18), kelima Ahmad Muradi (16) saat ini harus putus sekolah.

“Bukannya tidak dapat (bantuan), tetapi lambat. Sudah mereka berhenti, baru bantuan itu datang,” ujarnya. Kini mereka bekerja sebagai tukang bangunan.

Sedangkan Sri Ardayanti (13), Yusnia (11), Julistasia (10) saat ini masih bersekolah. Sri Ardayanti di kelas 6 SD dan akan mengikuti ujian.

Walaupun ketiganya dibantu pemerintah, diakui Saidah bahwa dirinya tetap harus mengeluarkan biaya operasional sekolah, seperti pengadaan buku, dan operasional sekolah yang saat ini memang tidak digratiskan lagi.

“Dari hasil mengaji memang saya cukup-cukupkan saja, mau bagaimana lagi. Ini semua untuk anak-anak saya,” ujarnya.

Dia juga harus rela lama tak jumpa dua anaknya yang masih kuliah di tempat yang jauh. Keduanya juga memiliki keterbatasan ongkos transportasi.

Terlebih lagi, sang anak yang kuliah harus mencicil laptop. Saidah bersyukur bisa melunasinya dengan baik.

Hanya satu yang disesalinya, yakni ada tiga anaknya yang putus sekolah. Padahal sebagai laki-laki harus memiliki pendidikan yang tinggi untuk mendapatkan pekerjaan. Saidah pun berencana mengikutsertakan anaknya dalam ujian paket kesetaraan.

Saidah tak berfikir lagi untuk menikah. Meski harus hidup susah dan menjalaninya sendirian. Bagi Saidah, lebih penting membesarkan anaknya dengan baik, agar mendapatkan kehidupan yang layak di masa depan. (***/lim)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Putra Dedi Mulyadi Bermalam Minggu di Rumah Janda


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler