Kisah TKI di Penjara Malaysia, Komat-kamit, Petugas Terdiam

Senin, 21 November 2016 – 01:29 WIB
Ilustrasi. Foto: JPNN

jpnn.com - PONTIANAK – Apes benar nasib Rosia. Keinginan wanita 41 tahun itu memiliki kehidupan yang lebih baik di Malaysia malah jauh panggang dari api.

Wanita asal Sambas, Kalimantan Barat itu ditangkap Polisi Diraja Malaysia.

BACA JUGA: Pekerjaan di Sektor Perikanan Semakin tak Populer

Dia akhirnya dipulangkan bersama 44 TKI bermasalah lainnya, Jumat (18/11) lalu.

Rosia ditangkap bersama teman-temannya di rumah penampungan.

BACA JUGA: Mantan Suami Ussy Sulistiawaty: Tidak Ada Maaf

Padahal, dia baru bekerja di perkebunan kelapa sawit selama 2,5 bulan.

“Sekitar jam tiga sore saya melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah. Saya kira mobil itu mogok, lalu saya menyuruh teman-teman membantu orang di mobil itu,” kata Rosia sebagaimana dilansir Rakyat Kalbar, Minggu (21/11).

BACA JUGA: Jangan Sampai Membakar Lumbung Kita Sendiri

“Namun, ternyata orang tersebut seorang polisi. Keluar dari mobil, polisi tersebut menghampiri saya dan berpura-pura meminta air. Saat itulah saya dan teman-teman ditangkap dan dibawa ke kantor polisi,” imbuh Rosia.

Rosia akhirnya harus mendekam di penjara selama tiga bulan.

Berbagai perlakuan kasar dari petugas pun sudah menjadi santapan sehari-hari baginya.

Salah sedikit, Rosia bisa langsung dikasari petugas.

“Saya pernah dipukul pakai sandal, hanya masalah sepele. Itu pun bukan karena kesalahan saya, ada penghuni lain menyimpan sikat gigi, dia (petugas) tak berani pukul orang itu, langsung pukul saya,” ungkap Rosia.

Namun, perlakuan kasar itu justru menyulut keberanian Rosia.

Dia mulai tak ragu melawan. Rosia juga berani beradu mulut dengan petugas penjara.

“Saya waktu itu lagi ngucap, dia menghampiri saya lalu dituduhnya membaca mantra. Saat itu saya lawan, dia bilang kamu lawan saya, ya? Saya jawab lawan kamu, tetapi bukan lawan sepadan. Lalu saya jelaskan, bahwa saya bukan baca mantra dan dia pun terdiam,” jelasnya.

Di sisi lain, Rosia mengaku tak melalui agen saat berangkat ke Malaysia.

Menurutnya, banyak TKI yang senasib dengannya.

Padahal, mereka berangkat melalui agen penyalur tenaga kerja.

“Tak tau lah, ke sana lagi apa tidak nanti. Kalau dibilang jera, tidak juga. Saat ini saya mau pulang ke kampung halaman di Tebas,” ujarnya. (amb/jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tahun Depan Butuh 1.000 PNS


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler