KLHK Tunjukkan Penyelamatan DAS Citarum Lewat Teluk Jambe

Sabtu, 09 Februari 2019 – 14:00 WIB
Menteri LHK Siti Nurbaya saat mengunjungi Teluk Jambe Karawang, Jabar. Foto: Humas KLHK

jpnn.com, KARAWANG - Pemerintahan Presiden Joko Widodo berkomitmen secara tegas bahwa hutan dan lingkungan tidak bisa dipisahkan.

Perhatian Presiden Joko Widodo terhadap lingkungan, ditegaskan konkrit dalam Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

BACA JUGA: Jokowi : Jangan Kira Saya Tidak Cek Lagi

Presiden Joko Widodo bertekad, Sungai Citarum harus menjadi contoh untuk pengendalian DAS, perbaikan mutu air dari sungai, dan perbaikan kehidupan masyarakat. 

Hal ini disampaikan Menteri LHK Siti Nurbaya, saat meresmikan Instalasi Pengelolahan Air Limbah (IPAL) Wetland Biocord dan Pencanangan Ekoriparian Citarum-Karawang, di Teluk Jambe, Kabupaten Karawang, Jawa Barat (9/2).

BACA JUGA: 9 Orang Ini Terima Penghargaan sebagai Tokoh Tani Hutan Sosial

"Bapak Presiden Joko Widodo memberikan target dalam tujuh tahun sudah terlihat hasilnya. Secara pararel, hal ini pun akan diterapkan di DAS yang lain karena kita punya 15 sungai prioritas di Indonesia," ujar Menteri Siti.

KLHK juga mengambil peran dalam kegiatan pengelolan sungai ini dengan melakukan rehabilitasi hutan besar-besaran, yakni 10 kali lipat dibanding rata-rata tiap tahun.

BACA JUGA: Jangan Lupa, Pemulihan Daerah Aliran Sungai jadi Tanggung Jawab Bersama

Di daerah hulu, KLHK akan melakukan rehabilitasi lahan kritis seluas 5900 hektar, dan secara nasional tahun 2019 ini akan dilakukan rehabilitasi lahan kritis seluas 207.000 hektar.

Untuk mengendalikan pencemaran, KLHK sudah menetapkan daya tampung beban pencemaran Sungai Citarum.

Kapasitas sungai ini hanya mampu menampung beban pencemaran air limbah sebesar 127,44 ton per hari. Sementara saat ini, limbah yang dibuang sebesar 430,99 ton per hari.

“Saya udah lama khawatir dengan sungai kita. Memang tidak mudah menata tapi kita bekerja keras untuk itu. Perbaikan kualitas air sungai sudah sangat urgent untuk dilakukan. Perbaikan dilakukan melalui penataan regulasi, pembenahan pemanfaatan ruang, pengamanan daerah hulu sebagai daerah tangkapan air, pembinaan dan fasilitasi masyarakat industri, pembangunan sarana dan prasarana pengelolaan limbah dan sampah serta pendidikan lingkungan bagi masyarakat. Kita harus selamatkan sungai-sungai kita,"  tegas Menteri Siti dalam sambutannya.

Menteri Siti juga menyatakan kekhawatirannya karena persoalan lingkungan ini sebelumnya terlalu lama dibiarkan. Oleh karena itu, persoalan ini juga memerlukan solusi integratif antar sektor.

"Saya akan bicara dengan Menteri PUPR, dan Menteri BUMN. Karena BUMN dan swasta juga memiliki perhatian terhadap lingkungan. Oleh karena itu, perlu diselaraskan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada," lanjut Menteri Siti.

Pembangunan (IPAL) Wetland-Biocord ini merupakan upaya penurunan beban pencemaran dari air limbah yang berasal dari kegiatan mandi dan cuci warga (grey water) yang selama ini dibuang langsung ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Sedangkan Ekoriparian adalah kawasan wisata di pinggir sungai dengan konsep edukasi lingkungan.

Dalam laporannya, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) MR. Karliansyah, menyampaikan fasilitas yang sudah dibangun saat ini adalah saung kompos dan jembatan penghubung antara Zona 1 dan Zona 2.

Selain terdapat sarana pengolahan air limbah rumah tangga yang menggunakan wetland serta biocord. Aktivitas lain di Ekoriparian Teluk Jambe diantaranya penanaman tanaman obat keluarga, penanaman pohon endemik, penanaman arboretum bambu, dan budidaya tanaman hidroponik.

Pada kesempatan tersebut, Karliansyah menegaskan masyarakat sebagai ujung tombak dalam peningkatan kualitas air sungai.

Masyarakat berperan penting dalam pengelolaan, pemanfaatan, dan mengembangkan Ekoriparian Citarum Karawang ini secara berkelanjutan.

"Peran aktif masyarakat ini, terwujud berkat komunitas sungai sebagai pilar yang bergerak aktif mengajak, mengedukasi dan memberdayakan masyarakat sangat penting perannya dengan dimotori oleh Sahabat Lingkungan Citarum," ujar Karliansyah Dirjen.

Sementara itu, Direktur Pelaksana KSM Sahabat Lingkungan Hendro memiliki harapan besar terhadap kegiatan ini. "Ada kebanggaan di Bandung dengan Teras Cikapundung. Maka bagi kami, ini adalah kebanggaan kami. Ini adalah Teras Teluk Jambe," kata Hendro.

Diharapkan, keberadaan Ekoriparian dan fasilitas IPAL ini, dapat dimanfaatkan bersama para pemangku kepentingan dalam mendukung aksi nyata kerja bersama dalam perbaikan kualitas air. (adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tenang, Tidak Semua Kawasan Taman Nasional Komodo Ditutup


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler