Komoditas Rebound, Emiten Tambang Diburu

Minggu, 06 Agustus 2017 – 01:28 WIB
Ilustrasi tambang batu bara. Foto: Jawa Pos.Com/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Pelaku usaha di sektor energi optimistis mengakhiri puasa panjang seiring kenaikan harga komoditas.

Sebaliknya, kenaikan yang terlalu tinggi membuat sektor keuangan patut diwaspadai.

BACA JUGA: Fantastis! WN Tiongkok Penjahat Siber Internasional Raup Rp 26 Triliun

Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menuturkan, harga batu bara mulai naik sejak kuartal keempat 2016.

Harganya sempat menembus USD 112 per ton. Namun, kenaikan itu terbukti semu.

BACA JUGA: Sindikat Tiongkok Masuk Indonesia Sebagian Gunakan Visa Turis

Pasalnya, pada akhir November harganya anjlok lagi menjadi USD 80 per ton.

Kenaikan harga batu bara terkait dengan pengurangan jam kerja buruh tambang di Tiongkok.

BACA JUGA: Sindikat Tiongkok Sewa Empat Rumah, Tarifnya…

Karena Negeri Panda tersebut merupakan penghasil batu bara terbesar dunia, persediaan dunia pun berkurang 10–15 persen.

’’Namun, Tiongkok juga konsumen batu bara terbesar dunia. Kalau harga batu bara naik terlalu tinggi, harga listrik di Tiongkok semakin mahal. Jadi, mereka mengubah kebijakan yang membuat pasokan dunia normal lagi,” ucap Hendra.

Meski harganya telah menurun, harga batu bara dunia kini bertahan di USD 70–80 per ton.

Kisaran harga tersebut diprediksi bertahan hingga akhir tahun.

’’Kondisi itu bagus dibanding rata-rata tahun lalu yang bergerak di USD 60 per ton,’’ jelasnya.

Indeks sektor tambang sejak awal tahun telah tumbuh 8,85 persen.

Meski bukan indeks tertinggi, kenaikan indeks sektor energi tertinggi jika dibandingkan dengan sembilan indeks sektoral lainnya.

Kenaikan indeks sektor energi berimbas pada positifnya kinerja emiten pertambangan.

Salah satunya, PT Timah Tbk (TINS) yang nilai penjualannya meningkat 57 persen menjadi Rp 2,05 triliun.

Dalam perdagangan Jumat (4/8), harga saham TINS naik 15 poin menjadi Rp 185 per unit.

Demikian pula PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang mencatat pertumbuhan laba atribusi 142 persen menjadi Rp 1,72 triliun.

Pendapatan PTBA selama semester pertama tumbuh 32,68 persen menjadi Rp 8,97 triliun.

Pada Jumat, harga saham PTBA melonjak 200 poin atau 1,5 persen ke level Rp 13.525 per unit.

Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada meyakini harga batu bara berpeluang naik.

Alasannya, banyak sentimen positif. Antara lain, permintaan tinggi dari Tiongkok, meningkatnya konsumsi di Amerika Serikat, hingga bertambahnya kebutuhan domestik karena pembangkit batu bara baru mulai beroperasi.

Sementara itu, Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang meyakini indeks keuangan akan mencetak kinerja tertinggi tahun ini.

Salah satu alasannya, predikat investment grade dari Standard & Poor's.

Sejak awal tahun, indeks sektor keuangan telah meningkat 20,51 persen di level 978,43.

Namun, karena sudah mencapai titik tertinggi, indeks sektor keuangan, terutama perbankan, patut diwaspadai.

Selain itu, pelaku pasar melihat peluang kebangkitan emiten-emiten sektor energi. (dee/rin/c20/noe)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hikmahanto: Kebijakan Bebas Visa Memang Sangat Bahaya


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
IHSG   batu bara   Tiongkok  

Terpopuler