KPAI Beberkan Data Soal Anak yang Jadi Korban di Aksi 22 Mei

Sabtu, 25 Mei 2019 – 10:15 WIB
Massa Aksi 22 Mei 2019 membakar bus milik Polri. Foto: Dery Ridwansah/JawaPos.com

jpnn.com, JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap temuan mengejutkan soal anak-anak yang menjadi korban kerusuhan 22 Mei.

Mulai ada yang tewas karena peluru nyasar, hingga ada yang masih hilang.

BACA JUGA: Pengakuan Lelaki yang Dikeroyok Brimob Pada Kerusuhan 22 Mei

Hal ini diungkap oleh KPAI setelah dua komisioner KPAI Jasra Putra dan Sitti Hikmawatty, turun ke lapangan pada Jumat (24/5).

BACA JUGA : Irjen Iqbal: Mereka Memang Berniat Berjihad pada 21 dan 22 Mei

BACA JUGA: Viral Video Brimob Hajar Pedemo, Ternyata Ini Faktanya

 

Pertama, ke rumah keluarga anak korban RF (16), di Petamburan Tanah Abang. Sebelum ke lokasi rumah duka Tim KPAI sudah menemui lebih dulu 2  korban anak luka parah yang sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan Jakarta.

BACA JUGA: Irjen Iqbal: Mereka Memang Berniat Berjihad pada 21 dan 22 Mei

"Dari keterangan keluarga korban, didapatkan informasi bahwa RF bukan peserta aksi dan pada saat kejadian, sekitar pukul 02.30 WIB bersama teman-temanya seperti biasa, bersiap untuk membangunkan warga sahur di sekitaran Musala dekat rumahnya," ucap Jasra dalam keterangan tertulisnya yang diterima JPNN.com, Jumat malam.

BACA JUGA : Pengakuan Lelaki yang Dikeroyok Brimob Pada Kerusuhan 22 Mei

Jasra menjelaskan, pagi itu, karena di luar jalan raya terdengar ada keramaian maka RF bersama teman-teman bermaksud mencari tahu kegaduhan yang sedang berlangsung.

Namun, nahas begitu akan keluar gang, RF di duga terkena peluru nyasar di pelipis mata sebelah kiri. Dia roboh seketika.

Selanjutnya, warga mengevakuasi RF dan beberapa temannya yang lain ke musala, tetapi karena luka RF dianggap paling parah, kemudian RF dibawa ke RS Angkatan Laut Mintoharjo dan di sana korban menghembuskan nafas terakhir.

RF adalah putra ke 2 dari 3 bersaudara, orang tuanya berada di luar Jakarta, sementara itu RF tinggal berlibur di rumah pamannya karena keperluan untuk mengurus lanjutan sekolah. RF murid kelas 3 SMP.

Pada takziah ke dua di kediaman almarhum MHR yang lahir tanggal 15 Februari 2004, di dapatkan informasi bahwa orang tua terakhir bertemu MHR sekitar pukul 13.00 WIB, karena yang bersangkutan meminta uang untuk membeli layangan.

Awalnya tidak ada kecurigaan apa pun dari orang tua, karena MHR sudah biasa bermain seperti itu, namun firasat buruk sudah dirasakan ayahandanya, yang sejak siang terus menerus menanyakan keberadaan MHR, sepulang kerja kemudian berinisiatif mencari putranya tersebut ke rumah teman-teman bermainnya, tapi tidak menemukan berita tentang putra satu-satunya itu.

Melalui WAG kemudian disebarkan informasi kehilangan anaknya, orang tua MHR kemudian mendapatkan jawaban untuk mengidentifikasi seorang korban yang sedang berjuang dalam sakaratul maut, yang ternyata adalah benar putranya.

"Saat itu korban berada dalam ambulans menuju RS Darmais, namun karena sampai RS tersebut korban telah menghembuskan nafas terakhir, maka korban langsung di bawa ke RS Bhayangkari.Dalam kunjungan tersebut, KPAI mendapatkan informasi bahwa masih ada beberapa orang tua yang belum bisa menemukan putra putri mereka," ucap Jasra.(fat/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Polri Pastikan Semua Korban Meninggal Merupakan Perusuh Aksi 21 – 22 Mei


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler