Kronologis Tewasnya Warga Diduga Tergilas Water Cannon

Jumat, 28 November 2014 – 02:20 WIB
Tubuh Ari yang tergeletak diatas aspal usai bentrok, disampingnya ada mobil water cannon melaju. (Foto : twitter @passompe_)

jpnn.com - MAKASSAR - Gelombang protes kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (27/11) harus dibayar mahal. Salah seorang yang diidentifikasi bernama Ari atau Muhammad Arif (18), warga Pampang Makassar dikabarkan meninggal dunia.

Rakyat Sulsel (Grup JPNN.com) melaporkan, Ari meninggal dunia karena diduga digilas oleh mobil water canon milik polisi saat mengamankan aksi mahasiswa. Pengamanan ini berujung pada bentrok antara mahasiswa dan polisi.

BACA JUGA: Satpol PP Dipolisikan dengan Tudingan Perusakan Aset

Pihak kepolisian sudah membantah bahwa Ari tewas bukan karena ditabrak mobil water canon. Tapi terinjak oleh warga lainnya saat mencoba melarikan diri. Itu versi polisi.

Tapi mahasiswa juga punya cerita lain. Korban diduga meninggal dunia akibat aksi brutal polisi. Hal itu diperkuat dengan menyebarnya gambar yang memotret kejadian tersebut. (rakyat sulsel/awa/jpnn)

BACA JUGA: Kejaksaan Jebloskan Bupati Waropen ke Lapas Serui

Dari laman resmi Pers Mahasiswa UMI di https://cakrawalaide.com, juga punya cerita sendiri. Berikut kronologis bentrok mahasiswa dan polisi di depan kampus UMI Makassar.


Sebelum bentrokan terjadi, awalnya kasus ini berangkat dari aksi demonstrasi mahasiswa UMI yang menolak kenaikan harga bahan bakar minyak di depan kampus pukul 15.00 WITA.

BACA JUGA: AKBP Idha dan Istrinya Dijebloskan di Rutan Pontianak

Barisan massa mahasiswa ini, menamakan diri mereka Aliansi Mahasiswa UMI Bersatu. Mereka menuntut agar pemerintah mencabut kebijakan kenaikan harga BBM, sekaligus mencopot Kapolda Sulselbar agar turun dari jabatannya.

Mahasiswa yang bergerak dengan tuntutan tersebut, kemudian ke Kantor Gubernur Sulsel dan mendesak agar gubernur menandatangani petisi yang buat untuk tidak sepakat atas kebijakan pemerintah pusat yang menaikan harga BBM.

Namun setelah mengetahui petisi tersebut hanya ditanda tangani Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bukan oleh Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mahasiswa akhirnya marah.

Mereka menganggap tindakan yang dilakukan oleh gubernur merupakan penghinaan terhadap aksi yang awalnya berjalan baik.

Satpol PP yang melihat massa yang tidak kondusif, kemudian bergerak menuju kearah mahasiswa, kemudian ada yang melempar batu. Batu tersebut berasal dari barisan Satpol PP.

Hal ini semakin memperkeruh suasana dan memancing kemarahan mahasiswa. Mahasiswa kemudian membalas, bentrokan pun tak terelakan.

Bentok yang semakin memanas, memaksa satuan Brimob untuk bertindak dan mengejar mahasiswa. Warga yang kebetulan ada dibarisan mahasiswa kemudian terkena tembakan dibagian belakang kepala. Itulah Ari yang kemudian jatuh tak sadarkan diri.

Tak hanya di tembak, water cannon malah menyambar warga yang tergeletak di atas aspal. Lalu beberapa waktu kemudian, Ari dinyatakan telah meninggal dunia di RS Ibnu Sina Makassar.

Aksi ini pun akhirnya berlanjut hingga masuk ke kampus UMI. Polisi menyisir seluruh UMI tak terkecuali Masjid Umar Bin Khatab yang saat itu tengah ramai dikunjungi orang-orang yang menanti shalat isya. Polisi juga menembakkan gas air mata kedalam masjid.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sumut Gondol Lima Penghargaan di Bidang Kesehatan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler