Langka, Eko Patrio Minta Pemerintah Genjot Produktivitas Tanaman Kedelai

Selasa, 22 Februari 2022 – 06:31 WIB
Anggota Komisi VI DPR RI Eko Patrio meminta pemerintah mendorong produktivitas kedelai di dalam negeri. Foto: Firda Junita/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Eko Hendro Purnomo atau Eko Patrio menyebut Indonesia seharusnya mendorong produktivitas kedelai di dalam negeri sehingga tidak bergantung dengan impor.

Pasalnya, Indonesia menjadi negara terbesar kedua untuk konsumsi kedelai, sehingga aneh jika komoditas itu berasal dari negara luar.

BACA JUGA: Duh! Ekonom Khawatir Harga Kedelai Picu Kenaikan Komoditas Lain

Eko mengatakan itu demi menanggapi alasan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi yang menyebut melonjaknya harga kedelai dipicu La Nina di kawasan Amerika Selatan dan kebutuhan pakan miliaran babi di China.

"Saya sepakat bahwa kita sebagai konsumen terbesar kedua di dunia untuk kedelai perlu segera mendorong agar produktivitas tanaman kedelai di dalam negeri meningkat," kata legislator Fraksi PAN itu melalui layanan pesan, Senin (21/2).

BACA JUGA: Mendag Sebut Babi di China Bikin Kedelai Langka, Rizal Ramli: Ngeles kok Asal!

Menurut Eko, perlu ada kebijakan politik agar produktivitas kedelai dalam negeri meningkat. Misalnya, Indonesia perlu memberikan insentif kepada petani untuk menanam kedelai. 

Sebab, kata dia, sekarang ini petani kedelai menghadapi biaya yang tinggi jika mereka menanam komoditas itu di dalam negeri.

BACA JUGA: Harga Kedelai Melambung, Perajin Mogok Produksi, Pasar Jaya Janji Cari Solusi

"Lihat, deh, kita saja sekarang impor kedelai 5,000 ton dari Malaysia. Seharusnya kita introspeksi," beber Eko.

Sebelumnya, Muhammad Lutfi menyebut terdapat beberapa faktor yang membuat harga kedelai dunia melonjak, salah satunya yakni terjadi La Nina yang sangat basah di Argentina dan Amerika Selatan. 

Kondisi itu menyebabkan suplai kedelai menjadi sangat terbatas, sehingga harga menjadi naik.

Selain itu, terdapat restrukturisasi dari peternakan binatang di China. Negara tirai bambu itu kini membuat kebijakan bahwa lima miliar babi diberi makan kedelai.

"Jadi,permintaannya sangat tinggi menyebabkan harga sangat tinggi. Nah, ini yang menyebabkan harga kedelai di Indonesia juga tinggi," ujar Lutfi dalam keterangan persnya, Kamis (17/2).

Di sisi lain kebutuhan dalam negeri cukup tinggi, yakni sebanyak tiga juta ton tahun, namun pasokan kedelai domestik baru mencapai 500 ribu sampai 750 ribu ton per tahunnya. 

Dengan demikian, 80-90 persen dari kebutuhan nasional masih diimpor dari sejumlah negara. (ast/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur : Elvi Robia
Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler