Legislator PDIP Mulai Bicara Wacana Legalisasi Ganja Medis

Rabu, 29 Juni 2022 – 13:26 WIB
Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo. Foto: Ricardo/JPNN.com.

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo mulai berbicara soal wacana legalisasi ganja medis.

Legislator dari Fraksi PDI Perjuangan mengingatkan bahwa wacana tersebut dapat menuai kontroversi di tengah masyarakat.

BACA JUGA: Desakan Legalisasi Ganja untuk Medis Mencuat, Mabes Polri Buka Suara

Karena itu harus disikapi dengan penuh kehati-hatian, agar tidak salah langkah.

Rahmad juga menyebut kalaupun pada akhirnya penggunaan ganja untuk pengobatan dilegalkan, itu bukan karena latah mengikuti tren dunia, tetapi benar-benar berdasarkan kajian yang komperhensif.

BACA JUGA: Ssst, Aspirasi Legalisasi Ganja untuk Medis Diterima Komisi III DPR

"Harus berhati-hati menyikapi wacana ini, bukan latah."

"Artinya, sebelum ganja medis dilegalkan, terlebih dahulu dilakukan kajian komperhensif yang melibatkan segala unsur terkait, khususnya para medis, psikolog," ujar Rahmad dalam keterangannya, Rabu (29/2).

BACA JUGA: DPR Akan Mengkaji Legalisasi Ganja untuk Medis

Politikus asal Boyolali, Jawa Tengah ini lebih lanjut menyatakan perlu ada pengawasan yang sangat ketat, jika nantinya setelah ada kajian menyatakan ganja benar-benar aman untuk kepentingan medis.

"Tentu saja ganja hanya digunakan untuk pengobatan."

"Di luar kepentingan medis, misalnya, penyalahgunaan ganja, penanaman ganja, tetap dilarang. Karena itu kalau ganja medis diizinkan, aturannya harus diikuti pengawasan yang ketat,'' ucapnya.

Rahmad dalam pandangannya tetap mengingatkan bahwa penggunaan ganja sampai saat ini masih dilarang, baik itu untuk kepentingan medis.

" Ya, saat ini amanat rakyat yang tertuang dalam undang-undang masih melarang penggunaan ganja medis."

"Tentu saja semua harus menghormati aturan tersebut. Harus dikawal bersama-sama," kata Rahmad.

Rahmad mewanti-wanti, jangan sampai setelah penggunaan ganja medis dilegalkan, penanaman dan penjualan ganja makin marak, seperti yang terjadi di sejumlah negara saat ini.

“Ganja nilai ekonominya tinggi, bisa jadi banyak orang yang mendadak menjadi petani ganja. Tidak ada lagi petani yang menanam sayuran dan buah-buahan,” katanya.

Rahmad kemudian mengingatkan rilis terbaru United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) yang melaporkan angka gangguan mental hingga bunuh diri meningkat akibat konsumsi ganja di dunia terus bertambah.

“Rilis WHO menyebutkan makin banyak warga depresi dan bunuh diri akibat maraknya pelegalan ganja di banyak negara. Kondisi ini harus menjadi perhatian, jangan hanya terbuai nilai ekonomi terjadi kemunduran generasi,” pungkas Rahmad.(gir/jpnn)


Redaktur & Reporter : Kennorton Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler