Leonowens S.P., Penulis 30 Buku Karya Sastra dalam Setahun

Kirim Naskah Harus Turun Gunung Sejauh 125 Km

Minggu, 03 Oktober 2010 – 08:12 WIB
Foto: Jawa Pos/dok

Berada di atas gunung dengan fasilitas minim tidak membuat Leonowens S.Ptinggal diam

BACA JUGA: Perdana Kartawiyudha; Berprestasi ke Inggris berkat Piawai Menulis Naskah Film

Berkat kerja kerasnya, pria 33 tahun itu sukses mencetak rekor Muri (Museum Rekor Dunia Indonesia) sebagai penulis buku sastra terbanyak dalam setahun
Dia mampu melahirkan 30 buku sastra pada 2009-2010.
-------------------------------------
AGUS WIRAWAN, Jakarta
--------------------------------------
Hidup bersama alam telah menjadi cita-cita Leonowens S.P

BACA JUGA: Kisah Ibu-Ibu yang Menjadi Korban Arisan Piau di Tambora

Meski terlahir dan besar di kota metropolitan, anak pertama dari pengusaha di Jakarta ini memilih tinggal di pegunungan agar bisa menikmati keindahan alam


"Saya mencintai keasrian yang masih tersisa di bumi Nusantara ini, sedangkan saudara-saudara saya memilih tinggal di Kanada," ujar Leon, panggilan Leonowens, melalui surat elektroniknya pekan lalu

BACA JUGA: Bayi Lahir Saat Rusuh, Mau Diberi Nama Konflik



Keinginan itu terwujud setelah dia bekerja di perusahaan agribisnis sebagai public relation managerDia harus tinggal di ladang perkebunan luas di pegunungan Pematang Siantar, Sumatera Utara, sejak empat tahun lalu.

Lokasi ladang itu sangat jauh, sekitar 125 kilometer dari MedanTak ayal, Leon harus bersusah payah "turun gunung" jika ingin melakukan aktivitas peradaban modern, seperti berinternet atau berbelanja di supermarket

"Kalau mau ngirim e-mail atau memperbaiki komputer yang rusak, ya harus ke Medan yang ditempuh seharian dengan perjalanan darat," kata peraih The Best Writer Nederlands 2007 itu.

Selain terpencil, di rumah Leon, sinyal telepon seluler tidak selalu adaKarena itu, dia lebih suka menggunakan SMS untuk berkomunikasi dengan teman-temannyaTak heran, ketika ingin mengirimkan esai, solilokui, puisi, prosa liris, aforisme, artikel lepas, atau monolog ke media atau penerbit, Leon harus turun gunungDia mesti ke Medan untuk mencari internet"Dan, naskah harus saya ketik rapi terlebih dahulu baru saya bawa ke Medan untuk dikirim via e-mail," lanjutnya.

Tidak hanya soal internetLeon kadang juga terganggu oleh listrik di tempatnya bekerja yang tiba-tiba padam saat dia sedang asyik-asyiknya menulis di komputerSegala sesuatunya menjadi sulit karena fasilitas telekomunikasi yang terbatas

Pada 2006 dan 2007, saat teknologi internet belum semodern sekarang, dia pernah mendapati pengalaman burukE-mail berisi naskah buku-buku yang dikirimkannya ke penerbit di-hack (jebol) orang lain"Naskah saya dihambur-hamburkan ke milis-milisSaya betul-betul sedih," ujarnya

Leon pun terpaksa merevisi ulang naskah-naskah siap terbit tersebutMaka, mau tidak mau, Leon harus naik turun gunung untuk mengirimkan naskahnyaMeski begitu, dia tidak pernah menyerah dengan kondisi itu"Memang dibutuhkan tekad dan kesabaran untuk terus menulis dan berkaryaSejarah menunjukkan, hanya orang-orang yang memiliki tekad kuat yang akan dapat menembus rintangan apa pun, bahkan yang melampaui batas nalar kita sendiri," ungkapnya.

Pada 2009 hasrat menulisnya semakin menggebuDalam sebulan Leon bisa melahirkan 2"3 buku dengan topik dan isi yang berbedaMisalnya, trilogi Karmakala, Ragakala, dan ArcakalaDia juga membuat trilogi buku yang lain, yaitu Kandelar, Genevieve, dan Saint LeonSebagian buku karya Leon menitikberatkan bangunan logika pemikiran, sebagian lagi pada perasaan atau seni mengelola perasaan.

Dia tidak ingin menyia-nyiakan setiap ide yang muncul di benaknyaKarena itu, begitu mendapatkan gagasan, dia langsung mewujudkannya di komputer"Saya lebih mengutamakan kualitas tulisan daripada kuantitas buku yang saya ciptakan," tutur pria yang masih betah melajang itu.

Peraih Anugerah Sastra Indonesia 2009 itu mengakui bantuan teman-temannya di komunitas sastra sangat mendukung dalam upayanya meraih prestasi"Mereka membantu dalam banyak hal, seperti dorongan, perbandingan, kritik sastra, ulasan, publikasi, informasi, dan tahapan teknis lainnya," tambahnya.

Tentang rekor Muri yang dicatatnya pada 7 Agustus 2010, Leon mengaku tak pernah memikirkannyaYang ada dalam pikirannya hanya menulis dan menulisMenurut dia, penghargaan Muri hanya simbolisasi dari suatu tindakan yang bermanfaat di bidang sastra"Mencerdaskan masyarakat Indonesia dengan realitas kemajemukannya adalah tanggung jawab setiap penulisSejarah mencatat pentingnya sastra sebagai alat pembudayaan manusia," ujarnya.

Sejak berusia 19 tahun Leon mulai menikmati sekaligus membuat karya-karya sastraNamun, dia belum merasa maksimalKarya-karyanya masih harus berproses hingga menuju bentuk yang ideal dan logis"Kematangan dalam tulisan hanya dapat dinilai dan diapresiasi pada ruang publikTahap perjalanan usia adalah proses dan kualitas karya merupakan hasil proses itu," sambungnya.

Buku-buka karya Leon tidak hanya dijual di pasar dalam negeri, tetapi sudah merambah pasar Malaysia, Singapura, Brunei, Tiongkok, Taiwan, Kanada, bahkan Eropa dan AmerikaHingga kini dia sudah menghasilkan 50 buku karya sastra

"Banyak penulis berbakat di Indonesia, sayang pemerintah belum mendukung upaya untuk go internationalSeharusnya pemerintah menyediakan penerjemah gratis untuk memasarkan karya-karya mereka di luar negeriIni salah satu problematika dasar yang dialami penulis Indonesia," sebutnya.

Kini, pria kelahiran Jakarta, 7 Desember 1977, ini memiliki kesibukan baruSejak sekitar dua bulan lalu, Leon membuka layanan SMS premium yang mengirimkan kata-kata cinta"Ini kali pertama sebuah karya sastra bisa dinikmati melalui SMS premium," ucapnya bangga.

Awalnya, Leon mendapat tawaran dari sebuah perusahaan penyedia konten (content provider)Idealnya, setiap hari Leon mengirimkan sebuah puisi cinta ke website perusahaan tersebut yang selanjutnya disebar ke para penggemarnyaNamun, karena faktor geografis, Leon terpaksa mengirim puisi-puisinya untuk sebulan"Sampai sekarang saya nggak tahu berapa orang yang sudah daftar menjadi pelanggan SMS kata cinta dari saya itu," ungkapnya.

Mengenai SMS premium itu, Leon berdalih hanya untuk menaklukkan zamanPasalnya, banyak hasil karya sastra Indonesia yang sulit diperoleh dan dinikmati masyarakat umum, khususnya masyarakat yang kurang peduli terhadap pentingnya budaya membacaKarena itu, harus ada terobosan baru"Kita harus menggunakan kemajuan teknologi untuk memajukan dunia sastra Indonesia," jelasnya(*/c2/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Whistle Blower Agus Condro setelah Ditetapkan sebagai Tersangka


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler