Lima Hal agar UKM Bisa Naik Level

Senin, 06 April 2015 – 12:32 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Sudah saatnya pelaku usaha kecil menengah (UKM) meningkatkan level usahanya ke kelas yang lebih tinggi. Baik dari sisi kinerja bisnisnya, pendapatan, layanan pelanggan hingga kualitas produknya.

Pasalnya, perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan segera diberlakukan akhir tahun 2015. Founder dan CEO Bukalapak, Achmad Zaky, mengatakan, hanya mereka memiliki keunggulan kompetitif yang akan mampu bertahan dan bersaing di tingkat regional.

BACA JUGA: Ingat, Harga-harga Mahal Bisa Picu Pergolakan Sosial

“Ini menjadi PR kita semua bagaimana mendorong UKM-UKM yang ada di Indonesia mampu naik kelas sehingga mampu bersaing secara kompetitif,” ujar Achmad Zaky di Jakarta,  (6/4).

Diingatkan, secara historis UKM di Indonesia merupakan pemain utama dalam aktivitas ekonomi di dalam negeri, dimana UKM memberikan kesempatan kerja yang besar bagi penduduk Indonesia. UKM juga merupakan sumber pendapatan utama maupun sekunder bagi banyak rumah tangga di Indonesia.

BACA JUGA: Dampak Kenaikan BBM Belum Hilang, TDL Naik Mei?

Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa lebih dari 99 persen perusahaan di Indonesia adalah UKM dengan pertumbuhan cukup signifikan, sebesar 2,41 persen menjadi lebih dari 55,87 juta UKM pada 2011-2012. UKM juga memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB Indonesia, sebesar 59 persen dan kontribusi terhadap lapangan pekerjaan sebesar 97 persen.

Di sisi lain, UKM juga telah banyak membantu kelompok masyarakat termasuk perempuan, minoritas, dan kelompok yang kurang beruntung lainnya. Meski demikian, Zaky melihat ada beberapa hal yang harus dilakukan para pelaku UKM untuk berbenah agar bisa naik kelas.

BACA JUGA: Bangun Pabrik Semen di Papua, Bupati: Ini Seperti Jodoh

Tidak harus seperti korporasi besar, tapi berada di level menengah dengan jumlah karyawan cukup dan omzetnya miliaran rupiah sehingga pendapatannya mencapai ratusan juta rupiah.

Menurut Zaky ada lima hal agar UKM bisa terus berkembang, yaitu dream atau passion, focus, target & goal, dream team, dan competitive advantage.

Dikatakan, dream (mimpi) dan passion adalah dua hal yang bisa membuat performance bisnis tetap tumbuh secara konsisten (steady grow) sekaligus menyelamatkan bisnis ketika kondisi bisnis naik-turun tak menentu.

Zaky telah membuktikannya ketika membangun Bukalapak dari bisnis di sebuah garasi, kemudian berkembang hingga sebesar seperti sekarang ini.

"Dream dan passion ini pula yang membuat bisnis Bukalapak tumbuh secara eksponensial, hingga terakhir mendapatkan investasi ratusan milyar dari Grup Emtek. Bahkan, beberapa top seller di Bukalapak juga tumbuh secara eksponensial karena mereka memiliki dream dan passion,” ujarnya.

Pelaku UKM juga harus fokus. “Banyak UKM-UKM di Indoneia, bisnisnya tetap kecil karena mereka tidak fokus. Ini menjadi penyakit yang banyak menghinggapi UKM-UKM di tanah Air,” ucapnya.

Alumni Teknik Informatika ITB ini menekankan bahwa fokus sangatlah penting. Zaky merasakan kegagalan saat membangun bisnis karena dirinya tidak fokus. “Begitu saya memutuskan fokus pada satu bidang saja, yakni Bukalapak, semuanya menjadi lebih baik dan jauh lebih kompetitif. Ini harusnya juga menjadi pakem bagi UKM-UKM yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Dalam perkembangannya, terutama untuk mendorong agar bisnis terus tumbuh, kata Zaky, para pelaku UKM harus menetapkan target atau goal, baik itu bulanan, semesteran maupun tahunan. Hal ini telah dia lakukan ketika Bukalapak memperoleh suntikan dana segar dari investor Gree Venture Jepang.

Investor Jepang ini sangat detil. Dia mulai menetapkan target dan goal untuk bisnis Bukalapak serta menerapkan tracking KPI melalui tim khusus Data Sight untuk mentrack semua perkembangan bisnis Bukalapak day by day. “Hasilnya, sangat positif. Bisnis Bukalapak menjadi lebih tajam dan kompetitif,” ujarnya.

Zaky memberi catatan khusus bahwa untuk memperkuat goal dan target yang telah ditetapkan ini, harus didukung dengan upaya mengubah paradigma dan melakukan benchmarking. “Benchmark Bukalapak saat ini adalah Alibaba, Amazon dan online dunia lainnya. Saya track angka-angka penjualannya, cara mereka jualan, hingga teknologi yang dipakai. Ini semata-mata agar kami bisa mengikuti dan mengimbanginya,” ujarnya.

Yang tak kalah penting, kata Zaky para pelaku UKM juga harus memiliki dream team untuk membesarkan bisnisnya. “Orang-orang yang masuk dalam dream team ini harus memiliki karakter, kompetensi dan keterikatan yang mendalam untuk memperkuat tim. Jika tidak ada itu, maka lupakan adanya dream team,” ujarnya.

Bukalapak saat ini, kata Zaky telah memiliki dream team yang dibangun secara konsisten sejak awal. Dari dua orang, lalu bertambah jadi enam orang, bertambah 10 orang yang kini mencapai 90 orang karyawan. “Dampaknya lainnya, dari nol pengunjung, kini sudah hampir 1 juta pengunjung ke Bukalapak setiap harinya. Ini merupakan buah dari kerjasama tim,” tegasnya.

Meski demikian, Zaky mengingatkan bahwa para pendiri suatu saat tidak boleh lagi berada di posisi sebagai pasukan. Mereka harus menjadi jenderal yang memikirkan terus-menerus bagaimana bisnis ini bisa tumbuh, tumbuh dan tumbuh.

Jika keempat hal di atas dijalankan secara konsisten dan sungguh-sungguh, kata Zaky, bisa dipastikan bisnis tersebut telah memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage). Dengan kata lain, meski tidak ada aktivitas, bisnis tersebut bisa jalan, bisa memberi keuntungan dan tumbuh.

“Keunggulan ini juga membuat brand image semakin kuat, skala bisnis menjadi besar dengan market semakin spesifik, customer service semakin baik dan memiliki long experience. Hal-hal ini merupakan kunci untuk membuat UKM-UKM naik kelas,” pungkasnya. (rl/sam/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Semuanya Naik, Ini Berbahaya!


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler