'Lockdown' berkepanjangan tidak menyurutkan semangat warga senior asal Indonesia di Melbourne untuk tetap beraktivitas. 

Keharusan tinggal di rumah selama pandemi yang ditetapkan Pemerintah Negara Bagian Victoria bukan jadi halangan bagi Sitti Mulia, berusia 80 tahun, untuk tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan secara daring.

BACA JUGA: Tingkat Kasus Positif COVID di Indonesia Terendah Minggu Ini Sejak Maret 2020

"Untuk saya sih sebenarnya sibuk juga, seperti hari-hari biasa. Saya ikut UTA [University of Third Age], ini sekolah untuk nenek-nenek," ujarnya kepada wartawan ABC Indonesia Farid M. Ibrahim.

Tante San, panggilan Sitti Mulia, mengikuti pelajar dari sekolah tersebut lewat Zoom.

BACA JUGA: Ilmuwan Coba Memahami Bagaimana Beberapa Orang Bisa Mengingat Pengalaman ketika Mati Suri

"Kebetulan saya ikut pelajaran exercises (olahraga), seperti Taichi dan Zumba, dua kali seminggu," tambahnya.

Tante San pertama kali tiba di Australia tahun 1972 bersama suaminya, Sahuri Mulia, yang saat itu bekerja di ABC Radio Australia.

BACA JUGA: Perbasi Siapkan Tim Terbaik Demi Turun di Dua Ajang Bergengsi

Selain pelajaran olahraga, dia juga sebenarnya ikut kelas bahasa dan piano di UTA. Namun, kelas bahasa dihentikan untuk sementara karena keterbatasan pengajar.

"Sejak sebelum pandemi saya ikut semua kelas ini. Waktu itu saya datang langsung ke kelas, ketemu teman-teman yang lain," jelasnya.

Tante San juga secara rutin mengikuti kegiatan yang digelar oleh komunitas Indonesia. Salah satunya, mengaji Al Quran bersama, melalui program 'one day one juz'.

"Ini semua untuk mengisi waktu sebenarnya. Jadi pandemi ini bagi saya tidak begitu berpengaruh. Malah kadang saya merasa kewalahan," tuturnya.

Ia menceritakan, kegiatan pengajian komunitas Indonesia itu seringkali memberikan pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan dalam waktu 24 jam.

"Kalau tidak selesai, ya kita akan ketinggalan," katanya.

Di tengah kesibukannya saat 'lockdown', ada satu hal yang tetap membuatnya tidak terlalu bahagia.

"Sudah hampir tiga bulan lamanya saya tidak ketemu cucu," ujarnya. Masih aktif mengajar Bahasa Indonesia

Tiba dan menetap di Australia sejak tahun 1970, perempuan kelahiran Jakarta, Nani Pollard, kini tinggal sendiri di kawasan Carlton, tak jauh dari pusat Kota Melbourne.

Sebelum pensiun pada tahun 2017, Nani berprofesi sebagai dosen Bahasa dan Sastra Indonesia pada Melbourne University sejak tahun 1994.

Ia juga salah satu penulis buku mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk tingkat sekolah menengah di Australia.

Nani mengatakan ia merasa 'lockdown' selama pandemi tidak terlalu menjadi masalah baginya.

"Karena kita harus mengikuti peraturan pemerintah. Memang tatanan hidup kita akan berubah sedikit. Tapi karena kita sudah tua ya, tidak selalu menginginkan harus keluar rumah," ujar Nani.

Sebaliknya ia justru mengapresiasi sejumlah kebijakan Pemerintah Victoria yang tetap memperhatikan kebutuhan kaum lansia.

"Misalnya, karena saya tidak tinggal dengan anak saya, dia tetap masih bisa datang sebagai carer (pengasuh). Kalau saya ada apa-apa, saya telepon dia dan dia boleh datang," tambah mantan pembawa acara di TVRI Pusat ini.

Nani menjelaskan, layanan 'essential care' dari pemerintah juga tersedia, termasuk jasa 'cleaner' atau pembersih bagi lansia yang tinggal sendirian dan bukan di panti, jika dibutuhkan.

"Itu belum pernah saya coba, karena saya masih kuat lah," ujar Nani.

Ia menceritakan pernah saat kamar mandi di rumahnya bocor, ia kemudian mendatangkan pekerja untuk memperbaikinya, setelah berkonsultasi dengan pengelola gedung.

"Jadi banyak hal yang tetap diizinkan semacam itu. Misalnya juga medical. Kita tidak usah keluar rumah kalau misalnya mau dites, kita bisa minta sebagai senior," ucapnya.

"Kalau saya sendiri masih bisa naik Uber, taksi, atau naik tram," tambahnya.

Untuk keperluan ke dokter, Nani memutuskan untuk selalu berjalan kaki, meski sebenarnya sebagai warga senior dia bisa memanggil dokter ke rumahnya.

"Ini bagus juga buat exercise. Kita harus sehat, karena kita hidup di negara Australia dan tidak punya pembantu," ujarnya.

Nani yang kini masih aktif di organisasi Australian Indonesian Association of Victoria (AIA), punya seorang anak yang sudah berkeluarga. Namun ia mengatakan tidak mau merepotkannya. 

Selain mengajar Bahasa Indonesia untuk komunitas Australia di Melbourne setiap minggu, satu bulan sekali Nani ikut rapat bersama AIA yang dilakukannya melalui Zoom.

Selain itu, dia juga sibuk menyiapkan 'newsletter' untuk organisasi ini, termasuk memeriksa bahasanya sebelum diterbitkan.

"Jadi memang banyak sekali pekerjaan yang mengharuskan saya diam di rumah," katanya.

Sama seperti Tante San, Nani juga tidak bisa bertemu muka dengan kedua cucunya di saat 'lockdown'.

"Saya tidak bisa memeluk mereka. Karena bagi kita orang Indonesia itu kan, memeluk mereka itu buat saya sangat penting," katanya.  Merasa lebih baik setelah berhenti nonton TV

Ningsih Joyce Angko-Millane, usia 66 tahun, yang tinggal bersama anaknya yang masih remaja di pinggiran Kota Melbourne, mengaku sempat merasa bingung dan stress dengan 'lockdown' yang berkepanjangan.

"Sekarang saya merasa sudah baikan setelah dua minggu tidak nonton TV," ujarnya.

"Sebelumnya, saya jadi suka marah-marah, sempat bingung, setelah melakukan sesuatu terus mau bikin apa lagi?" kata Ningsih, guru Bahasa dan Budaya Indonesia.

Melihat kondisi ibunya, dua anaknya yang lain menyarankan agar Ningsih berhenti dulu nonton TV, terutama siaran berita pandemi COVID. 

"Mereka membawakan buku mewarnai. Saya selalu mengisi waktu dengan menggambar," ujar guru pada sekolah dasar Derrimut Catholic Primary School ini.

Selain itu, bila cuaca mendukung, Ningsih membawa laptopnya ke halaman belakang rumah untuk melakukan pekerjaan secara daring.

"Kerja di luar ruangan rasanya lebih enak, pikiran saya jadi terbuka," katanya.

Pembina salah satu sanggar tari tradisional Indonesia ini tiba di Australia pertama kali pada Agustus 1987, untuk mengikuti kegiatan pameran di Gold Coast.

Setelah kegiatannya berakhir, seorang temannya mengajak dia ke Melbourne dan di kota ini dia bertemu dengan Steven Millane yang kemudian menjadi suaminya.

Aturan 'lockdown' yang masih membolehkan salah seorang anggota keluarga untuk berkunjung, dimanfaatkan oleh kedua anaknya Ningsih yang sudah berkeluarga untuk datang secara bergantian.

"Seperti kalau saya ingin ke dokter, salah satu anak saya akan menemani," katanya.

Sebagai pemilik sanggar tari, Ningsih tetap menggelar latihan tari untuk murid-muridnya setiap hari Kamis secara daring.

Dia juga ikut tari Bali dengan pelatih di Bali sekali seminggu lewat Zoom.

"Saya selalu kontak dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia hampir setiap hari," tutur Ningsih, yang mengatakan delapan orang anggota keluarganya di Indonesia meninggal dunia akibat COVID. Butuh untuk ditemani ngobrol

Tidak semua warga lansia tetap aktif selama masa pandemi dan lockdown.

Menurut Pattisahusiwa Azizah, seorang carer (pengasuh) untuk warga senior, kadang ada klien yang menunggunya karena butuh untuk ditemani ngobrol.

Dia menyebutkan, kliennya kebanyakan orang Australia keturunan Eropa dan hanya satu warga senior keturunan Tiongkok yang pernah ditanganinya.

Dari 12 klien berusia 70 tahun ke atas yang ditanganinya saat ini, dia menyebut sebagian besar di antaranya sebenarnya masih memiliki keluarga.

"Kadang bila anaknya ingin istirahat dan pergi belanja atau ingin punya me time, kami akan datang untuk menjaga orang tuanya," ujar Azizah.

Selama lockdown, kebanyakan klien Azizah tak lagi bertemu langsung dengan anak-anaknya. Alasan utamanya, mereka takut jangan sampai membawa virus ke orang tuanya.

Akhirnya, para lansia ini menumpukan harapannya pada pengasuh.

"Pandemi begini, harapan orang tua yang tinggal sendirian hanyalah pada carer semata, untuk ditemani ngobrol. Kedatangan kami selalu dinanti-nantikan," kata Azizah.

Azizah mengaku belum pernah menemukan klien warga senior dari Indonesia.

Padahal, warga senior yang berstatus penduduk tetap atau warga negara Australia bisa mengakses dukungan carer dari pemerintah.

"Saya pernah sampaikan hal ini ke teman orang Indonesia, tapi tetap saja mereka lebih suka merawat sendiri orang tuanya," katanya.

Simak artikel menarik lainnya dari ABC Indonesia.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Prof Jimly: Ini Pendidikan Penting buat Umat Islam di Indonesia

Berita Terkait