Malanutrisi Cabut Nyawa Bocah Yaman

Sabtu, 03 November 2018 – 20:20 WIB
Kamp penampungan korban perang di Provinsi Hajjah, Yaman. Foto: The New YorkTimes

jpnn.com, ADEN - Pekan lalu, Amal Hussain mencuri perhatian dunia. Bocah 7 tahun asal Yaman yang mengidap malanutrisi parah itu tergolek lemah di pembaringan.

Tatapan matanya yang kosong serta tubuh ringkihnya yang tinggal tulang dan kulit abadi dalam jepretan kamera Tyler Hicks, jurnalis The New York Times (NYT). Kamis (1/11) putri Mariam Ali itu menutup mata untuk selama-lamanya.

BACA JUGA: Nah Lho, Amerika Minta Saudi Berhenti Membantai Warga Yaman

"Hati saya pilu," kata Ali dalam wawancara telepon dengan NYT.

Dia merasa sangat kehilangan. Di matanya, Amal adalah anak yang periang. Setiap hari, dia pasti memamerkan senyumnya kepada sang ibu. Padahal, kondisinya sangat memprihatinkan. Dia terpaksa meninggalkan rumah sakit di tengah-tengah perawatan karena orang tuanya kehabisan uang.

BACA JUGA: Yaman di Ambang Bencana Kelaparan Terparah dalam Sejarah

Sejak meninggalkan Klinik Kesehatan Aslam di Kota Hajjah pekan lalu, Amal dirawat di tempat tinggal keluarganya. Bukan rumah, melainkan tenda.

Selama ini, Ali dan anak-anaknya memang tinggal di salah satu tenda yang ada di perkemahan pengungsi Hajjah. Jarak lokasi itu dengan klinik kesehatan berkisar 6,4 kilometer.

BACA JUGA: Brutal, Saudi Kembali Bikin Yaman Banjir Darah

"Sekarang, saya mengkhawatirkan anak-anak saya yang lain," ujar Ali.

Selain Amal, dia punya anak yang juga mengidap malanutrisi. Di Yaman, ada ratusan ribu anak yang mengalami busung lapar.

Perang berkepanjangan yang berlangsung sejak 2011 membuat lumbung pangan negara itu kosong. Anak-anak tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.

Mereka yang dilarikan ke rumah sakit atau klinik kesehatan rata-rata sudah berada dalam kondisi parah. Oleh paramedis, mereka lantas diberi asupan nutrisi via slang infus. Mereka juga diberi susu.

Namun, dalam kasus Amal, berapa pun banyak susu yang diberikan selalu dimuntahkan kembali. Itu terjadi karena sistem pencernaannya sudah terganggu.

"Lihat, hanya ada tulang. Tak terlihat daging," ujar Mekkia Ahdi, dokter Amal, saat Hicks menjumpainya pekan lalu. Dokter muda itu putus harapan. Dia tidak yakin Amal bisa bertahan. Dan, ramalannya benar.

Sebenarnya, menurut Ali, mereka sudah berusaha memindahkan Amal ke rumah sakit milik Doctor Without Borders. Di sana, Amal bisa mendapatkan perawatan cuma-cuma. Jarak rumah sakit itu kira-kira 8 kilometer dari Aslam.

Sayang, jarak itu terlalu jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki. Apalagi, sambil membopong Amal dan menggandeng anak-anak Ali yang lain. Ali yang baru sembuh dari demam berdarah tak sanggup. (bil/c17/hep)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Alhamdulillah, Akhirnya Arab Saudi Mengaku Salah


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler