'Malaysia' Itu hanya Meniru Jaket dan Helm

Selasa, 07 Juli 2015 – 11:01 WIB
CEO Go-Jok Nadiem Makarim. FOTO: Yessy Artada/jpnn.com

jpnn.com - NAMA Nadiem Makarim belakangan melejit dan jadi buah bibir banyak orang. Lewat trobosan aplikasi yang ia cetuskan, pria lulusan Harvard University ini mengangkat derajat para tukang ojek. Bagaimana tidak, tukang ojek yang dulunya lebih banyak nongkrong di pengkolan, kini digaetnya dan sekarang bisa lebih sibuk mengantar orang ataupun barang.

Jika dulu pengguna harus ke pangkalan dan menunggu lama, kini Anda tinggal keluarkan smartphone dan pesan Go-Jek di aplikasi tersebut. Beberapa menit kemudian tukang ojek yang identik dengan jaket dan helm warna hijau itu akan datang dan siap mengantar.  

BACA JUGA: Sudah Tua Mestinya Dicoret

Namun, tak semua orang suka dengan trobosan yang dibuat Nadiem. Beberapa pesaing mulai muncul dan mengcopy caranya untuk mengaet penumpang. Ada pula yang minta Go-Jek ditidakan karena dianggap bukan transportasi umum. Yang lebih ngeri, sekelompok orang juga pernah menganiaya para sopir Go-Jek karena dianggap "merusak" pasar mereka. 

Wartawan JPNN.com Yessy Artada  berkesempatan mewawancarai CEO Go-Jek Indonesia Nadiem Makarim. Berpenampilan santai dia pun menuturkan soal pro kontra keberadaan Go-Jek. Bahkan dengan tutur kata penuh keyakinan dia juga berbicara soal pesaing bisnisnya yang merupakan pemain dari Malaysia.

BACA JUGA: DPR Harus Memahami

 

Sejak kapan terpikir buat aplikasi Go-Jek?

BACA JUGA: Harus Cerdas Membangun Jakarta

Saya baru 2014 ini terjun langsung mengelola Go-Jek. Semester pertama tahun 2015 saya baru mulai memperkenalkan kepada masyarakat.

Kenapa terjun dalam bisnis yang terbilang baru ini?

Saya jadi pengusaha itu bukan saya yang mau. Tapi saya tidak betah kerja di perusahaan orang lain. Saya ingin menjadi entrepreneur.

Kenapa pilih ojek? Bukan mobil atau kendaraan lain?

Saya ini dulu bisa lima kali naek ojek. Karena sering lupa bawa ini itu atau apa, ya panggil ojek suruh minta anterin. (Ojek) udah lebih dari makan tiga kali sehari. Sehari saya bisa sampai lima kali memanggil ojek. Ojek lebih praktis menerobos kemacetan. Makanya sekarang saya jadi cinta ojek. Kami percaya bahwa ojek itu punya potensinya yang sangat besar.

Tantangan bisnis aplikasi itu seperti apa?

Kami ingin menunjukkan peluang Go-jek itu luar biasa dari aplikasi. Makanya saya sempat mengingatkan untuk temen-temen yang ingin terjun ke bisnis teknologi, tolong jangan bikin website, langsung lompat ke aplikasi saja. Itu produk masa depan karena masa depan kita adalah smartphone, ini akan jadi corong ke depan.

Setelah Go-Jek, ada Grab Bike. Apa tanggapannya? Nggak merasa tersaingi?

Kami sudah jelas jadi leader dibanding perusahaan dari Malaysia, Grab Bike. Malaysia itu hanya meniru kita dari jaket dan helm. Walaupun pendanaan besar, tapi kami adalah perusahaan anak bangsa. 

Belum pernah ada perusahaan luar yang menang lawan perusahaan lokal, yang benar-benar didukung masyarakat dan pemerintah. 

Kami yakin akan kecintaan masyarakat dengan Go-Jek saat ini. Kami pasti akan unggul.

Orang juga tahu siapa yang memulai ini duluan ya. Bagus, artinya kita sudah dijadikan contoh dan orang tahu siapa yang meniru.

Sudah berapa banyak driver Go-Jek sampai saat ini?

Member kami sudah ada 10 ribu driver Go-Jek, itu tersebar di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Bali. Dalam sehari bisa sampai 200 aplikasi untuk daftar jadi driver Go-Jek, tapi kan nggak semua langsung diterima. Harus interview sampai tahap akhir.

Go-Jek dianggap melanggar hukum dan ketentuan yang berlaku karena sepeda motor atau ojek, tidak termasuk angkutan umum?

Ya memang, motor itu bukan termasuk angkutan umum. Tapi kita juga harus sama-sama lihat bahwa keberadaan ojek ini tidak bisa dikesampingkan, bahwa masyarakat memang butuh ojek. Kendaraan yang cepat untuk menerobos kemacetan. Kami selalu terbuka dengan pihak manapun untuk membicarakan masalah ini.

Apa harapannya dengan adanya Go-Jek?

Misi kami, bagi mereka yang nggak dapat kesempatan bekerja karena terbentur pendidikan formal atau dia harus bekerja dan mengurusi adeknya karena ibunya sudah meninggal dan sebagainya kami bisa menjadi solusi. Go-jek menjadi terobosan dengan penghasilan yang tinggi. Go-Jek jadi suatu harapan untuk mereka yang tidak bisa menikmati pendidikan formal tapi bisa tetap bekerja. Karena daftar Go-Jek tidak ada batasan pendidikan formal. (chi/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hidup Saya Sudah Demi Angeline


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler