Mandi Air Masin, Ritual Lawas Orang Laut

Rabu, 25 April 2018 – 20:50 WIB
Ujung Tanjung, Tanjung Jabung Timur, Jambi terlihat dari Laut Cina Selatan. Foto: Wenri Wanhar/JPNN

jpnn.com - Di Pantai Timur Sumatera, bila tak mengindahkan leluhur, alias lupa sejarah berakibat fatal. Kena penyakit menahun. Kurus. Jalan merangkak seperti buaya. Tak mempan ditolak resep dokter. Penawarnya tiada lain; Mandi Air Masin.

Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network  

BACA JUGA: DPR Ingin Perkuat Kerja Sama Ekonomi Maritim RI - Jepang

Ritual Mandi Air Masin budaya lama yang hidup di kalangan rakyat Melayu Timur. Antara lain daerah Nipah Panjang, Muara Sabak, Kampung Laut dan Mendahara di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Diyakini berkhasiat menyembuhkan penyakit yang sudah menahun. Atau penyakit yang tidak sembuh-sembuh meski penderitanya kenyang berobat ke dokter.

BACA JUGA: Rumah Batu Jambi, Rumah Juragan Rempah

“Si sakit dimandikan di daerah Ujung Tanjung, bibir pantai Tanjung Jabung Timur,” tulis buku Upacara Tradisional, terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jambi.

Sayangnya, buku tipis itu tidak mencantumkan nama penulis, pun tahun terbit. Hanya keadaannya yang kusam dimakan usia menunjukkan bahwa ia buku lama. Narasumbernya Haji Kaharudin, Ketua Adat Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

BACA JUGA: Sejak Kapan Pulau Bali jadi Primadona Wisata Dunia?

Rentetan upacara Mandi Air Masin, sebagaimana diurutkan oleh tetua adat, mulanya pihak keluarga si sakit memanggil dukun.

Si sakit dibaringkan di hadapan dukun untuk diperiksa. Pihak keluarga menyediakan beberapa bahan kelengkapan ritual yang diminta dukun.

Yakni, wadah pedupaan. Biasanya berbahan kuningan atau besi. Bentuk dan warna wadahnya bebas. Tidak ada aturan mengikat. Dalam wadah pedupaan diisi arang untuk bara api.

Kemenyan putih yang telah dipecah-pecah. Fungsinya sebagai alat pengharum dan pemanggil roh yang akan diajak berkomunikasi oleh sang dukun.

Berteh atau padi goring satu gantang. Beras kunyit secukupnya, dan beras basuh (beras yang telah direndam dengan air) sekira satu genggam.

Sesudah itu, ritual pemeriksaan segera dimulai. Dukun menyalakan pedupaan. Memberi kemenyan. Asap mengepul. Mantra dirapal. Ia berkomunikasi dengan leluhur.

Dukun menaburkan beras kunyit dan beras basuh di tubuh si sakit. Mengasapinya dengan asap kemenyan.

“Beras kunyit dan beras basuh, bahan sesaji persembahan kepada leluhur. Maksudnya untuk mengetahui leluhur si sakit. Dari proses tersebut si dukun mengetahui apakah si sakit menderita penyakit itu karena lupa nenek moyang, sehingga perlu diadakan ritual Mandi Air Masin atau tidak,” tutur tetua adat.

Biasanya, menurut tetua adat, Mandi Air Masin dilakukan untuk orang yang sakit karena tidak mengindahkan sejarah. Keturunan. Alias lupa nenek moyang.

Bila ternyata memang perlu diadakan upacara Mandi Air Masin, hari pelaksanaannya ditentukan dukun, sesuai petunjuk yang dia dapat. Bila dukun tak mendapat petunjuk, maka harinya dirunding-sepakati bersama. Antara pihak keluarga si sakit dan dukun.

Sebelum upacara dilakukan, tetua adat diberitahu. Keluarga dekat maupun jauh juga diberitahu. Pelaksanaan upacara selalu ramai. Karena orang kampung berdatangan.

Sesaji

Ritual ini dilaksanakan pagi hingga siang. Lokasinya di tepi laut yang kedalaman airnya antara 1.20 hingga 1.50 meter.

Di lokasi, dibangun sebuah pondokan serupa perahu. Disebut kajang lako, bentuk bangunan khas rumah Melayu Timur.

Besarnya sesuai kebutuhan. Lebar lantai sekira 5x4 meter. Diberi jarak 10 hingga 15 cm. Agar air yang dimandikan ke si sakit jatuh melebur ke laut.

Tiang dan lantai dari kayu nibung. Atapnya daun nipah. Kadang tak beratap. Pondokon harus berhadapan dengan laut lepas. Tak boleh ada penghalang. Jarak pondokan dengan bibir pantai tergantung kedalaman air.

Di sudut kanan tiang pondokan yang menghadap ke laut, diikat buluh cino (bambu) bersama batang pisang dan tebu. Posisinya berdiri.

“Tebunya batangan utuh. Masih berdaun. Tak ada ketentuan pasti berapa jumlah batang tebu. Yang pasti lebih dari satu,” ungkap tetua adat.

Perangkat upacara disiapkan oleh pihak keluarga. Demikian juga kelengkapan sesaji;  ayam panggang dan kue-kue yang terbuat dari beras ketan dan tepung.

Dibuat pada malam hari. Harus selesai menjelang pagi, saat upacara akan dilangsungkan. Dan yang menyiapkan sesaji kaum perempuan dalam keadaan bersih. Alias tidak haid.

Wadah sesaji berupa perahu lancang kuning. Bahan dasarnya kayu pulai yang harus diambil di dalam hutan. Panjangnya 1 hingga 1.5 meter, dengan lebar 40 hingga 45 cm.

Perahu diwarnai dengan kunyit. Dilengkapi pula dengan hiasan. Rantai dan jangkar dari emas. Sesaji tidak boleh terlangkahi dan kena kotoran. Ini nantinya dilarung ke laut.

Pihak keluarga yang bertugas menyiapkan kelengkapan upacara, didampingi dua orang mainang berdasarkan petunjuk sang dukun.

Ritual pun digelar...

Dukun berperan sebagai pemimpin upacara. Di bantu beberapa orang yang memiliki hubungan khusus dengannya. Keluarga si sakit, selain sebagai pelaku upacara, ada juga yang membantu untuk beberapa keperluan.

Dukun dan si sakit mengenakan kain berwarna kuning. Di pondokan kajang lako, dukun berdiri menghadap Timur. Memanggil angin dengan sundang sambil baca mantra.

“Sundang sejenis senjata tajam khas suku Melayu Timur. Panjang seperti pedang. Berfungsi sebagai alat memanggil angin yang memiliki kekuatan magis,” kata tetua adat Tanjung Jabung Timur, sebagaimana dilansir dari buku Upacara Tradisional.

Sepanjang upacara, musik kulintang pukulan kedungkuk terus mengalun. Alat kulintang perunggu, gendang dua sisi dan gong.

Yang memainkan musik kaum perempuan. Tak banyak yang pandai memainkannya. Pukulan kedungkuk tak boleh sembarangan.

Bila nada keliru karena salah pukulan, si sakit langsung kesurupan. Tak sadarkan diri. Untuk menyadarkan, dukun turun tangan.

Musik tak boleh berhenti. Kalau alat musik berhenti, saat upacara berlangsung, dukun yang memimpin upacara bisa kesurupan. Dan kalau sudah begini, dia disadarkan oleh dukun lainnya dengan ditepungtawari.

Maka dari itu, pemain musik dalam ritual Mandi Air Masin merupakan satu di antara faktor penting yang sangat menentukan.

Lalu, sambil baca mantra, si dukun memandikan si sakit dengan air dari dalam tempayan atau guci yang sebelumnya juga sudah dirapal mantra.

Saat bersamaan, perahu seaji lancang kuning dihanyutkan ke laut.

Upacara pun selesai. Bahan sesaji yang dilarung boleh diambil rakyat. Makanya, orang-orang pun nyebur. Berenang memperebutkannya. Dalam suasana gembira mereka saling lempar. Meski terkena lemparan benda keras, anehnya tak ada yang merasa sakit pun terluka.

Sepulang ke kampung, biasanya siang hari pihak keluarga menggelar ritual makan dikelung. Dan malam harinya menggelar doa syukuran. Sekaligus memohon maaf kepada leluhur atas kekhilafan.

Kini ritual bagi yang lupa sejarah ini pun tinggal sejarah. (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tahun Baru di Bulan Maret


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler