Rumah Batu Jambi, Rumah Juragan Rempah

Kamis, 22 Maret 2018 – 17:20 WIB
Rumah Batu Olak Kemang, Jambi Kota Seberang. Foto: Dok. Yoga Julestama.

jpnn.com - RUMAH KLASIK bercorak Melayu, Cina dan Eropa itu terletak di tepian Sungai Batanghari, Jambi. Peninggalan juragan rempah dari Arab.

Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network

BACA JUGA: KPK: Sudahlah, Jangan Coba-coba!

Rakyat sekitaran Jambi menyebutnya Rumah Batu. Sebutan yang entah sejak kapan bermula. Namun, masih abadi di musim yang ini.

Ditemani dua orang kawan; Saifullah Mursal dan Yoga Julestama, JPNN.com bertandang ke sana. Meski sudah meruntuh dilumat zaman, sisa kejayaan masa lampau masih kental terasa.

BACA JUGA: Pelaku Pedofilia di Jambi Diduga Pernah Jadi Korban saat SMP

“Said Idrus (si empunya rumah--red) pedagang rempah-rempah. Dia mengirim rempah-rempah ke Arab,” kata Sarifah Ulia (50), yang menyambut kedatangan kami, Senin, 19 Maret 2018.

Sarifah berwajah Timur Tengah. Dia juru pelihara Rumah Batu yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No. 572/C.I/F5/1981.

BACA JUGA: Lho, Kok KPK Bikin Kegiatan Bareng Tersangka Korupsi?

Bukan sekadar juru pelihara situs. Sarifah merupakan ahli waris Rumah Batu. Cerita bahwa Rumah Batu pada zaman dahulu milik seorang juragan rempah didapat Sarifah dari cerita turun temurun keluarganya.

“Said Idrus punya kapal. Nama kapalnya Selamat,” ungkapnya. Dari keterangan lain yang berhasil didulang JPNN.com, nama kapalnya bukan Selamat. Melainkan Senamat.

Belum diketemukan sumber sezaman untuk memastikan kapan sebenarnya Rumah Batu dibangun.

Berdasarkan penuturan lisan, dahulu kala ada orang dari Arab Hadramaut bernama Said Ahmad Al Djufri yang bermukim di Olak Kemang, Jambi Seberang—kawasan Rumah Batu sekarang.

Dia punya anak bernama Said Hasan Al Djufri. Said Hasan punya cucu Said Idrus. Mereka ini keluarga pebisnis rempah-rempah.

Pada masa Said Idrus lah kabarnya Rumah Batu dibangun. Ketika itu ia berusia 30 tahun. Said Idrus meninggal pada 1901 dalam usia 70 tahun.

Berangkat dari keterangan itu, tim Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Propinsi Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu yang meneliti Rumah Batu Olak Kemang pada 1991 memperkirakan rumah tersebut didirikan pada 1861.

Tim peneliti terdiri dari Heni Fajria Rif’ati sebagai ketua dan Zusneli Zubir, Marjani, Wakijo, Samlawi bin Abdullah.

Pangeran Wirokusumo

Said Idrus yang digadang-gadang sebagai pembangun Rumah Batu karibnya Sultan Thaha Saifuddin, orang nomor satu di Kesultanan Jambi. 

Buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi, terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ada menulis nama-nama anggota Kerapatan Patih Dalam Kesultanan Jambi.

Yakni, Said Idrus bin Hasan Al Djufri gelar Pangeran Wirokusumo, Said Ali bin Alwi Al Djufri gelar Pangeran Syarif Ali, Said Husin Barakba gelar Pangeran Mangkunegoro, Kemas Suko gelar Pangeran Kusumoyudo.

Gelar Pangeran Wirokusumo yang diemban Said Idrus pemberian Sultan Thaha.

Disebutkan, pada masa pemerintahan Sultan Thaha Saifuddin, anggota Kerapatan Patih Dalam dipilih oleh Sultan dari kalangan keluarganya, atau bangsawan tinggi dan bangsawan rendahan (masyarakat biasa).

“Fungsi Kerapatan Patih Dalam melaksanakan semua perintah Sultan dan menyampaikannya kepada Patih Luar, serta diteruskan kepada kepala-kepala daerah tertinggi sampai terendah,” tulis sumber tersebut.

Hubungan antara Said Idrus dengan Kesultanan Jambi semakin erat dengan menikahnya Ratu Mas Intan (anak Sultan Thaha) dengan Said Muhammad bin Idrus gelar Pangeran Suto (anak Said Idrus).

Babak baru hikayat Jambi terjadi pada akhir abad 19, tahun 1800-an sekian. Belanda ambil bagian. Masuk gelanggang perdagangan rempah Jambi.

Karena mulai ma-aru galeh urang, Sultan Thaha yang naik tahta sejak 1855 berlawan. Pertempuran pecah. Istana Sultan Thaha porak poranda.

Disertai para pengikutnya, Sultan Thaha menyingkir ke hulu Batanghari. Menegakkan kekuasaan di sekitaran Muara Tembesi dan Sarolangun.

Belanda mendirikan benteng di atas reruntuhan istana Kesultanan Jambi. Kini menjelma masjid Al Falah alias masjid Seribu Tiang.

Sepeninggal Sultan Thaha, tulis arsip laporan tim Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Propinsi Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu (1991), Belanda mengangkat Said Idrus gelar Pangeran Wirokusumo menjadi Sultan Jambi.

Berbagai tafsir meliputi hal ini.

Antara lain, Said Idrus dituding berpihak ke Belanda karena mengejar jabatan.

Ada juga yang menaksir, “kompromi” ala Said Idrus untuk melindungi keluarga Istana, dan diam-diam membantu perjuangan Sultan Thaha secara sembunyi-sembunyi.

Asumsi lain, Said Idrus awalnya berpihak ke Belanda. Tapi, karena ternyata Belanda mengecewakan, akhirnya ia mendukung Sultan Thaha.

Entah! Dalamnya laut bisa diukur. Dalamnya hati siapa yang tahu.

Said Idrus gelar Pangeran Wirokusumo wafat pada 1901. Dimakamkan di samping masjid Ikhsaniyah yang berjarak hanya sepelemparan batu dari Rumah Batu. Saat ada perluasan masjid, makamnya dipindahkan. Masih di pekarangan masjid.

Sedangkan Sultan Thaha Saifuddin wafat pada 1904, dan dimakamkan di Muara Tebo.

Ketika Said Idrus dan Sultan Thaha sudah meninggal, hubungan kekeluargaan antara klan Sultan Thaha dengan klan Arab Jambi Seberang masih terus terjaga.

Anak Sultan Thaha yang bernama Ratu Mas Maryam (adik Ratu Mas Intan) menikah dengan Said Abu Bakar, anak Pangeran Suto dari Syarifah Maryam—istrinya yang lain.

Oiya, pernikahan antara Pangeran Suto anak Said Idrus dan Ratu Mas Intan anak Sultan Thaha tidak berketurunan. Pangeran Suto meninggal pada 1904. Ratu Mas Intan menikah lagi dengan Said Abba bin Syekh Abu Bakar yang masih berkerabat dengan Said Idrus.

Pernikahan dilangsungkan di Olak Kemang, Jambi Sebarang. Mereka dikarunia empat orang anak. Syarifah Ayu, Said Abdullah, Syarifah Lukluk dan Syarifah Khadijah.

Pusako Usang

Di Rumah Batu, pusako lamo juragan rempah dari Arab yang pernah menjadi Sultan Jambi, aroma kejayaan masa lampau memang masih terasa. Tapi, nyaris poranda.

Dari sini, masjid seribu tiang yang dahulunya Istana Kesultanan Jambi jelas terlihat.

Lokasinya boleh dibilang bersebarangan-seberangan. Di belah aliran Sungai Batanghari.  

Dulu, Rumah Batu berwarna putih. Kini, kekuningan dijilat masa.

Karena sudah lama tak dihuni, sebagian benda di rumah itu disimpan ahli waris. Antara lain, stempel beraksara Arab Melayu dari tembaga. Pada 1985 pernah hilang. Tapi, ditemukan kembali.

“Kini stempel itu jadi koleksi museum. Sesekali bila dibutuhkan, kami bisa ambil,” kata Sarifah Ulia, keturunan ahli waris Rumah Batu.

Dulu, rumah itu beratap genteng. Kokoh berlis tebal. Sepasang naga bertengger di puncaknya. Saat tim peneliti dari Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Propinsi Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu datang pada 1991, puncak atapnya sudah tak ada.

“Penutup atap rumah induk pernah diganti dengan seng menjelang kunjungan Wakil Presiden Adam Malik pada 1983,” tulis laporan tim tersebut.

Pantauan mata langsung, onggokan dan serakan genteng terlihat di beberapa sudut lantai rumah.

Sepasang relief naga berpadu aneka flora terukir menghiasi kiri-kanan beranda menuju ruang utama. Sebelah sudah tak ada. Tinggal jejaknya saja.

Relief sepasang naga juga terlihat di puncak atap gapura. Di antara kedua naga ada sebuah mustika. Uniknya, coraknya berbeda dengan kebanyakan relief sejenis.

Bukankah kebanyakan relief serupa ini mustika berada di tengah, di antara kepala naga? Dua naga seolah berebut mustika?

Yang ini lain. Di kanan kiri mustika bukan ukiran kepala naga. Melainkan buntutnya. Sang naga seolah pergi meninggalkan mustika.

Meski milik orang Arab ada nuansa Cina di Rumah Batu. Wajar. Karena menurut kajian tim laporan tim Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Suaka, arsiteknya seorang Tionghoa bernama Datuk Shin Thai. Makamnya yang tak jauh dari Rumah Batu dikeramatkan orang.  

Gerbang muka Rumah Batu menghadap Sungai Batanghari. Bisa dipastikan, ia dibangun pada zaman ketika sungai-sungai adalah jalan raya.

Waktu berlalu. Musim telah berganti. Zaman kejayaan rempah tinggal cerita. Kuasa kesultanan bersisa kenangan. Sungai-sungai bukan lagi jalan raya.

Dan rumah lamo pusako usang juragan rempah-rempah nan megah, kini memunggungi jalan aspal. Ia telah usang. Lekang dimakan panas. Lapuk didera hujan. (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ayah Masuk Kamar Putri Kandung, Terjadi 3 Kali


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler