Margaretha Solang, Memanfaatkan Kerang Darah untuk Pacu Pertumbuhan

Kerupuk di Stoples Berbahan Campuran Tepung Kerang

Selasa, 27 Mei 2014 – 07:57 WIB
PENELITI KERANG: Margaretha Solang di Universitas Airlangga, Minggu (25/5).

jpnn.com - PEKAN-pekan ini, perasaan Margaretha Solang tengah senang-senangnya. Maklum saja, Senin lalu (12/5) dia baru saja dinyatakan lulus dari ujian terbuka program doktoral ilmu kesehatan di Universitas Airlangga.

Di hadapan sepuluh penguji yang separonya profesor, perempuan 47 tahun tersebut sukses mempertahankan disertasi tentang manfaat lain kerang darah. Di bagian akhir ujian, para guru besar itu pun menyatakan bahwa riset ibu tiga anak tersebut cukup bermanfaat dan layak diperhatikan pemerintah. Terutama untuk memperbaiki mutu gizi.

BACA JUGA: Bawa Buku sejak Ditahan, Deg-degan Tunggu Pengumuman

Selama kuliah, 3 tahun 8 bulan, Margaretha juga meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) yang membanggakan. Yakni, 3,9. ”Hasil resminya memang belum keluar. Tapi, kira-kira nilainya juga sebesar itu,” ungkapnya merendah.

Dalam risetnya, perempuan Surabaya berdarah Manado tersebut membeberkan manfaat kerang darah. Selama ini makanan yang sejatinya cukup lezat disantap tersebut makin dijauhi orang. Apalagi banyak anggapan bahwa kerang adalah binatang ”penyedot debu”. Artinya, apa pun jenis zat pencemar yang mengalir ke laut terserap oleh kerang. Tak heran, mengonsumsinya pun cukup berisiko.

BACA JUGA: Ke Madeira, Mengunjungi Rumah Sejarah Cristiano Ronaldo

Namun, keyakinan Margaretha lain. Menurut dia, potensi kerang di Indonesia cukup besar. Termasuk di Surabaya, misalnya Kenjeran. Kerang mudah didapatkan. Harganya murah. ”Rasanya sayang bila tidak ada nilai manfaatnya,” ungkap perempuan yang juga mengajar di Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo itu.

Di Kenjeran harga kerang darah hanya Rp 9 ribu per kilogram. Di tempatnya kerja, Gorontalo, harga kerang hanya Rp 4 ribu per kilogram. Bahkan, kebiasaan di luar Jawa, bila nelayan gagal mencari ikan, mereka membawa pulang kerang.

BACA JUGA: Sambut Final Liga Champions, Menara Belem Jadi Jujukan Turis di Lisbon

Sejak itu Margaretha mulai terpikir menjadikan kerang sebagai objek penelitiannya. Selama empat bulan penuh dia berkutat di laboratorium Fakultas Kedokteran Hewan Unair. Dia mulai mengurai kandungan zat-zat yang ada dalam kerang. Dan, wow, kadar zinc dan proteinnya cukup tinggi. ”Namun, untuk apa? Harus ditemukan manfaat langsungnya,” jelas ibu Christian Yulius, Joshua Manuael, dan Beatrice Magdalena itu.

Suatu ketika Margaretha mempelajari hasil riset kesehatan daerah terbitan 2010 oleh Kementerian Kesehatan. Rupanya, 35 persen balita di Indonesia mengalami persoalan stunting (bertubuh pendek). Itu terjadi karena konsumsi makanannya kurang kadar zinc dan protein. Balita pendek, selain membuat penampilan ketika dewasa kurang menarik, mereka tak bisa berpikir cerdas.

Bila itu terus-terusan terjadi, tinggi orang-orang Indonesia akan kalah dibandingkan negara lain. Padahal, bila memanfaatkan potensi kerang, orang-orang Indonesia bisa bertubuh tinggi besar. ”Saya berpikir, mengapa bukan kerang saja yang dimanfaatkan,” terangnya.

Tapi, hal tersebut perlu dibuktikan. Margaretha mulai rajin meneliti hubungan kerang dengan pertumbuhan. Saban hari Margaretha menghabiskan waktunya di laboratorium. Dia mencari kerang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Gorontalo. Menurut dia, kerang di sana lebih baik. Sebab, di kawasan luar Jawa belum banyak pencemar yang masuk ke laut.

Namun, itu tidak berarti kerang Kenjeran tak bisa dimanfaatkan. Dia memberikan catatan bahwa pengolahan kudu benar. Salah satunya dengan menyiram kerang yang akan dikonsumsi tadi dengan cuka. Sebab, tingkat keasaman cuka bisa mengikat logam berat yang terkandung dalam kerang.

Kali pertama dia menjajal kepada tikus-tikus percobaan. Awalnya, tikus-tikus itu hanya diberi makanan seadanya. ”Misalnya, diberi karak (nasi yang dikeringkan),” jelasnya.

Pertumbuhannya terus diamati. Rupanya pertumbuhan tikus dalam beberapa bulan stagnan. Dia lantas memberikan resepnya. Makanan tikus berupa karak tadi ditambah tepung kerang. "Dan benar, pertumbuhan tulang tikus dengan cepat memanjang. Tikusnya juga makin besar. Pertumbuhannya sangat cepat,” terangnya.

Dia yakin apa yang terjadi pada tikus juga bisa terjadi pada manusia. Dengan menjadikan kerang dalam berbagai jenis makanan, gizi kepada anak bisa teratasi dengan cepat. Dia memastikan pertumbuhannya cukup signifikan.

Karena itu, Margaretha pun mulai coba-coba, termasuk kepada anak-anaknya. Tentu dengan mengombinasikannya dalam berbagai makanan. Tepung kerang bisa dimanfaatkan sebagai krupuk.

”Anda tahu kerupuk di stoples rumah itu ada campuran tepung kerang. Awalnya, anak-anak protes. Tapi, saya bilang ini demi pertumbuhan juga,” katanya lantas tertawa.

Margaretha memang bisa dibilang peneliti ’’usil”. Bukan soal kerang saja, perempuan alumnus SMAN 6 Surabaya tersebut pernah membikin ’’heboh” dunia perikanan di wilayah kerjanya di Gorontalo. Yakni, ketika mengumumkan penelitian tentang mempercepat pertumbuhan ikan nila tanpa memberi asupan makanan. Caranya dengan memotong siripnya.

”Dengan begitu, nila tak bisa banyak bergerak ke sana-kemari. Jadi hanya makan,” ungkapnya. Namun, langkah itu pernah didebat sejumlah orang. ”Saya dibilang tak memiliki perikehewanan,” ujarnya lantas tertawa.

Hasil-hasil penelitian tersebut juga dilirik Kementerian Pendidikan Nasional. Pemerintah terpikir untuk lebih mendalami potensi kerang. Setidaknya, untuk mengatasi kekurangan kadar zinc dan protein anak-anak Indonesia. (Anggit Satriyo Nugroho/c7/dos)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hukum Pemburu Badak Sumatera dengan Dijadikan Saudara


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler