Marzuki Akui Komunikasi DPR Buruk

Refleksi DPR 2010

Jumat, 24 Desember 2010 – 05:44 WIB

JAKARTA - Berbagai kritikan atas kinerja DPR RI menimpa lembaga legislatif itu sepanjang tahun 2010Ketua DPR RI Marzuki Alie menilai masih rendahnya kinerja DPR disebabkan pola komunikasi yang buruk.

Hal tersebut disampaikan oleh Marzuki kepada wartawan di gedung parlemen, Jakarta, kemarin (23/12)

BACA JUGA: Marzuki Usulkan Anggota DPR Tinggal di Kontrakan

Menurut dia, berbagai rencana dan program kerja DPR selama tahun 2010 tidak tersampaikan dalam momen yang tepat dan proporsi yang sebenarnya
"Akibatnya, hanya menjadi barang busuk, selesai," kata Marzuki.

Padahal, sejatinya banyak program kerja DPR yang bermanfaat untuk rakyat banyak

BACA JUGA: KPU Tak Serius Awasi Aliran Dana Parpol

Beberapa diantaranya adalah program rumah aspirasi dan dana aspirasi
"Konsepnya bagus, benar-benar bagus

BACA JUGA: Kubu Muhaimin Anggap Kerumunan

Namun komunikasinya yang kurang," jelasnya

Sebagai contoh, keberadaan rumah aspirasi untuk menampung suara rakyat langsung dari daerahSelama ini, setiap anggota dewan tidak mampu membawa secara langsung aspirasi rakyat kepada pemerintahHal ini menurut Marzuki, disebabkan tidak adanya forum untuk menyampaikan aspirasi itu"Saat ini kan perjuangan sendiri-sendiri, ke konstituennya, bukan ke rakyat," kata dia.

Dengan adanya rumah aspirasi, suara rakyat yang masuk bukan merupakan konstituen partai tertentuMasing-masing elemen rakyat diharapkan bisa memberikan suaranya melalui rumah aspirasi itu, tanpa batasan warna partai"Ada pembahasan lintas fraksi di sana," sebutnya.Demikian halnya dengan dana aspirasiMenurut Marzuki, fungsi dana aspirasi adalah memperjuangkan pembangunan untuk rakyat melalui pemerintahDana aspirasi adalah forum bagi DPR untuk menyampaikan berbagai keluhan rakyat, atas sektor riil"Belum-belum DPR dibilang makan duit rakyat," ujarnya menerangkan.

Saat ini, kata Marzuki, ruang untuk memperjuangkan itu juga belum adaYang ada, anggota dewan berjuang sendiri-sendiri dengan mengatasnamakan pribadi untuk turun langsung ke masyarakat"Sekarang yang hanya bisa dilakukan, turun kebawah bagi2 sembako," sorotnya

Dia menegaskan, konsep yang digulirkan DPR itu sudah bagusNamun, pihak-pihak yang menyampaikan sejumlah rencana DPR itu kurang memahami konsepSehingga, yang terjadi konsep itu menjadi bumerang negatif bagi DPR"Siapa yang berhak menyampaikan, ya BURT," tandasnya.

Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang menilai, ekspektasi publik atas DPR periode baru sebenarnya tinggiMemasuki tiga hingga empat bulan pertama masa kerja, DPR sibuk melakukan investigasi kasus Century"Ada harapan tinggi dari publik saat itu," kata Salang di tempat yang sama.

Namun, memasuki bulan kelima, DPR mulai melakukan berbagai blunderDPR mulai menuntut adanya dana aspirasiBelum selesai dana aspirasi, muncul dana desa dengan rencana alokasi Rp 1 miliar per desa"Blunder semakin parah dengan rumah aspirasi, Kunker luar negeri, dan masalah anggota DPR yang bolos," sorot Salang.

Bolosnya anggota DPR, bagi Salang adalah blunder terbesarPada tahun pertama masa tugasnya, anggota dewan sudah berani lalai melaksanakan kewajibannyaHal itu diperparah dengan rencana pembangunan gedung baru yang nilainya mencapai triliunan rupiah"Sadar atau tidak, blunder ini mengikis kepercayaan publik kepada DPR," sebutnya.

Menurut Salang, Formappi sejatinya mendukung rencana pembangunan rumah aspirasiNamun, program itu tidak dipersiapkan secara matangSosialisasi DPR kepada publik bukanlah konsep, namun hanya sebatas gelontoran dana yang akan dihabiskan"Gedung baru DPR itu gagasan tidak populer, seharusnya juga dipersiapkan secara matangKemudian disampaikan pada saat yang tepat," kritiknyaMenurut Salang, harus ada perubahan di DPR, terutama melakukan reformasi atas fungsi Kesekretariatan DPR(bay)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Roy Ikut-Ikutan Jagokan Ical


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler