Masa Panen Tiba, Kementan Berharap Pendapatan Petani Makin Terangkat

Sabtu, 06 Maret 2021 – 15:25 WIB
Panen padi di Kabupaten Pandeglang, Banten. Foto: Kementan.

jpnn.com, PANDEGLANG - Sejumlah daerah di Indonesia termasuk Kecamatan Sobang, Panimbang, dan Cikeusik, di Kabupaten Pandeglang, Banten melakukan panen padi.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) memberikan apresiasi atas keberhasilan pertanian di Pandeglang.

BACA JUGA: Kementan Terus Mengawal Masa Panen Padi di Semua Wilayah Indonesia

"Kami berharap petani bisa terus meningkatkan produktivitas. Karena dengan cara itu ketahanan pangan bisa sama-sama dijaga," kata Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi mengatakan, petani abad 21 di era digital 4.0 hendaknya tidak lagi berpikir tanam, petik, lalu jual.

BACA JUGA: Syahrul Yasin Limpo: Jangan Ada Kata Mundur, Kita Harus Fight 

Dedi mendorong petani mengubah semangat dan etos kerja, dari sekadar bertani menjadi pengusaha dengan membentuk korporasi.

"Didukung dengan inovasi dan mekanisasi, maka petani akan menguasai pertanian dari hulu ke hilir sebagai bisnis bukan sekadar bertani," katanya.

BACA JUGA: Kementan Gandeng Kemendikbud Demi Memperkuat Peran SDM Pertanian

Untuk menghindari harga turun, petani di Pandeglang diminta tidak langsung menjual gabah.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang Budi S Januardi mengungkapkan sebenarnya pemerintah telah mengatur harga jual gabah petani.

Namun, katanya, karena kultur petani Kabupaten Pandeglang panen langsung menjual membuat harga gabah mengikuti kehendak pengepul.

“Setiap tahun selalu terjadi harga turun tetapi sebetulnya kan sudah ada Permendag 2020, tetapi dengan standar kualitas tertentu terutama kadar air. Sementara petani di Pandeglang begitu panen langsung jual, ingin buru-buru jadi duit,” tutur Budi.

Menurutnya, ada pula petani yang dari awal sudah dibiayai pengepul, sehingga posisi tawarnya lemah dan tak bisa menjual ke yang lain. “Jika sudah seperti ini, maka harga ditentukan pengepul,” ujar Budi.

Selain alasan tersebut, Budi menyebut bahwa petani banyak yang tidak punya dryer dan lantai jemur.

Dengan demikian, jika dibiarkan terlalu lama, maka gabah akan turun kualitasnya bahkan bisa rusak.

Budi mengungkapkan, luas panen musim tanam I (MT I) 2021 di Kecamatan Sobang 1.113 hektar (ha) dengan produksi gabah kering panen (GKP) 6.030 ton.

Kecamatan Panimbang luas panen 2.866 ha produksi GKP 15.528 ton.

Sementara di Cikeusik luas panen sudah mencapai 3,849 ha dengan perkiraan produksi GKP 23.864 ton.

Secara keseluruhan luas panen pada Maret 2021 ini di Kabupaten Pandeglang diperkirakan mencapai 19.838 ha padi sawah dengan perkiraan produksi 117.990 ton dan padi gogo 1.499 ha perkiraan produksi 5.714 ton.

Panen masih akan berlangsung hingga bulan Mei mendatang. Total panen diperkirakan menghasilkan produksi GKP 213.627 ton.

Kaisan, anggota Kelompok Tani Ranca Teras, Kecamatan Panimbang, ditemui di lahannya menyambut gembira panen setelah berhasil melewati banjir dan terpaksa tandur tiga kali.

“Panen hasil perjuangan menghadapi banjir. Rata–rata petani di sini ada yang sampai tiga kali tandur karena banjir. Ini tandur keempat, alhamdulillah bisa panen," ungkapnya, Sabtu (6/3).

Sempat terkena banjir, Ia mengaku tidak kapok bertanam, karena sudah pekerjaannya bertani. Tapi Ia berharap pemerintah sudah memiliki persiapan untuk menampung gabah hasil panen.

“Petani mah tidak kapok menanam, karena sudah pekerjaannya. Harapannya kalau musim panen persiapan untuk penampungan gabah hasil panen petani dengan harganya biar standar supaya petani ada lebih,” ujarnya. (*/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler