Masih Besar, Dukun Beranak Menolong Persalinan

Jumat, 19 Agustus 2011 – 13:25 WIB

JAKARTA - Di tengah semakin canggihnya dunia kedokteran, terutama dalam urusan persalinan, masih belum melunturkan peran dukun beranakRekaman dari riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2010 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan, 43,2 % persalinan terjadi di rumah

BACA JUGA: Satu Keluarga Menderita Kanker Multi Polip

Nah, 40,2 % dari persalinan di rumah itu, ditolong oleh dukun bersalin.

Masih dari survei Riskesdar 2010, tercatat jika provinsi dengan penolong persalinan oleh tenaga kesehatan terendah adalah di Provinsi Sulawesi Tenggara
Di provinsi yang dipimpin Gubernur Nur Alam itu, persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan hanya 8,7 %

BACA JUGA: Mitos Seputar Bahaya Seafood dan Vitamin C

Sementara provinsi dengan peran tenaga kesehatan dalam proses persalinan terbesar adalah di Provinsi DIY (94,5%).

Pengurus Senior Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (PP IBI) Mustika Sofyan menuturkan, dirinya memang tidak menampik masih munculnya peran dukun dalam menolong persalinan
Menurutnya, fenomena tersebut memunculkan resiko kesehatan seperti munculnya infeksi

BACA JUGA: Bahaya, Angka Orang Kegemukan Meningkat

"Baik itu untuk si jabang bayi, atau juga kepada si ibu," tutur Mustika itu.

Selain resiko infeksi, Mustika menjelaskan jika melahiran dengan bantuan dukun bersalin sulit mendeteksi munculnya penyulit dalam proses persalinanJika dibantu bidan, kemunculan penyulit itu bisa segera diketahui secara diniSelanjutnya, langsung dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit"Malahirkan di rumah itu jika kondisinya normal saja," papar Mustika.

Mustika menuturkan, IBI sebagai organisasi profesi bidan berupaya untuk mengakomodir fenomena tetap eksisnya peran dukun beranak dalam menolong persalinanDiantara cara yang selama ini diambil adalah membetuk program kemitraan bidan dan dukunDalam program ini, bidan dan dukun saling berkolaborasi menolong proses kelahiran"Di beberapa tempat, sulit sekali menghapus keyakinan orang terhadap peran dukun persalinan," ucapnya.

Namun, Mustika menuturkan, ada batasan-batasan tegas dalam kerja sama antara bidan dengan dukun ini"Teknis medisnya tetap dipegang oleh bidan atau tenaga kesehatan," tegas MustikaDia menjelaskan, meskipun bidan dan dukun sudah bermitra, tindakan medis tidak boleh diambil oleh si dukunTindakan teknis medis diantaranya mengeluarkan bayi dan memotong tali pusar.

Peran dukun, lanjut Mustika, diantara untuk urusan memijat, membuat ibu rileks, hingga mencuci bajuPeran-peran tersebut, jelas Mustika masih bisa ditoleransi untuk dikerjakan oleh dukun bersalinDia menjelaskan, selama ini program kemitraan bidan dan dukun sudah hampir menyebar"Termasuk di kantong-kantong masyarakat yang masih lekat dengan peran dukun bersalin." Tutur Mustika.

Selain faktor kepercayaan, Mutika menuturkan masih suburnya peran dukun bersalin ini disebabkan belum menyebarkanya tenaga bidanDia mengatakan, tahun ini jumlah bidan diperkirakan mencapai 175 ribuDari jumlah tersebut, bidan yang tergabung dalam organiasi IBI mencapai 110 ribuMenurut catatan PP IBI, kepadatan sebaran bidan masih ditemukan di pulau JawaDi pulau lain, bidan masih jarang ditemukan di pelosk-pelosok desa.

Dalam prakteknya, Mustika menuturkan jika sering muncul kesenjangan antara bidan dengan dukun"Banyak bidan yang mengeluhkan jika para dukun merasa jealous (cemburu, red)," terangnya(wan)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lagi, 1 Balita Tewas Akibat Diare


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler