Masih Ingat Tragedi Tampomas II? Ini Kisahnya...

Jumat, 27 Oktober 2017 – 11:40 WIB
Klipingan koran tentang tenggelamnya kapal Tampomas II. Foto: Wenri Wanhar/JPNN

jpnn.com - Iwan Fals pun bersenandung...api menjalar dari sebuah kapal/jerit ketakutan/keras melebihi gemuruh gelombang/yang datang/sejuta lumba-lumba mengawasi cemas/risau camar membawa kabar…/Tampomas terbakar/risau camar memberi salam…/Tampomas II tenggelam

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Secuplik Cerita Kerajaan Maritim Bugis Makassar

Senin, 26 Januari 1981. Di tengah lautan—sebelah selatan Pulau Matisiri, 220 mil dari Selat Makassar, dekat Pulau Masalambo—awak Kapal Motor (KM) Sangihe melihat asap mengepul. Tebal.

Nakhoda KM Sangihe, Capt. Agus KS mengarahkan haluan mendekati sumber asap.

BACA JUGA: Sejarah Baru! Kapal Dewaruci Pecahkan Rekor Dunia

Awak KM Sangihe mendengar, “tariakan-teriakan histeris dan ngeri. Ada yang berteriak dengan adzan atau berdoa kepada Tuhan agar memberikan perlindungan, ada pula yang berteriak minta tolong,” tulis koran Merdeka, edisi 4 Februari 1981.

 Semakin mendekat…ternyata Tampomas II, kapal penumpang kebanggaan Indonesia terbakar.

BACA JUGA: Panon Hideung…Hikayat Pertemuan Nada Dunia

 Melalui saluran radio, KM Sangihe mengirim kabar ke radio pantai di Surabaya dan Ujung Pandang. Juga ke kapal-kapal lain yang berada di sekitar perairan tersebut.

 KM Sangata, KM Niaga XXIX, KM Istana VI, KM Jeruk, KM Wayabullah, KM Adiguna dan KM Brantas segera merapat begitu mendapat kabar dari KM Sangihe.

 Di samping itu, ada juga kapal Sonne milik Jerman, kapal Korea, kapal Inggris dan kapal Singapura yang sedang melintasi perairan Makassar. Mereka memberi pertolongan.

 Tiga hari sebelumya…

Jumat, 23 Januari 1981. KM Tampomas II dijadwalkan berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta tujuan Ujung Pandang (kini Makassar), Sulawesi Selatan. Kerusakan mesin membuat pelayaran tertunda satu hari.

Tanjung Priok, Sabtu 24 Januari 1981…

Peluit panjang berbunyi. Pukul 09.55 WIB KM Tampomas II meninggalkan Tanjung Priok. Merujuk manifes, kapal itu membawa 980 penumpang dewasa, 75 anak-anak, dan 85 awak kapal.

“Diyakini, ada ratusan penumpang gelap, yang tentu saja tak terdaftar di manifes,” tulis Bondan Winarno dalam Neraka di Laut Jawa: Tampomas II. Buku ini ditulis berdasarkan reportase para jurnalis Sinar Harapan dan Mutiara.

Studi pustaka kecil-kecilan JPNN.com berhasil mendapati sejumlah surat kabar yang memberitakan Tragedi Tampomas II.  

Koran Sinar Harapan edisi 3 Februari 1981 menulis, selain mengangkut penumpang, Tampomas II juga membawa banyak kendaraan bermotor.

Kepala Pelni cabang Ujung Pandang B. Sumarto mengatakan, ada 334 motor roda dua; Vespa dan Honda, 197 mobil dan 380 pak kiriman paket pos.

Yang diangkut termasuk kendaraan roda empat jenis Toyota milik NPH Jikala sebanyak 81 buah, Daihatsu milik UD Jujurjaya 30 buah.

“Seorang pimpinan yang mengirim kendaraan bermotor ini mengakui kendaraan yang dikirim dengan KM Tampomas II berisi bahan bakar. Menurutnya, per unit diisi 3-5 liter karena mobil harus dijalankan masuk palka tempat penyimpanan mobil,” tulis koran yang—maaf--kini nasibnya lebih kurang sama dengan Tampomas II.

Minggu, 25 Januari 1981…

Kapal berada di perairan Masalambo ketika ada percikan api di geladak bawah. Di tempat penyimpanan kendaraan bermotor (car deck). Dan cepat menyambar tong minyak pelumas.

Kebakaran! Waktu menunjukkan pukul 20.00 WITA.

Di anjungan, sebagaimana dikisahkan Bondan Winarno, terlihat Nakhoda Tampomas II, Capt. Abdul Rivai mengedarkan pandangan ke arah buritan yang terbakar.

“Ia ingat, pada Juli 1980, dapur Tampomas II juga terbakar di perairan Ujung Pandang,” tutur Bondan, penulis yang belakangan sering membawakan program petualangan kuliner…maknyuuus!

Karena dekat dengan kamar mesin, kebakaran di car deck sangat berbahaya. Nakhoda paham ini. Mesin dimatikan. Tapi, ini membuat selang penyemprot air tak berfungsi. Api menyebar ke ruangan lain. Satu persatu penumpang jadi korban.

Capt. Rivai kembali menyalakan mesin. Rencananya, Tampomas II dibawa ke pulau terdekat, lalu mendamparkannya ke pantai.

Namun, apa boleh buat. Mesin tak berhasil menggerakkan baling-baling. Panas api telah melumpuhkannya.

Radio pun mati. Tak bisa mengirim kabar SOS. Flares (isyarat cahaya) yang dilontarkan ke udara tak menyala. Tampomas II benar-benar dalam bahaya.

Api terus berkobar. Menjalar ke lantai dek. Korban terus berjatuhan. Beberapa orang meloncat ke laut. Sejumlah awak kapal dan penumpang mulai menurunkan sekoci.

“Sebaiknya kita turun saja, Kep,” kata Karel Simanjuntak, seorang awak kapal yang berada di dekat Capt. Rivai.

“Buat apa kita turun kalau belum semua penumpang selamat?” sahut Capt. Rivai, seperti termaktub dalam buku Neraka di Laut Jawa: Tampomas II karya Bondan Winarno.

Mohammad Ichsan, anak sulung Rivai menceritakan, ayahnya bukan tipe orang yang mudah panik. “Ini pernah dialaminya sendiri ketika mengikuti pelayaran ayahnya sebagai nakhoda KM Krawatu dan kapal itu terlanda taifun di Laut Cina Selatan,” tulis koran Kompas, 3 Februari 1981.

Senin, 26 Januari 1981…

Di tengah lautan—sebelah selatan Pulau Matisiri, 220 mil dari Selat Makassar, dekat Pulau Masalambo—Tampomas II yang terbakar, akhirnya tenggelam. Bersemayam di dasar lautan.

Sebelum tenggelam, sebagaimana dikisahkan Wagiman, masih terlihat Capt. Abdul Rivai dengan tenang menolong beberapa penumpang wanita, lalu melambaikan tanggannya, kemudian masuk ke kapal.

Wagiman kepala rombongan PT Pembangunan Jaya, saksi mata Tragedi Tampomas II, tulis koran Merdeka, 4 Februari 1981.

Penyanyi Iwan Fals merekam peristiwa itu dalam lagu bertajuk Celoteh Camar Tolol dan Cemar

api menjalar dari sebuah kapal/jerit ketakutan/keras melebihi gemuruh gelombang/yang datang

sejuta lumba-lumba mengawasi cemas/risau camar membawa kabar…/Tampomas terbakar/risau camar memberi salam…/Tampomas II tenggelam

Ada yang mengisahkan, Nakhoda Tampomas II Capt. Abdul Rivai-lah yang paling sibuk menyelamatkan penumpang lain tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Saat kapal mulai miring, Capt. Abdul Rivai masih tampak sibuk membagikan pelampung ke para penumpang yang tidak berani terjun ke laut.

Bahkan pada detik-detik terakhir saat kapal mulai tenggelam, Capt. Abdul Rivai masih terlihat  di anjungan kapal sambil berpegangan pada kusen jendela.

Ia memegang teguh janjinya untuk menjadi orang terakhir yang meninggalkan kapal saat terjadi bencana.

Capt. Abdul Rivai sempat dikabarkan hilang. Ternyata…--bersambung (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Cerita Letusan Gunung Agung dalam Literasi Bali Kuno


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler