Masih Mau Berikan SKM ke Balita? Awas, Badan Gemuk tetapi Otak Kosong

Selasa, 02 Juni 2020 – 23:37 WIB
Kemenkes Sebut Susu Kental Manis tidak cocok untuk Anak. Foto: Twitter

jpnn.com, JAKARTA - Sejumlah kalangan mengingatkan masyarakat tak berlebihan mengonsumsi susu kental manis (SKM) pada masa pandemi penyakit virus corona 2019 (COVID-19).

Peringatan itu sebagai upaya mencegah gizi buruk ataupun stunting (tumbuh kerdil) pada bayi dan anak-anak, lantaran banyak paket bantuan berupa SKM dan mi instan pada masa pandemi ini.

BACA JUGA: IDAI: Anggaran Covid-19 untuk Sektor Kesehatan Kok Jauh di Bawah Dunia Usaha?

Dirjen Gizi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dhian Dipo menyatakan, SKM bukan pengganti ASI. Menurutnya, SKM memiliki kandungan gula yang terlalu tinggi sehingga membahayakan bayi ataupun anak-anak yang mengonsumsinya.

“Selama ini kami juga melakukan edukasi kepada masyarakat soal pemahaman tentang gizi yang seimbang, yaitu dengan membatasi pangan manis, asin, dan berlemak,” ujarnya dalam webinar bertema Waspadai Stunting di Tengah Pandemi belum lama ini.

BACA JUGA: Catat ya, SKM Tidak Termasuk Kategori Susu

Perempuan berkacamata itu pun mengingatkan akan pentingnya memantau pertumbuhan anak demi mencegah stunting dan gizi buruk yang muncul pada masa pandemi COVID-19. “Jadi saya ingatkan lagi, kalau nanti ada bantuan sosial yang ada bentuknya SKM, itu bukan buat balita," tegasnya.

Lebih lanjut Dhian mengatakan, SKM bukan sesuatu yang baik jika menjadi satu-satunya yang dikonsumsi bayi dan anak-anak. Sebab, SKM bukanlah sumber gizi utama.

BACA JUGA: Masih Banyak Balita Minum Susu Kental Manis  

"Dalam surat edaran Menteri Kesehatan juga kami sampaikan bahwa susu SKM itu tidak diberikan kepada bayi dan balita,” ucapnya.

Pada kesempatan sama anggota Satgas Tumbuh Kembang Anak Pengurus Besar Ikatan Dokter Anak Indonesia (PB IDAI) Dr. dr. Tubagus Rachmat Sentika Sp.A.MARS menyatakan, kadar gula dalam SKM sangat tinggi. Menurutnya, SKM tak baik bagi kecerdasan anak.

“Hukumnya haram menggunakannya karena gulanya sangat tinggi. Proteinnya 15 persen, dikasih tepung terigu delapan persen. Kalau anak balita dikasih minum SKM ini, nanti semua jadi gemuk badannya tetapi otaknya kosong. Jadilah goblok permanen,” ucapnya.

Sementara anggota Komisi IV DPR RI Luluk Nur Hamidah mengatakan, masalah COVID-19 bukan hanya persoalan tentang kesehatan. Menurut dia, orang sakit maupun sehat sama-sama butuh makan.

Dengan adanya pandemi COVID-19, tutur legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, kebutuhan akan pangan tidak berkurang, tetapi produksinya mengalami gangguan. Menurut Luluk, kondisi tersebut jelas akan berdampak terhadap kurangnya pasokan bahan pangan untuk keluarga.

Bila di tingkat keluarga sudah mengalami kelaparan, yang pertama akan terdampak adalah anak-anak. Oleh karena itu Luluk mengharapkan paket bantuan sembako untuk masyarakat terdampak COVID-19 berisi bahan pangan bergizi.

"Penyertaan makanan instan dan SKM di dalam bantuan sembako untuk masyarakat terdampak COVID-19 harus bisa digantikan dengan bahan pangan lain yang bergizi," ujarnya.

Luluk juga menekankan pentingnya diversifikasi pangan. Dengan demikian bahan pakan pokok tidak hanya beras, tetapi juga yang khas daerah tertentu seperti sorgum, jagung ataupun sagu.

"Pentingnya diversifikasi pangan ini juga untuk menyerap hasil-hasil dari daerah setempat, seperti ikan baik darat dan laut," ucapnya.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio yang menjadi pembicara dalam webinar itu menyoroti isi paket bansos ke masyarakat. Dia menyayangkan paket-paket bansos yang maish berisi SKM ataupun krim kental manis.

“Jadi itu seharusnya tidak lagi dipakai untuk bansos. Apalagi SKM, itu kan masih dianggap sebagai susu yang bergizi bagi anak-anak oleh orang tua di kota-kota kecil terutama desa, padahal itu tidak baik bagi kesehatan mereka karena mengandung banyak gula,” ucapnya.(esy/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler