Masih Rendah, Genjot Rasio Doktor

Kamis, 03 Juli 2014 – 07:50 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menyatakan, berdasar laporan Global Competitive Index (GCI), Indonesia berada di posisi kelompok rendah atau efficiency-driven.

Untuk mencapai posisi tertinggi, innovation-driven, daya kreatif dan kemampuan berpikir tingkat tinggi harus ditingkatkan.
 
Dalam peringkat GCI periode 2013-2014, Swiss menjadi negara terbaik dengan skor 5,67. Dalam daftar 30 besar negara terbaik, hanya ada tiga negara dari kawasan ASEAN. Yakni, Singapura di urutan kedua di bawah Swiss. Kemudian, ada Malaysia di urutan ke-24 dan Brunei Darussalam di urutan ke-26.

BACA JUGA: Manipulasi Data PPDB, Siswa Langsung Digugurkan

Di mana posisi Indonesia? Negara ini berada di urutan ke-38 dari total 74 negara yang berpartisipasi.
 
Menteri asal Surabaya tersebut menyatakan, banyak cara untuk meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir tingkat tinggi. "Di antaranya, melalui pengiriman pelajar Indonesia menjadi kontingen olimpiade dunia," ujarnya. Kemarin Nuh melepas kontingen Indonesia untuk berpartisipasi dalam tujuh olimpiade dunia.
 
Tujuh olimpiade dunia tersebut diselenggarakan hampir bersamaan pada Juli ini. Yakni, International Mathematical Olympiad (IMO) di Cape Town, Afrika Selatan; International Physics Olympiad (IPhO) di Astana, Kazakhstan; dan International Olympiad in Informatics (IOI) di Taipei, Taiwan.
 
Kemudian, International Chemistry Olympiad (IChO) di Hanoi, Vietnam; International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) di Suceava, Rumania; International Biology Olympiad (IBO) di Bali; serta International Geography Olympiad (IGEO) di Krakow, Polandia.
 
Nuh mengungkapkan, pemerintah berterima kasih kepada seluruh pelajar yang menjadi kontingen Indonesia. "Negara sangat butuh pelajar-pelajar berkualitas seperti kalian. Sebanyak-banyaknya," ujarnya.
 
Dalam jangka panjang, Nuh berharap para pelajar yang masuk dalam kontingen olimpiade internasional itu menjadi dosen, khususnya dosen bergelar doktor. Menurut dia, saat ini perbandingan jumlah doktor dengan penduduk Indonesia masih jomplang.
 
Dia menyatakan, pada 2008-2009, rasio dosen doktor dengan penduduk Indonesia adalah 98 doktor per 1 juta jiwa penduduk. Untuk perbandingan, dalam periode yang sama, rasio doktor dengan penduduk di Malaysia maupun Singapura sudah sekitar 200 doktor per 1 juta jiwa penduduk. "Alhamdulillah, saat ini ada perkembangan jumlah doktor," kata Nuh.
 
Dia menuturkan, saat ini rasio doktor dengan jumlah penduduk sekitar 120 doktor per 1 juta jiwa penduduk. Pada saat yang sama, rasio doktor di Malaysia dan Singapura terus melejit sekitar 300 doktor per 1 juta jiwa penduduk.

"Kesimpulannya, peningkatan doktor saat ini belum cukup. Sebab, negara-negara lain juga menggenjot peningkatan rasio doktor," jelasnya.
 
Bagi pelajar-pelajar yang berprestasi hingga skala internasional, Kemendikbud menyiapkan beasiswa pendidikan di dalam maupun di luar negeri. Diharapkan, setelah lulus tingkat S-1, S-2, atau S-3, mereka kembali ke tanah air. (wan/c5/kim)

BACA JUGA: Ortu Keluhkan Sistem Online

BACA JUGA: Sekolah Negeri Sepi Peminat

BACA ARTIKEL LAINNYA... Larangan Ekskul Pecinta Alam Diprotes


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler