Masih Yakin Partai Berasas Islam Bisa Moncer di Pemilu jika Tak Ada Kasus Model Ahok?

Rabu, 10 Februari 2021 – 14:04 WIB
Cendekiawan muslim Prof Azyumardi Azra. Foto: Antara/Anom Prihantoro

jpnn.com, JAKARTA - Cendekiawan muslim Prof Azyumardi Azra menilai partai-partai berasas Islam bakal sulit mendulang suara signifikan pada Pemilu 2024.

Penilaian mahaguru di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu didasari argumen bahwa politik identitas sudah mencari, termasuk di kalangan umat Islam.

BACA JUGA: Gelora Partai Islam Nasionalis, Ustaz Mahfuz Ajak Siapa pun Bergabung demi Bawa RI Masuk 5 Besar Dunia

"Kecenderungan politik identitas itu sudah buyar. Sempat meningkat pada Pilkada DKI, tetapi setelah itu makin terpecah belah," kata Azyumardi Azra dalam kanal Bravos Radio Indonesia di YouTube yang dikutip JPNN.com, Rabu (10/2).

Politik identitas sempat menguat saat Basuki T Purnama alias Ahok selaku calon petahana pada Pilkada DKI dianggap menista Islam. Pernyataan Ahok memantik serangkaian aksi unjuk rasa besar-besaran, di antaranya ialah Akai 411 pada 4 November 2016 dan Aksi 212 pada 2 Desember 2016.

BACA JUGA: Ahmad Dhani Nilai Vonisnya Sebagai Balas Dendam Kasus Ahok

Polisi akhirnya menjerat Ahok. Selanjutnya Ahok menjadi terdakwa perkara penghinaan agama dan diganjar hukuman 2 tahun penjara.

Namun, Azyumardi Azra menilai politik identitas itu sudah memudar lagi ketika Prabowo Subianto memilih menggandeng Sandiaga S Uno pada Pilpres 2019. Kala itu Prabowo justru menolak figur ulama sebagai calon wakil presiden (cawapres) pendampingnya.

BACA JUGA: Azyumardi: Maaf kepada Pak Mahfuz, Meski Sering Bertemu tetapi Harus Saya Katakan

"Puncaknya ketika Prabowo menolak calon ulama untuk jadi cawapresnya dan mengambil Sandiaga Uno. Ditambah lagi saat Prabowo masuk kabinet. Jadi kekuatan politik identitas itu antara ada dan tidak ada," tutur Azyumardi.

Apakah politik identitas bisa muncul lagi ke depan? Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini menyatakan bahwa kondisi itu bisa muncul asalkan ada faktor pemicu seperti kasus Ahok.

"Kalau mau politik identitas muncul lagi dibutuhkan orang seperti Ahok dengan mulutnya yang pedas. Nah baru politik identitasnya muncul lagi. Kita lihat dalam pemilu legislatif kemarin dan dalam pilkada  tidak ada figur seperti itu, susah mencari figur yang berani seperti itu," tuturnya.

Oleh karena itu Azyumardi meragukan parpol-parpol berasas Islam termasuk yang baru dideklarasiklan bakal melejit.

Sejumlah parpol baru berasas Islam antara lain Partai Gelora yang digawangi Anis Matta dan Fahri Hamzah, Partai Ummat yang dipelopori Amien Rais, ataupun Masyumi Reborn besutan A Cholil Ridwanan

"Saya berani mengatakan mereka tidak punya prospek mendapatkan suara yang signifikan dalam Pemilu 2024 yang akan datang, baik pemilu legislatif maupun pilpres," tandasnya.(esy/jpnn)

 

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler