Masukan & Harapan Muhammadiyah ke Jokowi Andai Terpilih Lagi

Senin, 06 Agustus 2018 – 20:28 WIB
Presiden Joko Widodo bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam pertemuan di Istana Negara, Senin (6/8). Foto: Ricardo/JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir memberikan enam masukan kepada Presiden Joko Widodo. Haedar mengharapkan masukannya bisa diakomodasi dalam Nawacita Jilid II jika presiden yang beken disapa dengan panggilan Jokowi itu kembali terpilih memimpin Indonesia untuk periode 2019-2024.

Haedar menyampaikan masukannya secara langsung saat mendampingi pengurus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) beraudiensi dengan Presiden Jokowi di Istana Negara, Senin (6/8). Masukan pertama dari Haedar adalah menjadikan nilai-nilai agama sebagai nilai luhur bebangsa dan bernegara.

BACA JUGA: Opsi Lain Kiai Nahdiyin andai Jokowi Tak Gandeng Cak Imin

"Kami sampaikan betapa pentingnya negara untuk memperhatikan nilai-nilai agama sebagai perwujudan Tuhan YME sebagai basis nilai warga kita, agar bersikap luhur, damai, toleran dan maju. Sekarang kita merasakan, hanya karena tujuan-tujuan politik, kemudian jebol keadabannya," ucap Haedar dalam jumpa pers usai bertemu Presiden Jokowi.

Masukan kedua dari Haedar adalah peneguhan nilai Pancasila. Dia bersyukur karena saat ini sudah ada Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

BACA JUGA: Sekjen Parpol Koalisi Jokowi Mau Bertemu Lagi, Ini Agendanya

Namun, Haedar tetap berharap agar ke depan pemantapan nilai-nilai Pancasila menjadi bagian Nawacita. Dengan demikian nilai-nilai luhur bangsa itu bisa menjadi dasar berpikir, dasar moral serta orientasi tindakan bagi seluruh aparat pemerintahan dan warga negara.

Masukan ketiga Haedar terkait dengan hal yang pernah dia diskusikan dengan Jokowi. Yakni tentang memfokuskan upaya tentang implementasi kebijakan yang berkeadilan soosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

BACA JUGA: Jokowi Buka Masalah Freeport di Depan Mahasiswa Muhammadiyah

"Pak Presiden sendiri sudah punya program ke depan, beliau ingin new economics policy, kebijakan ekonomi baru yang insyaallah kalau keadilan sosial jadi basic, kan ini cita-cita Bung Hatta," tutur pengganti Din Syamsuddin di kursi ketua umum PP Muhammadiyah itu.

Keempat tentang kedaulatan. Muhammadiyah, kata Haedar, sudah paham bagaimana pemerintahan sekarang ini melakukan renegosiasi 51 persen saham PT Freeport Indonesia.

Selain itu, pemerintah juga telah mengambil alih Blok Rokan di Riau yang selama 94 tahun dikuasai asing untuk diserahkan ke PT Pertamina (Persero). "Ke depan harus dalam mindset besar bahwa Indonesia yang besar dan kaya rasa punya prinsip kedaulatan," tegasnya.

Poin usulan kelima Muhammadiyah adalah fokus pada sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan iptek. Karena itu, Muhammadiyah mendorong revitalisasi pendidikan dan kebudayaan.

"Pasca-kesuksesan dalam infrastruktur, saya yakin ke depan kalau Indonesia kick off untuk SDM, insyaallah akan menjadi negara yang berdaya saing tinggi," jelasnya.

Poin terakhir masukan Haedar adalah soal peran Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dalam percaturan internasional. Muhammadiyah mendorong pemerintah bisa memainkan peran strategis Indonesia untuk mengantisipasi gejolak di Timur Tengah agar tak berdampak hingga tanah air.

"Kita tahu Timur Tengah terus bergejolak dan dampaknya bisa ke Indonesia. Indonesia lebih baik proaktif untuk selesaikan problem Timur Tengah dan menciptakan politik bebas aktif, tapi betul-betul jadi leading di dunia Islam," pungaks Haedar.(fat/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jokowi: Siapa yang Ngomong!


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler