Mayjen Andi Sumangerukka, Jenderal Sederhana yang Dekat dengan Masyarakat

Selasa, 30 Maret 2021 – 19:21 WIB
Mayjen Andi Sumangerukka (kanan) ketika dilantik menjadi Pangdam XIV/Hasanuddin oleh KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa. Foto: Dok. Pribadi

jpnn.com, JAKARTA - Sosoknya dikenal bersahaja dan sederhana. Kendati menyandang status jenderal bintang dua, Mayor Jenderal TNI Andi Sumangerukka tak pernah gila hormat. Hingga sekarang, pribadinya dikenal santun, membumi, dan tak sungkan blusukan menemui masyarakat.

Sejatinya, Andi Sumangerukka merupakan seorang bangsawan Suku Bugis, Sulawesi Selatan. Meski begitu, tidak menjadi halangan dirinya untuk selalu dekat dengan rakyat.

BACA JUGA: Pesan Mayjen Andi Sumangerukka untuk Seluruh Prajurit, Tegas

Dalam hidupnya, jenderal bintang dua ini memiliki prinsip. Apalagi setelah menjadi seorang anggota TNI. Persoalan rakyat sudah menjadi prioritas utama, sehingga Andi Sumangerukka selalu terpanggil untuk turut andil membangun ibu pertiwi.

Lahir 11 Maret 1963 di Makassar, Sulawesi Selatan, Andi Sumangerukka merupakan anak dari pasangan Mayor (Purn) TNI H. Syam Daud dan Hajjah Andi Azizah.

BACA JUGA: Wanita Berbaju Kuning Sudah Tampil Cantik, Tetapi yang Datang Bukan Pelanggan

Andi Sumangerukka sejak lahir memang sudah mengalir darah TNI. Meski lahir dari kalangan elit, namun dia tak segan untuk terjun langsung berhadapan dengan publik.

Dekat dengan rakyat membuatnya makin mengutamakan kepentingan banyak orang. Misalnya, saat masyarakat di Sulawesi Barat yang beberapa waktu lalu mengalami musibah gempa bumi.

BACA JUGA: Polisi Keluarkan Peringatan untuk Simpatisan Habib Rizieq

Dia tak mau hanya duduk berdiam diri dibalik kursi empuknya sembari menunggu laporan, tetapi justru terjun langsung dan menjadi garda terdepan untuk meringankan masalah para korban bencana.

Mulai dari membantu evakuasi para korban, pendirian posko darurat hingga pembagian sembako bagi masyarakat.

Tidak hanya itu, di tengah pandemi virus COVID-19 menyerang negara ini, dia pun lagi-lagi tak mau ketinggalan untuk turun langsung membantu.

Sebagai perwira tertinggi di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat, dia menjadi garda terdepan memimpin para prajuritnya guna membantu pemerintah memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19.

Di kalangan orang terdekatnya, Andi Sumangerukka memiliki panggilan akrab. Puang atau Jenderal Kota Lama sapaan akrab bagi orang-orang terdekatnya.

Dengan jiwa sosial yang tinggi, dia kemudian membentuk organisasi sosial yang bernama Aku Sahabat Rakyat (ASR). Yang pada akhirnya ASR tersebut menjadi Motto Prajurit TNI, khususnya wilayah Kodam XIV/ Hasanuddin.

“ASR ini dibentuk untuk kepentingan rakyat. Tujuannya, agar prajurit TNI dapat terjun langsung mendengar, menyerap aspirasi rakyat dan menuntaskannya,” kata Andi Sumangerukka saat berkunjung di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara beberapa waktu lalu.

Karena selalu terlibat dalam urusan sosial, ASR saat ini rupanya cepat mendapat respons positif. Terbukti dalam beberapa bulan ASR terus meluas, sejumlah komunitas khususnya pemuda milenial, dengan sukarela membentuk Komunitas ASR, sukarelawan ASR yang totalnya kini mencapai ribuan orang yang tersebar di Sulawesi Tenggara, khususnya.

Pria lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1987. Saat menjalani pendidikan militer, dia mengambil kualifikasi kecabangan artileri pertahanan udara. Meski menjadi pimpinan di tiga provinsi, dalam setiap kunjungan kerjanya sebagai Panglima Kodam XIV/ Hasanuddin, Andi selalu terlihat sederhana dan tidak ingin disambut meriah.

Ada cerita unik saat dalam kunjungan kerjanya sebagai Pangdam XIV/Hasanuddin di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara beberapa waktu silam.

Ketika itu, sejam sebelum kedatangannya, sejumlah prajurit TNI dan pejabat pemerintahan serta para kerabatnya terlihat beriringan menggunakan mobil yang dikawal Patroli Polisi Militer menuju Lokasi pendaratan Helikopter yang di tumpanginya.

Melihat penjemputan yang terlalu berlebihan dari udara, Andi Sumangerukka lantas meminta pilot untuk melakukan pendaratan di tempat berbeda yang cukup jauh dari lokasi yang sudah ditentukan. Padahal, semua rombongan sudah berkumpul dan siap menyambutnya.

Setelah menunggu hampir sejam, helikopter tak kunjung mendarat, rombongan yang menjemput panik, entah apa yang terjadi sehingga helikopter sekejap menghilang.

Tiba-tiba, telepon genggam salah satu penjemput berdering, ternyata panggilan telepon dari ajudan Andi Sumangerukka. Setelah berbincang, ternyata ajudan Andi Sumangerukka memberitahukan bahwa jenderal sudah mendarat dengan selamat dan tengah menikmati hidangan makan siang di Metro Resto, salah satu restoran di Kota Baubau. Mendengar kabar itu, seluruh rombongan kemudian menuju Metro Resto.

Alhasil, rundown acara yang sudah disiapkan pun berantakan, acara pengalungan bunga, tari-tarian dan lain-lain sebagai bentuk penghormatan bagi para pejabat batal. Setelah semua rombongan tiba di Metro Resto, dari kejauhan Andi Sumangerukka tertawa terbahak melihat kepanikan penjemput sembari menyantap hidangan khas Sulawesi Tenggara di meja makan.

Hal-hal seperti ini terkadang yang membuat Andi Sumangerukka sangat dikagumi. Baik oleh rakyat maupun para prajuritnya.

Bintang dua yang melekat di pundaknya tidak membuat jemawa, bahkan dia mampu dekat dengan bawahannya tanpa memandang pangkat dan jabatan.

Terbukti, saat dilangsungkannya pertemuan dengan seluruh Babinsa se-Kepulauan Buton di salah satu Aula di Kota Baubau. Sang jenderal terlihat begitu sederhana, bahkan saat menjawab pertanyaan-pertanyaan para prajurit TNI yang hadir dengan suasana penuh keakraban, hingga tak sedikit dari para prajurit TNI juga sempat berkeluh kesah tentang kehidupan sehari-hari mereka. (rhs/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler