Melancong ke Hotel Pertama di Kota Padang

Sabtu, 04 Juli 2020 – 14:40 WIB
Hotel Sumatra. Foto: KITLV

jpnn.com, PADANG - Sebuah foto dari masa lampau mengundang kita bertamasya ke Hotel Sumatra. Orang Belanda menyebutnya Rumah Padang. Kisahnya bertebaran dalam catatan para pengembara Eropa.

WENRI WANHAR

BACA JUGA: Benarkah Ekspedisi Pamalayu Penaklukkan Jawa atas Sumatera? Ini Bukti Arkeologisnya...

Foto yang Puan dan Tuan saksikan di atas adalah koleksi Dr. Rouffaer, satu di antara pendiri dan pemimpin Koninklijk voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV), lembaga ilmu pengetahuan yang didirikan Kerajaan Belanda pada 1851 untuk menghimpun informasi sebanyak-banyaknya tentang negeri jajahan.

Sedikit cerita tentang Dr. Rouffaer…dialah orang pertama yang memastikan bahwa Dharmasraya, dulu disebut-sebut sebagai negeri yang hilang, berada di huluan Batanghari. Dia pula yang memastikan bahwa Melayu Kuno adalah Jambi.

BACA JUGA: Sumatera Negeri Perempuan dalam Kisah Sun Go Kong

Entah buaya entah katak, entah iya entahlah tidak. Yang pasti, teori Rouffaer masih bertuah.

Buktinya, saat pemekaran wilayah Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung 16 tahun lampau, rakyat di wilayah huluan Batanghari memakai nama Dharmasraya sebagai kabupaten termuda di Sumatera Barat.

BACA JUGA: Lebaran, Pakaian Nabi Muhammad Selalu Merah

Dan, orang-orang Jambi, hingga hari ini masih berbesar hati menyebut diri sebagai pewaris adat Melayu Kuno.

Dr. Rouffaer ini pula yang berjasa besar mengumpulkan foto-foto lawas Hindia Belanda tempo doeloe.

Bila saudara sekalian pernah melihat foto hitam putih dari zaman Belanda, bisa dipastikan, nyaris seluruhnya—meski bukan semua—adalah arsip KITLV.

"Di seluruh dunia, tak ada yang menyediakan koleksi mengenai tanah jajahan Belanda dan sekitarnya yang begitu luas dan mudah diakses selain KITLV," begitu klaim KITLV dalam buku katalog pameran Treasure.

Orang yang memainkan peran penting memulai langkah itu, sebagaimana diakui pihak KITLV, adalah Dr. Rouffaer.

Bahkan pada masa-masa awal lembaga itu berdiri, Rouffaer membeli banyak potret dengan uang pribadinya untuk disumbangkan ke KITLV.

Satu di antaranya adalah potret Hotel Sumatra yang didapatkan Rouffaer dari Woodbury & Page, rombongan tukang potret profesional generasi awal di Hindia Belanda yang berbasis di Batavia.

Menurut keterangan, gambar Hotel Sumatra di atas dijepret pada 1867.

Belum diketemukan catatan pasti kapan Hotel Sumatra dibangun. Namun, menurut penelitian Dr. Suryadi Sunuri, urang awak yang jadi dosen di Leiden, Belanda, berdasarkan angka tahun 1867 yang tertera di keterangan gambar, maka Hotel Sumatra adalah hotel pertama di Kota Padang.

Hotel legendaris yang dulu berlokasi di daerah Berok Muaro--sekitar penjara sekarang—kini sudah tak ada lagi.

Untungnya, satu bundel arsip lawas bertajuk Midden Sumatra (1877-1879), memuat catatan perjalanan pengembara dari Belanda yang menginap di Hotel Sumatra pada 23 Februari 1877.

Berbekal arsip itu mari mengembara ke masa lampau.

Pada 23 Februari 1877. Kapal Conrad milik maskapai pelayaran Belanda berlabuh di Padang. Bukan Teluk Bayur. Karena Teluk Bayur, yang awalnya bernama Pelabuhan Emmahaven baru dibangun Belanda pada rentang 1888-1893.

Gerak-gerik kapal itu dipantau Van Hasselt, yang sedari tadi menanti di dermaga Muaro Batang Arau. Kapal Conrad lepas jangkar di perairan Gunung Padang. Antara Muaro Sungai Padang (Batang Arau) dan Pantai Air Manis, di mana kisah Siti Nurbaya dan Malin Kundang melegenda.

Satu per satu orang-orang dari kapal itu turun ke perahu kecil. Lalu meluncur ke bibir Muaro. Meliuk-liuk melintasi batu-batu besar yang menjura ke laut dari kaki-kaki Gunung Padang. Bola mata Hasselt terus membuntuti.

Yang pertama menapakkan kaki ke daratan dermaga Padang; Schouw Santvoort. Disusul Snelleman dan D. D. Veth.

Van Hasselt segera menyongsong. Dari pelabuhan Padang, Van Hasselt memandu Schouw Santvoort dan kawan-kawan naik bendi ke Hotel Sumatra. Hotel pertama di Padang. Milik Tuan Dil.

Hotel Sumatra pada 23 Februari 1887 itu rupanya penuh. Pelayan hotel memberitahukan tak ada kamar kosong. Setelah merundingkan segala kemungkinan, akhirnya malam itu hanya Veth dan Snelleman yang menginap di sana. Itu pun di salah satu bangunan tambahan.

Keduanya--Veth dan Snelleman--kemudian hari menjadi lakon penting. Mereka termasuk generasi awal Belanda yang menjelajah ke pedalaman Sumatera dan mendokumentasikannya.

Termasuk mendokumentasikan cerita pemandangan di Hotel Sumatra berikut, yang pernah juga diterjemahkan Frieda Amran, antropolog yang bermukim di Belanda untuk Kajanglako, dari arsip Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879, jilid II, suntingan P. J. Veth, terbitan Leiden, 1882.

Sekadar catatan, arsip serial ekspedisi Midden Sumatra lainnya, yang jilid I misal, disunting P. J. Veth bersama Van Hasselt, orang yang menyambut Schouw Santvoort, Snelleman dan D. D. Veth ketika baru tiba di Padang. Van Hasselt ini kemudian hari, di ranah ilmu pengetahuan dikenal sebagai Profesor Etnologi.

Malam itu, diterangi sinar lampu minyak kelapa, Snelleman dan D. D. Veth menuju kamar. Langkah hati-hati berderap-derap menaiki tangga rumah panggung.

Pendatang baru itu langsung tergamang karena belum terbiasa melihat lantai pecah bambu. Keresahan tergambar dari catatan mereka.

"Lantainya berlubang-lubang dan retak di sana-sini. Berjalan di atasnya harus hati-hati, agar tidak menjatuhkan apa-apa yang dapat hilang bila terjatuh ke bawah."

Temaram cahaya lampu minyak kelapa membayang ke langit-langit serambi yang dilindungi atap lebar disangga bambu. Beratapkan daun rumbio, penginapan tambahan Hotel Sumatra yang terdiri dari satu ruangan besar, dan satu ruangan kecil di bagian belakang.

Bangunan tambahan serupa terlihat ada beberapa. Kondisinya lebih kurang sama. Kata mereka, bila angin laut bertiup kencang, atap dari anyaman daun itu terangkat sedikit dan bambu-bambu penopangnya bergoyang tidak karuan.

Bambu memang menjadi bahan dasar bangunan tambahan. Lain dengan bangunan utama yang didominasi kayu. Dari cara mereka menggambarkan bangunan utama hotel, tergambar jelas bahwa orang-orang Eropa ini masih aneh melihat rumah panggung.

Simak saja kesan yang mereka catat berikut ini;

"Pondasinya beberapa batu besar. Di atas batu-batu itu didirikan tiang-tiang kayu. Di tiang-tiang kayu itulah bangunan hotel berdiri. Keseluruhan ruangnya dari kayu. Termasuk jendela dan daunnya."

Kini, sebelum masuk ke bangunan utama, mari tengok lagi potret di atas. Pekarangannya tampak luas. Bendi atau kereta kuda lazim terparkir. Bangunan utama lebih tinggi di banding penginapan tambahan (lihat bangunan di sudut kiri).

Dua tangga mengantar pengunjung ke selasar. Dan, ayo masuk ke dalam...

Bangunan itu dibelah lorong panjang yang berakhir dengan tangga-tangga ke halaman belakang hotel. Sepanjang lorong, kamar berjejer di kanan kiri. Koper dan peti-peti milik tamu yang menginap menghiasi lorong itu.

Pintu-pintu kamar menghadap ke lorong. Di dalam kamar, dua buah jendela menghadap ke luar bangunan.

Seluruh bangunan dipoles rapi dengan kapur berwarna putih. Atap daun rumbio menjulur beberapa meter melewati dinding-dinding bangunan.

Tiang-tiang, sebagaimana tonggak tuo rumah-rumah panggung di Sumatra, bagian bawahnya berbentuk segi empat dan bagian atasnya berbentuk segi delapan. Ruangan di kolong panggung digunakan sebagai dapur dan gudang.

Malam pertama di Padang, kota pelabuhan Pantai Barat Sumatra, dilewatkan Snelleman dan D. D. Veth di bangunan tambahan yang tak jauh dari bangunan utama.

Berbekal cahaya lampu minyak kelapa, mereka menyigi. Dinding ruangan berlapis kertas, yang lemnya terlepas di sana-sini.

"Tikus-tikus yang pada siang hari tidur dan bersembunyi di balik kertas pelapis dinding itu, muncul dan berkeliaran menjelang malam. Di dalam kamar, perabotan yang tersedia sesuai dengan suasana di penginapan. Kapuk di dalam bantal, sabun di wastafel, semuanya tampaknya digunakan bersama-sama dengan tikus-tikus yang terdengar gemericit,” kenang mereka.

Di sinilah dua orang pengembara kita bermalam untuk beberapa hari lamanya. Ahaaai… pengalaman pertama yang cukup berkesan. (*)


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler