Melihat Rumah Singgah Bung Karno di Lereng Gunung Slamet

Senin, 12 Maret 2018 – 03:00 WIB
Salah satu ruangan di rumah tempat singgah Bung Karno di lereng Gunung Slamet, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Foto: radartegal.com

jpnn.com - Wilayah lereng Gunung Slamet di Kabupaten Pemalang tidak hanya memiliki potensi wisata alam, tetapi juga tenpat sejarah. Hal yang jarang diketahui tentang lokasi bersejarah di Gunung Slamet adalah tempat singgah Presiden Soekarno di masa penjajahan Belanda.

Ada sebuah rumah di Dukuh Sibedil, Desa Gunungsari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang yang pernah menjadi tempat menginap Proklamator RI yang beken dengan panggilan Bung Karno itu. Rumah yang dikenal dengan sebutan Omah Perjuangan itu dibangun pada 1837 dan masih berdiri kukuh.

BACA JUGA: Ini Kata Fadli Zon soal Larangan Pemasangan Foto Bung Karno

Hampir semua bagian bangunan rumah yang terbuat dari kayu pohon nangka itu masih asli. Sejumlah perabotan di dalamnya seperti meja, kursi, lemari dan ranjang juga masih terawat.

Terdapat senjata dan foto dalam bingkai yang tergantung di dinding rumah. ‎Salah satu foto yang menarik perhatian adalah potret hitam putih yang menunjukkan Presiden Indonesia pertama Soekarno tengah duduk di sebuah ruangan bersama KH A Wahab Hasbullah. Kedua tokoh nasional itu terlihat tengah khusyuk berdoa.

BACA JUGA: PDIP Keberatan Larangan Pasang Foto Bung Karno

“Tempat Soekarno dan KH Wahab duduk itu ada di salah satu ruangan di Omah Perjuangan ini. Dulu saat zaman kemerdekaan, rumah ini pernah menjadi tempat singgah Soekarno," kata Kepala Desa Gunungsari Teteg Winanteya kepada radartegal.com.

BACA JUGA: Gambar Bung Karno Dilarang jadi Alat Peraga Kampanye

Menurut Teteg, kala itu Soekarno tengah dalam perjalanan menuju Yogyakarta bersama pasukan dari Divisi Siliwangi. Bung Karno singgah ke rumah itu dalam perjalanan hijrah ke Yogyakarta setelah sebagian wilayah Pulau Jawa jatuh ke tangan Belanda.

Guna menghindari pasukan Belanda, Soekarno dan rombongan sengaja memilih jalur yang melalui wilayah di lereng Gunung Slamet. ‎"Saat melewati wilayah Pemalang, beliau bersama KH Wahab dan pasukan Divisi Siliwangi kemudian singgah di rumah ini untuk beristirahat satu hari satu malam, sebelum melanjutkan perjalanan," ungkap Teteg.

Omah Perjuangan memiliki luas sekitar 200 meter persegi. Pemiliknya adalah Patmo yang kini sudah tiada.

Patmo bersama istrinya, Resti semasa hidupnya ikut terlibat secara langsung dalam perjuangan meraih kemerdekaan. Senjata-senjata untuk melawan Belanda juga dipasok kepada pejuang di rumah itu.

"Keluarga besar penghuni rumah ini kebanyakan menjadi pejuang kemerdekaan melawan Belanda. Ada tiga anak Mbah Patmo yang menjadi tentara, dua di antaranya gugur. Rumah ini juga dijadikan dapur umum untuk para pejuang," tutur Rasman (64), salah satu keturunan Patmo.

Tak hanya ikut menyokong perjuangan kemerdekaan melawan Belanda, Omah Perjuangan juga pernah dijadikan sekolah. rumah bersejarah itu dijadikan sekolah tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan RI.

"Tahun 1962 bagian depan rumah pernah dijadikan sekolah karena waktu itu belum ada sekolah yang memadai. Selain itu, karena dijadikan dapur umum pejuang, tiga kali rumah ini juga pernah diserang pasukan DI/TII (Darul Islam/Tentara Nasional Indonesia (DI/TII, red),” ungkap Rasman sembari menunjukkan beberapa lubang di tembok dan kaca lemari bekas peluru.

Teteg mengatakan, Omah Perjuangan akan dijadikan wisata edukasi dan dibuka untuk masyarakat. Langkah itu juga demi melestarikan keberadaannya.

"Sebagian besar bangunan rumah masih asli. Hanya atap yang diganti karena atap yang lama sudah hancur. Kami harap bisa menjadi wisata edukasi, khususnya sejarah dan ikon Desa Gunungsari juga Kabupaten Pemalang," harapnya.(far/zul/jpg)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ponikem Menenteng Senjata M1 Garand saat Ganyang Malaysia


Redaktur & Reporter : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler