Memburu Bukti Baru dari Komputer Nazar

Rabu, 03 Agustus 2011 – 06:00 WIB
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita sebuah komputer dari rumah M Nazaruddin, tersangka kasus dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games Palembang, Sumatera Selatan. Tim penyidik KPK menggeledah rumah Nazaruddin di bilangan Pejaten Barat, Jakarta, Selasa (2/8/2011), dalam rangka penyidikan kasus dugaan suap wisma atlet. Foto: Raka Denny/Jawa Pos

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya mulai kesal dengan "nyanyian" MNazaruddin yang tidak disertai bukti

BACA JUGA: AKBP Mindo Merasa Jadi Korban Konspirasi

Apalagi, ocehan tersangka kasus wisma atlet SEA Games 2011 itu juga menyinggung internal KPK
Tidak mau polemik terus berlanjut, kemarin (2/8) KPK menggeledah rumah mantan bendahara umum Partai Demokrat itu.
   
Rumah yang dituju oleh empat mobil KPK itu adalah rumah mewah di Jalan Pejaten Barat nomor 7 Jakarta Selatan

BACA JUGA: Pembuatan e-KTP Molor 18 Agustus

Penyidik KPK yang terdiri sekitar 12 orang itu sampai di rumah Nazaruddin pukul 11.00
Mereka ditemani Brimob dari Detasemen Gegana Mabes Polri Bripka Ifoel dan seorang anggota pertahanan sipil (hansip) setempat M

BACA JUGA: Isteri Gus Dur Minta Umat Beragama Bersatu

Ali.
   
Begitu sampai, Bripka Ifoel meminta satpam rumah membuka pagar hunian yang dominan berwarna putih ituSetelah semua masuk, dia langsung menutup pintu dan memasang gembok kembaliTidak satupun awak media yang diizinkan masuk"Ini tertutup," ujar Ifoel singkat.

Setelah itu, keempat mobil tersebut diparkir di halaman rumahTiga mobil kelas multi purpose vehicle (MPV) tersebut diletakkan tepat di depan pintu masukSementara satu mobil dengan plat nomor B 1901 UFR diletakkan di samping halaman yang juga jadi lapangan basket mini.

Kurang lebih sekitar 3 jam 30 menit penyidik melakukan penggeledahanPantauan Jawa Pos, penyidik membopong sebuah kardus berwarna cokelatKardus tersebut lantas dimasukkan ke dalam mobil bernopol B 1145 SKASekitar pukul 14.40 seluruh rombongan mulai meninggalkan rumah tersebut.

Kali pertama yang keluar adalah MAliDia mengaku dilibatkan dalam penggeledahan itu sebagai saksiSelama pemeriksaan, dia menjelaskan jika instansi pimpinan Busyro Muqoddas itu menyisir semua isi ruangan rumah yang memiliki luas sekitar 35 x 50 meter itu"Semuanya mereka periksa," ujarnya.

Ali yang masih berseragam hansip lengkap itu menambahkan jika KPK juga menyisir lantai dua rumah tersebutNamun, dia mengaku tidak ikut ke atas karena menemani penyidik yang ada di lantai dasar"Yang saya tahu mereka membawa satu komputerBarang lainnya kurang tahu," imbuhnya.

Sekitar lima menit kemudian, seluruh rombongan KPK baru meninggalkan rumah tersebutDalam kendaraan tersebut memang terlihat satu kardus cokelat yang diamankanSelain itu, KPK juga ikut membawa dua orang satpam yang sehari-harinya menjaga rumah Nazaruddin.

Saat meninggalkan rumah, tidak seorang pun penyidik yang mau memberikan komentarMereka kompak tutup mulut dan meninggalkan rumah dengan jendela mobil tertutupDi bagian lain juru bicara KPK Johan Budi mengatakan bahwa penggeledahan tersebut untuk melengkapi keperluan penyidikan

Tetapi, Johan enggan menerangkan lebih rinci apakah penggeledahan tersebut untuk keperluan kasus wisma atlet yang sudah menyeret Nazaruddin sebagai tersangka atau untuk keperluan mencari rekaman pertemuan antara Wakil Ketua KPK Chandra M Hamzah dan Nazaruddin yang disebut-sebut terekam dalam CCTV"Pokoknya kami ingin mencari bukti-bukti lain," ujarnya singkat

Bisa jadi, tujuan penggeledahan tersebut memang untuk mencari bukti keterlibatan Chandra MHamzahSebab, rekaman CCTV biasanya memang tersimpan dalam satu server dan tersimpan di hard diskLantaran butuh ruang penyimpanan besar, kemungkinan tersimpannya rekaman itu di komputer desktop yang dibawa KPK makin besar.

Kalaupun data-data tersebut dihapus, banyak software yang bisa mengembalikan data dalam hard disk ituPengembalian data tersebut bisa jadi sangat penting bagi KPKSebab, bakal banyak data di dalamnya termasuk bukti perputaran uang dalam jumlah besar di kongres Partai Demokrat tahun lalu yang memenangkan Anas Urbaningrum.

Tidak hanya itu, kalau memang Nazaruddin memang menyimpan semua dokumennya di komputer tersebut, pengakuan sopir Nazaruddin yakni Aan, Dayat, Dede dan Jauhari di Metro TV bisa jadi benarSebab, saat itu para supir mengakui ada kedekatan khusus antara bosnya dengan Anas Urbaningrum.

Bahkan, Jauhari menegaskan jika semua proses tersebut terekam dalam CCTV yang ada di NazaruddinTerutama penyaluran uang ke Bandung yang dijejalkan dalam mobil boks dan espassDari pengakuannya, ada 19 kardus dengan bukti kas keluar USD 75 ribu, dan USD 200 ribuSelama di Bandung, uang tersebut tersimpan di kamar Hotel Aston.

Disinggung mengenai hal itu, Johan buru-buru mengklarifikasi bahwa itu penggeledahan murni untuk menelusuri kasus sesmenpora yang menjadikan Nazaruddin sebagai tersangka"Target kami, untuk cari data pendukung," tandasnya.

Terkait Satpam rumah, Johan membenarkan jika mereka dibawa ke gedung KPKKabarnya, Satpam tersebut langsung diperiksa begitu penyidik sampai di gedung H.R Rasuna Said pukul 16.00Dia mengatakan jika pemeriksaan lanjutan tersebut dilakukan hanya untuk meminta keterangan yang bersangkutan sebagai saksi.

Terpisah Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein saat ditemui dalam acara buka puasa bersama di gedung Komisi Yudisial (KY) mengatakan bahwa dari hasil laporan yang dikumpulkan PPATK, transaksi perbankan yang berkaitan Nazaruddin kembali meningkat"Sekarang jadi 150 transaksiTerus naik," kata Yunus

Seperti yang diketahui, sebelumnya PPATK pernah melansir bahwa data transaksi mencurigakan yang diduga berkitan dengan Nazaruddin sebanyak 109 transaksi, kemudian meningkat menjadi 144terakhir mencapai 150.

Menurutnya 150 transaksi tersebut bukan hanya merupakan transaksi perseorangan, melainkan yang lebih banyak adalah transaksi perusahaanHal tersebut diperkuat dengan banyaknya perusahaan yang dimiliki oleh Nazaruddin.
     
Apakah transaksi tersebut sudah dilaporkan ke KPK? Pria yang mencalonkan diri sebagai pimpinan KPK itu mengaku belum semua data yang dimilikinya dilaporkanSebab, masih ada beberapa data yang masih dalam proses penelusuran"Tapi saya tidak hafal semua itu," jelasnya.
     
Sementara itu, Mabes Polri masih terus mendalami kasus dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan Nazaruddin kepada Anas UrbaningrumKepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam menuturkan, hari ini (3/8) pihaknya akan memeriksa tiga saksi terkait laporan tersebut.

Namun, mantan Kapolda Jatim itu enggan menuturkan siapa saja pihak-pihak yang akan dimintai keterangan tersebut"Saya belum bisa pastikan mereka siapa saja," ujarnya di Mabes Polri kemarin.

Saat disinggung apakah tiga orang saksi tersebut adalah orang-orang yang berasal dari kalangan media, mengingat Nazaruddin terus "menyerang" Anas melalui pesan singkat, blackberry messenger, dan sambungan telepon dengan para awak media, Anton enggan menjawab"Para penyidik belum menyerahkan nama ke saya siapa saja saksinya," kilah Anton

Yang jelas, kata Anton, para saksi yang akan dimintai keterangan adalah orang-orang yang berkaitan dengan kasus tersebut(dim/kuh/rdl)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Telusuri Aliran Dana, Komputer Nazaruddin Diboyong ke KPK


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler