Mencekam, Toko-tokok Milik Etnis Tionghoa Langsung Tutup

Sabtu, 05 November 2016 – 00:09 WIB
Aksi menuntut proses hukum secara adil kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok, 4 November 2016. Foto: PAKSI SANDANG PRABOWO/KP/Jawa Pos Group

jpnn.com - AKSI unjuk rasa ummat Islam di Kota Palu, Sulteng, menuntut pihak kepolisian segera mengusut secara adil kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok,  sudah membawa dampak tersendiri terhadap aktivitas perekonomian di sana.

Demo yang dilakukan setelah Salat Jumat hingga petang menjelang Magrib, membuat sejumlah toko yang berada kompleks Pertokoan Hasanuddin dan Jalan Gajah Mada mendadak ditutup para pemiliknya.

BACA JUGA: Si Cantik Amoy Bunuh Diri, Tinggalkan Puisi tentang Cinta

LAPORAN : Mugni Supardi

KOMPLEKS Pertokoan di Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Besusu Tengah, Kecamatan Palu Timur, mendadak sepi. Banyak took ditutup.

BACA JUGA: Yang Mendulang Untung di Petamburan 3

Warga terpaksa balik kanan alias batal membeli pakaian serta sejumlah kebutuhan hidup lainnya di toko-toko milik warga etnis Tionghoa itu.

Pengendara yang biasa memilih akses jalan masuk di kompleks Pertokoan Hasanuddin pun dicegat oleh security.

BACA JUGA: Aksi 4/11 dan Berkah Baju Putih untuk Segelintir Kalangan

Sejak siang hingga sore hari, atau sebelum aksi demo selesai, pemilik toko enggan membuka tokonya.

“Maaf pak, pagarnya untuk sementara kami kunci. Tidak boleh dulu masuk. Kecuali pegawai toko,” ujar salah security di kompleks Pertokoan Hasanuddin yang mengenakan seragam biru dongker kepada pengendara.

Terdapat dua petugas security yang bertugas saat itu. Keduanya berseragam dipadu sepatu pantofel hitam.

Mereka berjaga-jaga dan membantu membuka tutup pagar kepada pegawai toko yang hendak masuk ataupun keluar.

Tak seperti biasanya, pertokoan yang berada di jantung Kota Palu itu tak berpenghuni. Toko-toko elektronik dan pakaian memutuskan untuk menutup toko mereka.

Suasana memang sedikit tak kondusif sejak Jumat itu (4/11). Ratusan umat Islam yang melakukan aksi turun ke jalan, memang melintas di depan Pertokoan Hasanuddin maupun Gajah Mada.

Hal itu tampaknya membuat para pemilik toko yang mayoritasnya etnis Tionghoa, merasa khawatir.

Mereka pun memilih menutup tokonya lebih awal. Rata-rata mulai pukul 13.00 Wita, semua pintu depan toko sudah digembok.

“Buat antisipasi saja. Karena pendemo lewat jalan ini. Nanti sore pasti buka lagi. Kalau penjagaan dari pihak kepolisian memang sudah ada, sebelum massa aksi melintas. Sekarang polisi-polisinya sudah pergi ke Jalan Samratulangi. Di sana pusat demo,” kata Bakir, salah seorang security yang berjaga-jaga siang itu.

Menurut Bakir, dari sekian banyak jejeran toko yang berada di Pertokoan Hasanuddin, hanya ada dua toko yang pemiliknya non Tionghoa.

“Hanya dua toko milik keturunan Arab,” tutur Bakir, security yang mengaku warga Jalan Dr Wahidin, Besusu Tengah.

Kata dia, bukan hanya Pertokoan Hasanuddin dan Jalan Gajah Mada saja, toko-toko etnis Tionghoa yang ditutup sementara.

Tapi beberapa ruko di Jalan Imam Bonjol juga ditutup. Mereka tak mau ambil risiko. Jangan sampai terjadi aksi spontan yang justru tidak diinginkan.

“Hampir di sepanjang jalan yang dilalui massa pendemo tidak buka. Semoga saja tidak anarkis,” harap security yang sudah empat tahun menjadi petugas keamanan di Pertokoan Hasanuddin tersebut.

Memang betul. Di Jalan Imam Bonjol hingga Gajah Mada, setiap hari selalu ramai dengan aktivitas bongkar muat barang dan aktivitas jual beli.

Namun Jumat itu bak hari libur. Pegawai toko terlihat hanya bersantai-santai duduk di depan toko.

Ketika massa aksi melintas, mereka sempat mengambil gambar dan merekamnya di handphone genggam.

Beberapa orang anggota kepolisian pun tampak berjaga-jaga di salah satu ruko di Jalan Gajah Mada.

Mereka nanti meninggalkan ruko setelah aksi demo sudah terpusat di Jalan Samratulangi, tepatnya di depan Mapolda Sulteng.

Menjelang sore hari sekitar pukul 16.00 Wita, beberapa toko sudah terlihat buka kembali, tepatnya di Jalan Imam Bonjol.

Namun, tak sedikit toko yang memilih untuk tutup ketika mendengar bacaan imam Salat Jumat di masjid sudah berakhir. (**/RS/sam/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Anak-anak Itu Terpaksa Menjadi Kuli di Pelabuhan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler