Menelusuri Penyamaran Lima Bulan Buron 'Kakap' Baridin

Perbaiki Instalasi Listrik Warga Korban Gempa

Sabtu, 26 Desember 2009 – 02:05 WIB
Ketua RT 03 Elan Suherlan dan Ketua RT 05 Pandi Supandi menceritakan tentang Baridin, mertua Noordin M Top, Jumat (25/12). Foto : ARI MAULANA KARANG/RADAR TASIKMALAYA

Baridin, buron polisi jaringan teroris Noordin MTop yang Kamis (24/12) ditangkap petugas, dikenal gampang beradaptasi dengan warga

BACA JUGA: Rela Keluar Masuk Hutan untuk Cari Ibu Hamil

Sikapnya yang santun membuat dirinya berhasil menarik simpati para tetangga di tempat persembunyiannya di Garut, Jawa Barat
Bagaimana Baridin menyamar di sana?
 
= = = = = = = = = = = = = = = = = =

Laporan ARI MAULANA K., Garut
= = = = = = = = = = = = = = = = = =
 
KALEM, ramah, polos, dan sorot matanya tajam

BACA JUGA: Ingat Kejadian, Ema Tak Berani Nonton Dokumenter

Itulah kesan pertama warga Kampung Banyuasih, Desa Pamalayan, Cikelet, Kabupaten Garut, ketika pertama melihat sosok Baharudin Latif alias Baridin pada Juli 2009
Berdasar keterangan warga, Baridin mulanya meminta pekerjaaan kepada Tatang, seorang nelayan di Pelabuhan Cilautereun Santolo

BACA JUGA: Resepsi di Balai Pengobatan, Biaya dari Uang Saku

Dia mengenalkan diri dengan nama Usman.
 
Oleh Tatang, Baridin diajak melaut untuk mencari ikanMungkin karena tak biasa melaut, dia mabuk lautPria 54 tahun itu lalu dipulangkan ke rumah Tatang dan menginap semalamSelanjutnya, Baridin tinggal di masjid Kampung BanyuasihKarena kasihan melihat Baridin, Agus Suharna, warga RT 05/10, Kampung Banyuasih, mengajaknya menginap di rumahnya.
 
"Dia pintar mengaji, rajin salatSelama tinggal di rumah, dia menjadi guru ngaji anak-anak kami setiap habis magribDia tinggal di sini selama 50 hari," kata Firoh, istri Agus, tentang Baridin yang berasal dari Pesuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap, Jawa Tengah, itu.
 
Setelah hampir sebulan di Kampung Banyuasih, Baridin dikunjungi anak ketiganya yang mengaku bernama ArifPadahal, nama asli pemuda 23 tahun itu adalah Ata Sabik AlimTapi, Baridin, bapak tujuh anak tersebut, memanggil putranya itu dengan sebutan Mamat
 
Tak ada warga yang curiga bahwa Baridin adalah buron yang berbahayaSaat menggerebek rumahnya di Pesuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap, Jawa Tengah, Juli 2009, petugas Densus 88 menemukan bahan dan peralatan bom yang ditanam di sebuah pekarangan
 
Di Garut, pria yang salah seorang putrinya, Ariani Rahmah, menikah dengan gembong teroris Noordin MTop itu diterima warga setelah menyatakan berniat membuka usaha pembuatan gula dari sari kelapaAgus Suharna, seorang warga, bahkan langsung membuatkan saung (gubuk) kecil di dekat rumahnya sebagai tempat usaha dan berteduhSepuluh hari sebelum penangkapan, tepatnya 14 Desember lalu, Baridin memindahkan gubuknya ke tengah perkebunan, bergabung dengan saung para pembuat gula lain.
 
"Perilakunya cukup sopanBahkan, jika bertemu saya di jalan, pasti membungkuk untuk memberi hormat dan mengajak bersalaman," jelas Elan Suherlan, 50, ketua RT 03/10 Kampung Banyuasih.
 
Namun, menurut Pandi Supandi, 55, ketua RT 05/10, Desa Pamalayan, Baridin selalu bersikap tertutupKetika diajak berbicara masalah teroris saat Noordin tewas di Solo dan ramai diberitakan televisi, dia malah balik bertanya arti terorisSaat itu, menurut Pandi, warga lain memercayai Baridin tidak mengerti masalah tersebut"Kalau diajak ngobrol masalah politik, dia selalu menghindar dan terkesan tidak tahu," ungkapnya.
 
Karena itu, saat Baridin ditangkap Densus 88 pada Kamis sekitar pukul 04.00 dan dilaporkan sebagai buron polisi yang juga mertua gembong teroris Noordin MTop, warga Kampung Banyuasih gegerMereka terkejut seolah tidak percaya"Saya baru sadar setelah melihat foto Baridin di televisi saat penangkapan di kampung sayaTernyata Usman adalah teroris yang dicari polisi," tegas Pandi.
 
Sebagai ketua RT, Elan dan Pandi mengaku pernah meminta warganya untuk mengumpulkan kartu tanda penduduk (KTP), terutama bagi para pendatang baru, termasuk Baridin saat pertama datang ke Kampung BanyuasihNamun, Baridin meminta waktu karena menunggu indentitas anggota keluarganya yang lain yang disusulkan dalam waktu dekat.
 
"Dia janji memberikan kopian KTP bersamaan dengan keluarganyaSetelah itu, di desa kami ada gempa (Garut mengalami gempa pada 2 September, Red)Kami sampai lupa menagih lagi karena sibuk membantu korbanBanyak rumah warga yang rusak," kata Pandi
 
Setelah bencana gempa, Baridin menolak dimasukkan dalam daftar penerima bantuan dari pemerintah"Kami sempat menuliskan nama Usman bersama korban lain, tapi dia menolak," ujarnya.
 
Meski pendatang baru yang bekerja serabutan, menurut Pandi, Baridin selalu punya uang lebihPria asal Cilacap itu bahkan bisa membangun sumur bor di dekat gubuknyaPadahal, tidak banyak warga yang mampu membangun sumur bor untuk air bersih di kampung tersebutSelain itu, Baridin mampu membeli peralatan untuk memulai usaha pembuatan gula, termasuk wajan berukuran besar, cetakan gula, hingga mengontrak lahan pohon kelapa.
 
Hal yang sama diakui Samino, 37, pembuat gula dari PangandaranDia menceritakan, Baridin menolak tawaran modal untuk produksi dan biaya hidup dari bandarnya"Padahal, Baridin menjual gula buatannya kepada bandar tersebut," katanya
 
Samino mengungkapkan, Baridin juga telah pamit untuk pulang ke kampungnya pada Kamis pagi (24/12), saat penggerebekan"Usman (Baridin) sempat meminjam helm kepada saya sekalian pamit pulangTernyata, Kamis subuh ditangkap polisi," katanya.
 
Pandi menambahkan, sebelum ditangkap, Baridin juga sempat menerima kiriman motor Astrea berpelat nomor JakartaMenurut pengakuan Baridin, kata Pandi, motor itu pemberian kerabatnya di Pasar Minggu, Jakarta SelatanSaat itu, motor tersebut diantar menggunakan mobil bak terbukaSelain motor, ada barang yang dikemas dalam beberapa kardus.
 
Selain pandai mengaji dan rajin salat berjamaah di masjid, menurut Pandi, Baridin pintar memperbaiki instalasi listrik di rumah wargaHal itu pernah dialami Pandi saat sambungan listrik di rumahnya rusak karena gempaPadahal, Pandi telah menyiapkan uang untuk membayar tukang listrik
 
"Saat itu Baridin menawarkan jasanya untuk memperbaiki instalasi listrik di rumah, meski saya tidak pernah tahu dia bisa atau enggakEh ternyata dia bisa, listrik di rumah kami menyala," ungkapnya.
 
Sebagai teroris yang terlatih, Baridin memang memiliki kemampuan lebih jika dibanding warga lain, termasuk meracik bom dengan bahan dan peralatan sederhanaDia pernah mengenyam pendidikan militer di Afghanistan selama dua tahun pada periode 1989?1990, hanya selisih dua angkatan dengan Ali Imron, adik Amrozi, teroris yang telah dieksekusi mati. (jpnn/iro)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Stan Milik Indonesia Hanya Selevel dengan Nepal


Redaktur : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler