Mengenal Soilblock, Alat Semai dari Limbah Organik Asli Rancangan Anak Bangsa

Jumat, 16 Juli 2021 – 10:05 WIB
Soilblock merupakan sebuah alat semai yang ramah lingkungan. Foto: Hortikultura

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto menyatakan bahwa salah satu program Kementan untuk menjaga stabilisasi pasokan cabai dengan Kampung Cabai.

Prihasto mengatakan persemaian merupakan awal dari proses budi daya cabai. Bibit yang dihasilkan dari persemaian yang baik serta pemilihan varietas yang adaptif lingkungan dan cuaca akan meningkatkan produktivitas hasil.

BACA JUGA: Carolina Reaper, Cabai Terpedas di Dunia jadi Andalan Superames

"Sentuhan inovasi teknologi kekinian juga bisa meningkatkan efesiensi biaya dan waktu, sehingga ongkos produksi murah dan harga berdaya saing," papar Anton saapn karibnya dalam virtual literacy bertajuk Persemaian Sehat, Kunci Sukses Budidaya Cabai.

Salah satu teknologi dalam melakukan penyemaian cabai yang efektif adalah Soilblock.

BACA JUGA: Panen Cabai Rawit di Temanggung Melimpah, Kementan Pastikan Pasokan Iduladha Aman

Soilblock merupakan sebuah alat semai yang ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah organik yang sangat berguna tanpa merusak lingkungan. Alat ini dikembangkan oleh Eka Mardiyono, pelaku usaha Soilblock dari Jawa Tengah.

Saat mengenalkan alat ini, Eka menjelaskan semua bahan penyusun Soilblock merupakan bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman tanpa penambahan tanah.

BACA JUGA: Bawang Merah dan Cabai Rawit Rubaru, Potensi Andalan Hortikultura Sumenep

"Bahan-bahan yang diperlukan untuk menyusun Soilblock ini terdiri dari pupuk kandang, fosfat alam, kapur dolomit, cocopeat dan gambut dengan perbandingan 30:5:5:30:30," kata dia.

Menurut dia, seluruh bahan tersebut kemudian dicampur dengan air hingga diperoleh kepadatan yang sesuai. Selain itu, dapat ditambahkan sedimentasi rawa yang kaya akan unsur hara yang baik untuk tanaman.

Eka mengatakan juga cara penggunaan Soilblock juga cukup mudah. Setelah bahan-bahan penyusun Soilblock dicampur, kemudian dimasukkan ke alat bantu atau cetakan dan ditekan hingga padat.

"Selanjutnya letakkan alat Soilblock di atas nampan kayu dengan cara membaliknya, kemudian tekan 2-3 kali secara berulang alat pegas agar media tercetak dengan baik," ujar Eka.

Selain ramah lingkungan, penggunaan Soilblock juga dapat meningkatan efisiensi biaya tenaga kerja pada proses persemaian.

"Jika dengan proses penyemaian pada umumnya, 1 hari tenaga kerja hanya dapat mencetak 1.000 polybag, tetapi dengan alat ini bisa diperoleh 20 ribu hingga 30 ribu media semai. Karena tidak membutuhkan plastik polybag atau plastik tray, tentunya biaya yang dikeluarkan oleh petani juga berkurang," papar Eka.

Perawatan saat penyemaian dengan Soilblock pun dapat lebih mudah dilakukan karena cukup disiram secara merata dengan metode sebar atau sprayer tanpa takut air tertinggal di plastik. Hal ini berlaku pula saat pemberian pupuk, karena Soilblock bersifat absorb (menyerap), maka pupuk juga tidak akan jatuh ke bawah tetapi terserap ke dalam Soilblock.

Penggunaan Soilblock dibarengi dengan pemilihan varietas yang adaptif cuaca merupakan kombinasi yang sempurna sebagai langkah awal untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil.

Seperti diketahui, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang akan terus mendorong jajarannya agar tetap produktif selama PPKM, salah satunya dengan Virtual Bimtek. Salah satunya adalah Virtual Literacy yang dilaksanakan Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat bekerja sama dengan Pustaka Kementan (15/7) ini memberikan materi yang menarik dan sangat mendukung efisiensi produksi cabai dari sisi hulu yakni teknologi Soilblock Seedling. (jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler