Mengenali Dampak Sindrom FOMO Terhadap Pelajar

Rabu, 05 April 2017 – 06:38 WIB
Smartphone. ILUSTRASI. FOTO: Pixabay.com

jpnn.com, JAKARTA - Tiga mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi Universitas YARSI, yakni Yulia Zahra Yamini, Rahmawati dan Elsita Yusera melakukan penelitian tentang pengaruh sindrom Fear of Missing Out (FOMO) akibat kecanduan atau ketergantungan smartphone pada pengunjung perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Serpong.

"Pertanyaan kita kala itu adalah seberapa jauh dampak dari sindrom FOMO di kalangan pengunjung perpustakaan Islam Cendikia Madani. Ternyata sama sekali tidak diketemukan sindrome FOMO di kalangan pelajar tersebut," kata ketua kelompok penelitian, Yulia Zahra Yamini
didampingi pembimbing penelitian Pranajaya, dosen program studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Teknologi Informasi Universitas YARSI Jakarta, Selasa (4/4/2017).

BACA JUGA: Waduh, Pelajar dan Mahasiswa Paling Banyak Melanggar

Menurut Yulia, penelitian ini dilakukan dengan merujuk pada perkembangan media sosial yang begitu pesat. Bahkan, banyak orang menyalah gunakan media sosial. FOMO sendiri, kata dia, merupakan fobia baru di kalangan internet dan media sosial. Sama dengan Fobia lainnya, FOMO adalah kekhawatiran atau ketakutan ketinggalan berita di internet atau jejaring sosial.

"FOMO juga sering disebut sebagai rasa khawatir jika melihat orang lain terlihat lebih bahagia dan merasakan kepuasan yang lebih besar dari yang mereka rasakan. Hal ini diyakini merupakan salah satu dampak dari perkembangan sosial media yang cukup pesat," ujarnya.

BACA JUGA: Mengenal Roadshow PPAN Asal Maluku Utara 2017

Kemudian, kata Yulia, para peneliti kemudian bersepakat untuk membahas dampak FOMO terhadap para pelajar khususnya pada pengunjung perpustakaan MAN Insan Cendekia Serpong.

"Dari penelitian ini diharapkan menghasilkan luaran yaitu berupa gambaran tentang dampak negatif Sindrom FOMO terhadap para pelajar,” katanya.

BACA JUGA: Pelajar Tarik Celdam Mantan Pacar hingga Koyak, Miris!

Pernyataan Yulia diamini Rahmawati. Menurutnya, dampak negatif dari sindrom FOMO adalah membuat penggunanya terlalu terpaku pada media sosial, kurangnya berinteraksi dengan orang di sekitarnya, kurangnya sosialisasi, kecanduan, terlupakannya bahasa formal, depresi dan ketakutan yang luar biasa hanya karena tidak melihat sosial media.

"Dalam melakukan penelitian kita menggunakan metode deskriktif dengan menggunakan sejumlah kuisioner yang di bagikan kepada para responden. Responden dalam hubungan ini ialah para pelajar yang menjadi pengunjung perpustakaan MAN Insan Cendekia Serpong. Dari populasi tersebut di ambil sampel sebanyak 30 orang," katanya.

Rahmawati menambahkan, penelitian dilakukan di Perpustakaan Man Insan Cendekia Serpong selama hampir tiga bulan, dari bulan Maret sampai bulan Mei 2016. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan dan mengisi kuesioner tentang sikap remaja terhadap fenomena media sosial dan gadget kepada 30 responden pengunjung perpustakaan di Man Insan Cendekia Serpong. Angket diisi oleh 30 responden yang terdiri dari 16 orang laki-laki dan 14 orang perempuan.

"Berdasarkan quisioner yang diisi oleh siswa-siswi pengunjung perputakaan, syndrome FOMO atau lebih dikenal kecanduan internet untuk siswa-siswi MAN Insan Cendekia Serpong tidak berpengaruh dikarenakan peraturan tidak diizinkan membawa handphone sehingga mambatasi ruang bagi siswa-siswi untuk terkena syndrome FOMO," ucapnya.

Di tempat sama, Elsita menegaskana, sindrom FOMO tidak akan berpengaruh terhadap siswa di lembaga pendidikan berupa asrama pondok pesantren yang memiliki aturan mengikat, tidak mengizinkan setiap siswanya membawa handphone.

Menurut Elsita, MAN Insan Cendekia Serpong ini memiliki aturan-aturan yang mengikat dan wajib ditaati oleh peserta didiknya. Salah satu peraturannya adalah siswa dan siswi tidak diizinkan membawa handphone. Kegiatan memegang handphone hanya dilakukan siswa-siswinya saat sedang berada di rumah.

“Sehingga para siswa tidak banyak terpaku pada handphone ketika sedang berada di lingkungan asrama. Pikiran mereka pun dapat terfokus hanya untuk belajar,” tutupnya.(fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gila! Mau Tawuran, Pelajar SMP Sewa Preman Bersenjata


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler