Mengulas Dampak Perang Dagang AS vs Tiongkok Bagi Indonesia

Senin, 13 Mei 2019 – 10:43 WIB
Terminal peti kemas. Foto: Humas Bea Cukai

jpnn.com, JAKARTA - Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok dipastikan memberi dampak bagi negara lain, termasuk Indonesia.

Indonesia harus waspada karena ekspor masih melambat pada semester pertama tahun ini.

BACA JUGA: Perang Tarif AS Vs Tiongkok Pecah Lagi

’’Presiden Trump telah mengumumkan kenaikan tarif impor dari sepuluh persen menjadi 25 persen untuk seluruh produk Tiongkok. Apabila Tiongkok membalas dengan 25 persen juga, seluruh dunia akan terkena dampaknya,” jelas Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad.

BACA JUGA: Imbas Perang Dagang, DFSK Ogah Ekspor Mobil ke Australia

BACA JUGA: Perundingan Dagang AS - Tiongkok di Ujung Tanduk

Jika tanpa ada efek penularan ke negara lain (contagion), lanjut dia, pertumbuhan Tiongkok akan terkoreksi hampir satu persen pada 2021.

Sementara itu, AS akan kehilangan ekonominya 0,9 persen pada tahun keempat, yakni 2023.

BACA JUGA: Istimewa, Pertumbuhan Ekonomi Tembus 7,13 Persen

Di sisi lain, Eropa akan kehilangan 0,37 persen PDB pada tahun keempat (2023) dan perekonomian dunia akan terkoreksi 0,6 persen juga pada tahun keempat.

’’Sudah pasti ekonomi Indonesia akan terimbas lebih besar. Tentu pemerintah harus mengantisipasi perlambatan ekonomi ini yang mulai dirasakan sejak 2019 hingga beberapa tahun mendatang,” papar Tauhid.

Penurunan PDB Tiongkok akan mengoreksi ekspor Indonesia sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik.

Berdasar studi Ibrahim (2012), penurunan satu persen PDB Tiongkok akan menurunkan PDB Indonesia 0,14 persen.

Di sisi lain, penurunan satu persen PDB Amerika akan menurunkan PDB Indonesia 0,05 persen.

Artinya, PDB RI akan terkoreksi secara bersamaan kurang lebih 0,19 persen tanpa contagion effect.

’’Efek ini akan lebih besar apabila menjalar ke negara-negara lain yang kemudian berdampak bagi Indonesia,’’ jelasnya.

Peneliti Indef Andry Satrio Nugroho menambahkan, Belt Road Initiative (BRI) akan memberikan dampak pada sektor perdagangan dan industri Indonesia.

BRI dari segi perdagangan dan industri merupakan investasi Tiongkok dalam bentuk infrastruktur di Jalur Sutra.

Tiongkok sendiri merupakan mitra dagang utama Indonesia. Frekuensi perdagangan antara kedua negara ini tertinggi di antara mitra dagang lain, yakni USD 72,6 miliar pada 2018.

Komoditas utama yang diimpor Indonesia dari Tiongkok adalah peralatan elektronik, mesin, dan besi baja. Lalu, yang diekspor Indonesia adalah produk sawit dan batu bara.

Dari sektor industri, kawasan ekonomi khusus (KEK) yang cukup pesat perkembangannya di Indonesia saat ini adalah KEK Morowali.

Daerah itu menjadi pusat hilirisasi nikel terbesar di Indonesia. Kontribusi tersebut tidak terlepas dari Tiongkok dan BRI-nya.

Bukan hanya perusahaan, tenaga kerja asing juga berasal dari Tiongkok. Namun, tidak semua KEK perkembangannya baik. Salah satunya KEK Sei Mangkei yang fokus pada hilirisasi sawit.

’’Namun, tentu perlu waspada bahwa hilirisasi sawit bisa saja tidak terjadi dan justru memberikan kesempatan bagi Tiongkok untuk mengeruk peluang mendapatkan CPO dengan harga murah,” ujarnya.

Untuk itu, Andry menekankan, ke depan kerja sama dengan Tiongkok melalui BRI seharusnya bukan lagi pembangunan infrastruktur yang memudahkan barang mereka langsung dikonsumsi masyarakat, melainkan kerja sama yang bertujuan pada pengembangan industri domestik yang berbasis ekspor. (ken/c17/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ekspor Tiongkok Masih Anjlok, Apa Dampaknya Bagi Perundingan Dagang dengan AS?


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler