Mengunjungi Petilasan Mbah Maridjan di Merapi

Minggu, 19 Desember 2021 – 12:39 WIB
Petilasan Mbah Maridjan di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY, Sabtu (18/12). Foto: M. Syukron Fitriansyah/JPNN.com

jpnn.com, YOGYAKARTA - Beberapa hari terakhir ini Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah kembali menunjukkan aktivitasnya. Ada satu nama yang sulit dilepaskan dari salah satu vulkan paling aktif di dunia itu, yakni Mbah Maridjan.

Laporan M Sukron Fitriansyah, Yogyakarta

BACA JUGA: Prosesi Labuhan Merapi Dimulai dari Petilasan Mbah Marijan

MBAH Maridjan merupakan juru kunci Merapi pada kurun waktu 1982-2010. Rumahnya di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY, berada dalam radius 5 kilometer dari kawah Merapi.

Nama Mbah Maridjan menasional ketika Merapi meletus pada pertengahan Mei 2006. Kala itu, pemerintah mengimbau warga yang mendiami lereng Merapi segera mengungsi.

BACA JUGA: Adakah Hal Mistis di Balik Tragedi Kawah Merapi? Berikut Kata Putra Mbah Marijan

Namun, Mbah Maridjan memilih bertahan di rumahnya. Banyak kalangan menganggapnya bertindak berani dan melawan imbauan pemerintah pusat maupun Gubernur DIY Sri Sultan HB X. 

Sebelas tahun silam, tepatnya 26 Oktober 2010, Merapi kembali meletus dan memuntahkan awan panas. Saat letusan besar terjadi, Mbah Marijan tetap berada di rumahnya. 

BACA JUGA: Dampak Erupsi Merapi, 4 Desa di Boyolali Hujan Abu, Begini Penampakannya...

Nahas tak bisa ditolak, maut mustahil dicegah. Awan panas yang juga dikenal dengan sebutan wedhus gembel dari erupsi Gunung Merapi menerjang Kinahrejo. 

Mbah Maridjan pun menjadi korban erupsi saat itu. Jenazahnya teridentifikasi sehari kemudian pada 27 Oktober 2010. 

Lokasi Mbah Maridjan wafat kini menjadi petilasan. Ada semacam makam yang dibuat di tempat jenazahnya.  

Sejumlah foto juga menghiasi petilasan itu, termasuk potret Mbah Marijan dalam ukuran cukup besar. 

"Itu cuma petilasan, bapak saya meninggalnya di situ, jadi, diberi tanda nisan," ungkap putri pertama Mbah Maridjan, Bu Panut, saat ditemui JPNN.com, Sabtu (18/12). 

Di dekat petilasan Mbah Maridjan itu juga terdapat bangkai sepeda motor, rongsokan mobil Suzuki APV, dan perabotan rumah tangga. 

Barang-barang itu tak luput dari terjangan wedhus gembel yang keluar dari kawah Merapi saat meletus pada 2006.

Di kawasan petilasan Mbah Maridjan itu pula Bu Panut berjualan. Dia membuka warung di sebelah timur petilasan ayahnya. 

Sebuah rumah berbentuk joglo dibangun di atas petilasan Mbah Maridjan. Di lokasi yang sama juga terdapat pendopo. 

"Petilasan dibangun sendiri, pendoponya dibangun keraton (Kasultanan Ngayogyakarta) buat acara labuhan Merapi," tutur Bu Panut. 

Saat ini, petilasan Mbah Maridjan dan pendopo tersebut dikelola oleh masyarakat setempat. Petilasan itu menjadi salah satu tujuan wisatawan dari berbagai daerah. 

Memang lokasi petilasan Mbah Maridjan cukup terpencil. Jalan menuju petilasan itu juga menanjak. 

Namun, hal itu tak mengurangi minat wisatawan menziarahi petilasan Mbah Maridjan. 

"Mulai akhir pekan biasanya ramai pengunjung," kata Bu Panut yang membuka lapak sederhana untuk menjual aneka oleh-oleh khas lereng Merapi. (mcr25/jpnn)


Redaktur : Boy
Reporter : M. Syukron Fitriansyah

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler