Menhan Ryamizard Selalu Tergetar saat Teringat Pidato Bu Mega

Selasa, 22 Agustus 2017 – 14:18 WIB
Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu. Foto: dokumen JPNN.Com

jpnn.com, BANGKALAN - Menteri Pertahanan (Menhan)  Ryamizard Ryacudu menyampaikan kuliah umum tentang bela negara di Universitas Trunojoyo di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Senin (22/8). Dalam kesempatan itu Ryamizard menceritakan kenangannya tentang pesan Presiden RI Kelima Megawati Soekarnoputri yang menggetarkan hatinya.

Ryamizard menuturkan, Megawati semasa masih menjadi presiden mengunjungi Papua pada 2004 lalu. Saat itu Ryamizard masih menjadi Kepl Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).

BACA JUGA: Pak Jokowi Piawai, Elite Politik Setop Bertikai

Dalam kunjungan di Papua itu Megawati menyampaikan pidato yang hingga kini masih terus dikenang Ryamizard. "Beliau menyatakan, ‘seribu kali pejabat gubernur di Papua diganti, Papua tetap di sana. Seribu kali  pejabat daerah dan bupati Papua diganti, Papua tetap di sana. Tetapi,  satu kali TNI dan Polri ditarik dari tanah Papua, besok Papua merdeka’,” tuturnya.

Pensiunan tentara dengan pangkat terakhir jenderal itu menjelaskan, hal itu  merupakan refleksi betapa pentingnya dukungan segenap komponen bangsa terhadap TNI dan Polri sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Dia mengatakan, kesadaran bela negara untuk memperkuat jati diri dan persatuan nasional merupakan  sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

BACA JUGA: Ingat, Kader dan Calon Kada PDIP Wajib Menghidupi Prinsip Ini

Ryamizard mengatakan, ancaman terhadap Indonesia sebagai bangsa dan negara merupakan hal nyata. Buktinya, Indonesia harus menghadapi peredaran narkoba, penyebaran paham radikal dan terorisme hingga perang siber.

Menurut Ryamizard, radikalisme dan terorisme sebagai ancaman terhadap NKRI juga telah masuk kalangan perguruan tinggi dan menyasar kaum intelektual. "Termasuk para mahasiswa baru," katanya.

BACA JUGA: Hasto Dorong Menteri Asal PDIP Tak Ragu Sikat Ormas Anti-Pancasila

Menantu mantan Wakil Presiden RI Try Sutrisno itu menegaskan bahwa semua agama tidak pernah mengajarkan terorisme dan radikalisme. Dia bahkan menyebut tidak ada hubungan antara terorisme dengan agama mana pun.

"Perlu kita pahami bersama bahwa ancaman terbesar terorisme bukan hanya terletak pada aspek serangan fisik yang merugikan,  tetapi justru serangan propaganda ideologi yang secara massif dapat memengaruhi pola pikir dan pandangan masyarakat," ungkapnya.(boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Berhasil Pertemukan Mega dan SBY, Jokowi Buktikan The Real Presiden


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler