Menko Airlangga: Ekonomi Tetap Solid Didorong Inflasi Terkendali dan PMI Ekspansif

Jumat, 02 Februari 2024 – 22:02 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Dokumentasi Humas Kemenko Perekonomian

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan realisasi inflasi Indonesia pada Januari 2024 terjaga stabil dan terkendali pada rentang target sasaran 2,5%±1.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari 2024 tercatat sebesar 2,57 persen (yoy) atau menurun dibandingkan Desember 2023 sebesar 2,61 persen (yoy).

BACA JUGA: Menko Airlangga Sebut Bonus Demografi jadi Aset Mencapai Indonesia Emas 2045

Menko Airlangga juga menyebut realisasi inflasi tersebut juga lebih rendah dibandingkan capaian inflasi Januari 2023 sebesar 5,28 persen (yoy).

“Kita bersyukur capaian inflasi di Januari tetap terkendali," kata Menko Airlangga dalam keterangan resminya, Jumat (2/2).

BACA JUGA: Menko Airlangga Tegaskan Tak Ada Alasan Program Peremajaan Sawit Rakyat Tidak Berjalan

Di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, lanjut Menko Airlangga, salah satunya gangguan cuaca dari El Nino yang masih berlangsung, Indonesia mampu mengendalikan inflasi dalam kisaran sasaran target.

"Capaian inflasi yang terjaga stabil dalam kisaran sasaran ini menunjukkan bahwa daya beli kita masih baik,” ungkapnya.

BACA JUGA: Luncurkan Program Bantuan Pangan di Jambi, Menko Airlangga Sampaikan Kabar Baik Ini

Secara bulanan, inflasi Januari 2024 dipengaruhi oleh pergerakan komponen harga bergejolak dan inti.

Komponen harga pangan bergejolak (volatile food/VF) mengalami peningkatan tercatat sebesar 0,01 persen (mtm) atau 7,22 persen (yoy).

Curah hujan yang tinggi terutama di daerah sentra hortikultura berakibat pada gagal panen dan mendorong kenaikan harga tomat dan bawang merah.

Selain itu, harga beras masih mengalami kenaikan seiring pasokan yang terbatas karena belum masuknya musim panen.

Namun demikian, inflasi VF tertahan oleh harga aneka cabai yang mulai menurun.

Komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,20 persen (mtm) atau 1,68 persen (yoy).

Secara tahunan inflasi inti masih terjaga meskipun dalam tren melandai.

Sementara itu, komponen harga diatur pemerintah (administered prices/AP) mengalami deflasi sebesar 0,48% (mtm) atau inflasi 1,74 persen (yoy).

Deflasi AP utamanya disumbang oleh penurunan tarif angkutan udara dan bensin seiring berakhirnya masa Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, serta libur sekolah yang mendorong penurunan permintaan terhadap jasa transportasi udara dan penyesuaian harga BBM nonsubsidi per 1 Januari 2024.

Di samping itu, pada 29 Januari 2024 telah dilaksanakan High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Pusat tingkat menteri yang menyepakati sejumlah langkah strategis untuk menjaga inflasi tetap stabil dan terkendali pada tahun 2024.

Beberapa langkah strategis dimaksud, di antaranya melaksanakan kebijakan moneter dan fiskal yang konsisten dengan upaya mendukung pengendalian inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kemudian mengendalikan inflasi kelompok VF agar dapat terkendali di bawah 5 persen dengan fokus pada komoditas beras, aneka cabai, dan aneka bawang, serta menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi pangan untuk memitigasi risiko jangka pendek.

Hal itu termasuk mengantisipasi pergeseran musim panen dan peningkatan permintaan menjelang HBKN.

“Di tengah berbagai tantangan yang masih kita dihadapi saat ini, komitmen dan sinergi bersama seluruh pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia melalui TPIP-TPID akan terus diperkuat guna menjaga inflasi terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen,” lanjut Menko Airlangga.

Menko Airlangga menegaskan optimisme terhadap prospek perekonomian ke depan juga tercermin dari aktivitas sektor manufaktur Indonesia yang masih terus menggeliat.

Terbukti, pada laporan Purchasing Managers’ Index (PMI) yang diterbitkan S&P Global pada 1 Februari 2024, output sektor manufaktur Indonesia bulan Januari 2024 melanjutkan ekspansi selama 29 bulan berturut-turit pada level 52,9 atau lebih tinggi dari angka Desember 2023 pada level 52,2.

Angka PMI Manufaktur Indonesia menjadi yang tertinggi di kawasan ASEAN mengungguli Filipina (50,9), Malaysia (49,0), Thailand (46,7), dan Myanmar (44,3).

“Kinerja sektor manufaktur yang terus ekspansif perlu diapresiasi," ujar Menko Airlangga.

Dia memastikan pemerintah juga akan terus bekerja keras menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga performa positif ini dapat terus ditingkatkan.

"Inflasi yang terkendali dan PMI yang terus ekspansif diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkas Menko Airlangga. (mrk/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler