Mentan Minta Daerah Perbatasan Siap jadi Gerbang Ekspor

Selasa, 09 Mei 2017 – 20:37 WIB
Rapat koordinasi gabungan yang digelar di Kantor Badan Litbang Pertanian. Foto: Kementan

jpnn.com, JAKARTA - Para petani jagung telah memiliki jaminan harga dan pasar dari pemerintah. Pasar dalam negeri pun saat ini terus meningkat dari waktu ke waktu.

Saat ini masyarakat membutuhkan sekitar tujuh ton jagung per tahun. Dahulu para importir bahan pangan pokok lebih senang mengimpor dari negara luar karena akses yang sulit sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi lebih mahal.

BACA JUGA: Jelang Ramadan, Harga Bawang Putih tak Lebih dari Rp 30 Ribu

Dengan adanya solusi yang diberikan pemerintah saat ini untuk menyerap seluruh hasil produksi petani, diharapkan tidak ada lagi petani yang merugi, sehingga semua pihak bisa menikmati hasilnya serta mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

“Saat ini petani tidak usah takut, dulu petani tidak dipertemukan dengan pasarnya, para importir terus mengimpor dan petani juga terus menanam, namun saat ini petani mendapatkan jaminan harga dan pasar dari pemerintah," kata Mentan Andi Amran Sulaiman, dalam rapat koordinasi gabungan yang digelar di Kantor Badan Litbang Pertanian.

BACA JUGA: 10 Kabupten Siap Amankan Pasokan Pangan Jabodetabek

Selain membahas mengenai pengembangan pangan di wilayah penyangga kota besar, rakorgab kali ini juga membahas mengenai pengembangan lumbung pangan di wilayah perbatasan negara.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, bahwa membangun bangsa adalah membangun dari pinggiran, sehingga sebagai tindak lanjutnya, Mentan menginstruksikan seluruh bupati yang berada di wilayah perbatasan antara lain Kabupaten Karimun, Lingga, Entingkong, Merauke, Sambas, Belu dan Malaka untuk mempersiapkan dan membuka wilayahnya seluas-luasnya sebagai gerbang ekspor ke negara tetangga.

BACA JUGA: Kementan Gelar Rakorgab, Ini Targetnya

"Kami akan membangun daerah perbatasan sebagai lumbungan pangan sesuai dengan keunggulan komparatifnya dan sesuai dengan culture masyarakatnya," ujar Mentan.

Saat ini Menteri Pertanian akan fokus melakukan ekspor ke negara beras organik dan jagung ke negara tetangga. Negara Malaysia dan Filipina membutuhkan bahan pokok pangan dari Indonesia. Diketahui bahwa Malaysia setiap tahunnya mengimpor tiga juta ton jagung per tahun setara dengan 20 triliun.

Hal ini tentunya menjadi peluang besar bagi lima kabupaten yang berada di daerah perbatasan langsung negara Malaysia yaitu Kabupten Entikong, Sambas, Nunukan dan Bengkayang untuk bisa mengekspor hasil produksinya.

Sekitar satu juta hektare lahan pertanian dibutuhkan untuk pengembangan lumbung pangan di daerah perbatasan. "Malaysia dan Filipina senang dengan produksi jagung Indonesia. Sekitar enam-tujuh juta ton jagung per tahun kebutuhan dari negara tersebut, lima kabupaten harus bisa mengisinya," tutur Mentan.

Untuk mendukung hal tersebut Kementerian Pertanian telah menganggarkan bantuan benih unggul sebesar dua triliun. Nantinya benih tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan produksi.

"Ke depan untuk benih unggul, kami siapkan anggaran dua triliun agar daerah perbatasan bisa meningkatkan produksinya," kata Mentan.

Amran menambahkan bahwa setiap daerah perbatasan juga harus mempelajari dan menjajaki lagi kebutuhan pangan yang dibutuhkan oleh negara tetangga. "Kami akan siapkan benih apa saja yang dibutuhkan, tetapi harus sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya, bukan dari kebutuhan proyek," tegas Mentan.

Selain jagung komoditas lain yang memiliki peluang untuk bisa diekspor ke negara tetangga adalah beras organik. Kebutuhan beras di Malaysia adalah 1,5 juta ton per tahun. “Kita harus rebut pasar tersebut, jangan kalah dengan Amerika Serikat, Argentina, Vietnam dan Paskitan yang berhasil mengekspor ke Malaysia," ujar Amran. (adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pertanian Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal I 2017


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Kementan  

Terpopuler