Menteri Yohanna Sebut Batam Pusat Perdagangan Orang

Selasa, 11 April 2017 – 03:30 WIB
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohanna Yembise saat berkunjung ke Batam, Kepri, Senin (10/4). Foto: batampos/jpg

jpnn.com, BATAM - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohanna Yembise menyebut Batam merupakan pusat terjadinya perdagangan manusia.

"Saya di Jayapura, tapi banyak laporan yang masuk, Batam pusat perdagangan orang," kata Yohanna usai meninjau Shelter Anak Dang Merdu di Sekupang, Batam, Kepri, Senin (10/4).

BACA JUGA: Server Diduga Kena Virus, UNBK Sempat Molor 90 Menit

Batam sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan negara Singapura dan Malaysia menjadi faktor memudahkan terjadinya perdagangan manusia.

Menurutnya, hal ini menjadi perhatian yang sangat serius, dan harus segera ditangani.

BACA JUGA: Pembobol Mesin ATM Ini Akhirnya Berhasil Dibekuk Polisi

"Makanya dalam waktu dekat ini kami akan kaji dulu, serta bekerjasama dengan intelijen dan kepolisian untuk menghentikan perdagangan manusia di Batam," ujarnya seperti dilansir Batam Pos (Jawa Pos Group) hari ini.

Selain permasalahan perdagangan manusia, salah satu yang menjadi perhatian Yohanna adalah meningkatnya kasus kekerasaan pada perempuan di Batam.

BACA JUGA: Parah! Dua Jam Diguyur Hujan, 100 KK Terendam Banjir

"Saya belum baca laporannya, tapi mereka bilang meningkat. Dan ini harus kita cari tahu bersama penyebabnya kenapa Batam meningkat kekerasan pada perempuan," ujarnya.

Yohanna menyebutkan dari tiga perempuan, satu perempuan mengalami kekerasan. "Ini seperti fenomena gunung es, dan harus diselesaikan," ucap perempuan kelahiran Manokwari, Papua, pada 1 Oktober 1958 ini.

Hal penting lainnya yang menjadi perhatian perempuan lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih ini adalah ekploitasi anak yang kian menjamur, terutama di Kota Batam.

Hak anak adalah bersekolah, usia 0-18 tahun mereka butuh pendidikan bukan bekerja.

"Jangan ada lagi anak yang bekerja, mereka harus sekolah. Apalagi Batam sudah sebagai kota layak anak, tentunya sudah memenuhi kriteria sebelum menyandang gelar tersebut. Ibu wali dan intansi terkait saya titip untuk berkomitmen melindungi anak- anak dari ekploitasi ini," paparnya.

Pemerintah Kota juga diminta untuk mensosialisasikan prgram Three Ends yaitu akhiri kekerasan pada anak dan perempuan, akhiri perdagangan orang, dan akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan.

Sementara itu, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Kota Batam diisi Marlin Agustina Rudi yang turut mendampingi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengatakan kekerasan pada anak di Kota Batam cukup mengalami peningkatan yang signifikan.

Dia menyebutkan contoh kasus dari Januari -Februari 2016 kasus kekerasan pada anak hanya tujuh kasus, namun Januari- Februari 2017 naik menjadi 27 kasus.

"Makanya untuk menekan hal ini kami gencarkan sosialisasi hingga ke kalangan ibu ibu dan sekolah, dan berharap tidak ada lagi kasus seperti ini," tutupnya.(cr17)

BACA ARTIKEL LAINNYA... PAD Sektor Pariwisata Sangat Menjanjikan


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler