Merasakan Suasana Ramadan di Negeri Aquino (2-Habis)

Lebih Familier Pakai Nama Warna daripada Nama Arab

Kamis, 25 Juni 2015 – 00:55 WIB

jpnn.com - Sejumlah masjid besar di Filipina menggunakan warna sebagai namanya. Di antaranya, Blue Mosque di Taguig City, Golden Mosque di Manila City, dan Pink Mosque di Maguindanao. Kenapa? Berikut catatan penulis buku tasawuf modern AGUS MUSTOFA yang awal Ramadan lalu memberikan pengajian di KBRI Manila.

Laporan Agus Mustofa, Manila, Filipina

BACA JUGA: Merasakan Suasana Ramadan di Negeri Aquino (1)

MESKIPUN sebutan itu awalnya disematkan masyarakat luas di Filipina, pengurus masjid akhirnya menggunakan nama berdasar warna tersebut sebagai nama resmi yang ditulis di papan nama masjid. Misalnya, Golden Mosque yang awalnya bernama Masjid Al Dahab.

Tetapi, nama Arab masjid yang berlokasi di kawasan perdagangan Quiapo, Manila, itu justru tidak dikenal penduduk setempat. Apalagi papan namanya memang mencantumkan nama Golden Mosque.

BACA JUGA: Perjuangan Alfin Tuasalamony Untuk Sembuh dari Cedera

Masjid sumbangan pemerintah Libya pada zaman Muamar Kadhafi itu setiap Ramadan selalu ramai. Kebanyakan jamaahnya adalah pedagang pasar. Ada pula turis asing yang penasaran. Suasananya mirip dengan kawasan Pasar Turi, Surabaya. Di sekitar masjid terdapat permukiman yang sangat padat.

Menuju masjid untuk salat Duhur di sana, saya harus melalui jalanan sempit yang penuh pedagang kaki lima. Sangat sulit menemukan tempat parkir mobil yang leluasa. Nouelle, driver Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang kebetulan nonmuslim, memilih parkir cukup jauh dari masjid dan menjemput kami setelah salat.

BACA JUGA: Perjalanan Pulang KRI Banjarmasin dari World Expo Milan 2015

Hal itu berbeda dengan Blue Mosque di kawasan permukiman Mindanao Avenue, Taguig City, yang lebih tertata. Halaman dan jalan raya di depan masjid cukup luas. Sama-sama sumbangan pemerintah Libya, masjid itu memilih gaya berbeda dalam kegiatan syiar agama. Blue Mosque mengambil segmen jamaah menengah atas yang lebih educated.

’’Di sinilah satu-satunya masjid di Filipina yang komunikasinya menggunakan bahasa Inggris,’’ ungkap Jadjurie H. Arasa, takmir Blue Mosque.

Kegiatan masjid pun sangat bervariasi. Tidak hanya mengaji kitab suci Alquran dan hadis, Blue Mosque juga sering mengadakan seminar budaya Islami. Antara lain, membahas film besutan sutradara Indonesia, Ayat-Ayat Cinta. ’’Ceritanya sangat bagus sehingga banyak jamaah yang menangis,’’ kata pria ramah itu.

Seminar budaya keislaman menjadi salah satu jalan diplomasi pengurus Blue Mosque dalam syiar Islam di Filipina. Selain seminar tentang perfilman, di masjid berkubah biru itu sering digelar pelatihan cara berbusana Islami, pernikahan dan parenting, lomba menulis kaligrafi, kesusastraan, dan sebagainya.

Semua kegiatan itu, menurut Jadjurie, bisa melunakkan wajah Islam yang selama ini dipersepsi ’’keras’’ oleh sebagian masyarakat Filipina. Apalagi sebagian kelompok Islam di Filipina Selatan melakukan perjuangan bersenjata untuk mendapat kemerdekaan mereka.

Dengan jalan diplomasi yang moderat itu, pengurus Moro Islamic Liberation Front (MILF) tersebut memperoleh simpati dari banyak pihak. Baik dari luar negeri maupun masyarakat Filipina sendiri. Karena itu, beberapa kali terjadi dialog yang mengarah pada perjanjian damai antara MILF yang mewakili bangsa Moro dan pemerintah Filipina.

’’Sayang, pergantian kepemimpinan sering membuat agenda perdamaian itu berubah-ubah sehingga belum terealisasi hingga sekarang,’’ paparnya.

Pada zaman Presiden Ferdinand Marcos, menurut Jadjurie, suasana dan kondisi lebih menjanjikan untuk menyelesaikan masalah menuju perdamaian. Pada zaman itulah Filipina mendirikan banyak masjid atas bantuan negara-negara Islam. Misalnya, Blue Mosque dan Golden Mosque (Libya) serta sejumlah masjid kecil atas bantuan Arab Saudi, Kuwait, Iran, dan Uni Emirat Arab.

’’Di kawasan sekitar Taguig City saja, ada 16 masjid kecil-kecil sumbangan dari berbagai negara itu,’’ tambahnya.

Namun, kata Jadjurie, banyaknya masjid itu ternyata membawa masalah baru dalam syiar agama (Islam) di Filipina. Sebab, masjid-masjid tersebut ternyata membawa paham dari negara yang membantu. Selain Sunni, di Filipina berkembang paham Syiah dan Wahabi.

’’Tetapi, kami menyikapinya secara moderat. Tanpa perlu mem-bid’ah-kan atau apalagi mengafirkan kelompok lain. Kami memilih jalan tengah dalam berdakwah sehingga bisa diterima semua pihak,’’ jelasnya panjang lebar.

Sebaliknya, sejak zaman Corry Aquino, perkembangan syiar Islam dan agenda perjanjian damai bangsa Moro dengan pemerintah mengalami kemunduran. Salah satu tandanya, kata Jadjurie, masjid di dalam istana yang dibangun pada zaman Marcos telah dialihfungsikan, bukan lagi sebagai tempat ibadah. Hal itu dilanjutkan presiden-presiden berikutnya sampai sekarang.

Cara berdakwah ala Blue Mosque yang mengedepankan kelembutan dan keramahan menarik banyak simpati. Tidak hanya dari kalangan Islam, melainkan juga dari kalangan nonmuslim yang ingin memahami Islam lebih jauh.

Tidak sedikit di antara mereka yang lantas memilih masuk Islam setelah mempelajarinya. ’’Setiap bulan, rata-rata 3–5 orang mualaf mengucapkan syahadat di masjid ini,’’ terangnya.

Ada istilah khusus dalam kosakata Filipina untuk menyebut mualaf –berpindah agama menjadi Islam. Yakni, ’’balik Islam’’. Menurut Jadjurie, istilah itu dikenal sejak dulu. Filosofinya, bagi bangsa Moro, bangsa Filipina sebelum zaman kolonialisme adalah bangsa yang beragama Islam. Mereka menjadi menganut agamanya sekarang karena pegaruh penjajahan bangsa kolonial. Karena itu, ketika membaca syahadat kembali, para mualaf kemudian disebut ’’balik Islam’’.

’’Selain itu, balik Islam bisa dimaknai kembali ke fitrah sebagai bawaan dasar manusia. Menurut Alquran, fitrah manusia adalah mengakui dan berserah diri kepada Tuhan. Lingkunganlah yang menjadikan mereka tidak lagi fitrah,’’ ungkap pria paro baya itu.

Dia mencontohkan salah seorang tokoh terkenal Filipina yang telah ’’balik Islam’’, yakni Robin Padilla. Dia adalah artis layar lebar dan televisi yang telah membintangi puluhan film. Kini kehidupan Padilla dicurahkan untuk ikut mensyiarkan Islam di Filipina dengan jalan yang ramah melalui pendidikan serta kebudayaan.

Dia membangun sekolah gratis untuk anak-anak tidak mampu beserta asrama di lahan miliknya. Padilla juga mendirikan lembaga advokasi bagi masyarakat muslim Filipina. Termasuk, dia menyediakan lahan makam muslim di Norzagaray, Provinsi Bulacan. Dia juga mengeluarkan jutaan peso Filipina untuk mendanai lembaga-lembaga kemanusiaan.

Menurut Jadjurie, menjadi muslim adalah menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan fitrah, yang memanusiakan manusia dan menyayangi sesama. Dia yakin, jika Islam disyiarkan dengan penuh damai lewat misi kemanusiaan, siapa pun ingin menjadi bagian dari misi rahmatan lil alamin –menjadi rahmat bagi sekitarnya– itu. (*/c5/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Interpreter Andalan Pemkot Surabaya Farah Andita Ramdhani


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler