Merek Air Mineral Terkenal Penyumbang Terbesar Pencemaran Lingkungan

Senin, 19 Februari 2024 – 17:52 WIB
Sampah plastik di laut. Foto Yessy Artada/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Hasil penelitian Sungai Watch menyebutkan salah satu merek air minum kemasan terkenal menjadi penyumbang terbesar pencemaran lingkungan di Indonesia.

Temuan itu berdasar analisa atas lebih dari 537.000 item sampah produk kemasan bermerek, mencakup saset, botol plastik, plastik keras, gelas sekali pakai, kaleng dan gelas kaca yang dikumpulkan sukarelawan di kawasan perairan sungai dan laut di Bali, dan Banyuwangi, Jawa Timur, sepanjang 2023.

BACA JUGA: InsWA Beri Solusi Pengurangan Sampah, Sentil Galon Sekali Pakai

Pendiri Sungai Watch Gary Bencheghib mengatakan, merek air mineral terkenal itu menjadi pencemar nomor wahid di Indonesia, selama tiga tahun berturut-turut.

Dalam sebuah video ungguhan di media sosial Instagram awal pekan ini, Gary menggambarkan sampah produk air minum dalam kemasan (AMDK) itu dalam bentuk botol maupun gelas ada di mana-mana.

BACA JUGA: Kemasan Sachet jadi Salah Satu Penyumbang Sampah Plastik Terbesar

"Kami menemukan sampahnya di perairan sungai, seluruh sisi pantai, kawasan hutan bakau," kata Gary dambil memperlihatkan kemasan tersebut.

Dalam sebuah presentasi digital bertajuk 'Sungai Watch: Laporan Dampak 2023', lembaga merinci total sampah produk air mineral itu mencapai 39.118 item atau sekitar 7% dari total sampel.

BACA JUGA: Ternyata Sampah Kemasan Botol Minuman Soda Juga Terbanyak

"Mereka bertanggung jawab atas kemasan gelas plastik air minum ini, dan juga air mineral dalam kemasan botol," sambung Gary.

Diketahui, Sungai Watch mempelopori gerakan bersih-bersih sampah plastik di sungai dan pantai dengan memasang jejaring sampah di ratusan lokasi di Bali, dan Banyuwangi.

Pemasangan jejaring sampah itu bertujuan menahan sampah hanyut ke laut sekaligus memberi waktu bagi relawan lembaga untuk mengumpulkan dan menganalisanya.

Adapun sejumlah merek yang disebut ikut menjadi penyumbang terbesar pencemaran lingkungan di Bali, pada 2023, adalah produsen beragam produk air mineral, teh gelas, mi instan, dan susu kotak.

Sebelumnya, hasil riset Net Zero Waste Management Consortium juga menyebut sampah kemasan air minum, baik dalam bentuk botol maupun gelas plastik, termasuk yang paling membebani tempat penampungan sampah di berbagai kota, selain sampah plastik kresek dan kemasan saset berbagai merk.

"Sampah kemasan produk konsumen ukuran kecil memang selalu jadi masalah terbesar di setiap TPA," kata lead researcher Net Zero, Ahmad Syafrudin. (jlo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler