Merlion, Ikan Berkepala Singa yang Sedang Jadi Hotel Mewah Satu Kamar

Minggu, 08 Mei 2011 – 08:08 WIB
Foto: JPPhoto

Salah satu kepiawaian Singapura memang jualanPatung Merlion di Merlion Park, dekat Marina Bay, misalnya

BACA JUGA: Menyaksikan Keprihatinan di Pulau Kramian di Ujung Paling Utara Jatim

Si singa berbadan ikan itu sedang dialihfungsikan sebagai hotel luks
Berikut laporan wartawan Jawa Pos DOAN WIDHIANDONO yang baru berkunjung dari sana.

WAJAH Merlion tak tampak Selasa (3/4) siang itu

BACA JUGA: Yani Malhendo, Eks Petinju yang Pernah Membuat Keder Juara Dunia Manny Pacquiao

Separo atas patung yang terletak di dekat Esplanade, gedung seni dengan atap berkontur kulit durian tersebut, sedang ditutup papan-papan
Warnanya oranye

BACA JUGA: Kisah Aminah, ABG yang Mendadak jadi Pria Bernama Arifin



Badan yang berbentuk ikan masih tampakTapi, tubuh itu dikelilingi rangka-rangka besi yang begitu rapatPersis seperti orang merenovasi bangunanKesannya, Merlion sedang dipercantikMungkin diperbaiki, dicat, atau dibersihkan.

Meski begitu, antrean di sekitar buntut Merlion tetap begitu panjangOrang berbaris satu per satu, membentuk ular dengan tiga kelokan, untuk kemudian "lenyap" beberapa saat di kotak oranye yang sedang menutupi kepala Merlion tersebut.

Memang, Merlion sedang tak tampil dalam wujud biasanya: singa jantan berbadan ikan yang sedang meludah, eh menyemburkan airIa sedang didandani Tatzu Nishi, seniman yang lahir di Nagoya pada 1960 dan kini menetap di Berlin serta TokyoSelama sekitar sebulan, 13 April"15 Mei, patung merlion itu menjadi The Merlion Hotel, penginapan sangat mewah dengan hanya satu kamar.

Nizhi adalah salah satu di antara 63 seniman dari 30 negara peserta Singapore Biennale 2011Para artis itu memamerkan 161 karya yang tersebar di empat venueYakni, Singapore Art Museum, The National Museum of Singapore, Old Kallang Airport, dan Marina BayNah, karya yang dipajang di Marina Bay ya The Merlion Hotel tersebutIa adalah karya seni berbentuk kamar hotel atau hotel yang sejatinya adalah karya seniSama saja.

Dalam penjelasan yang dirilis Singapore Biennale, Nizhi disebut menawarkan persepsi berbeda tentang monumen Merlion, tetenger Singapura yang dibangun pada 1972 tersebutNishi meruntuhkan persepsi orang tentang ruang awam dan ruang pribadiCaranya, dia mengawinkan Merlion, monumen yang kondang sebagai ruang publik itu, dengan ranah yang begitu intim dan personalYakni, kamar hotel.

The Merlion Hotel pun bukan sekadar benda seniIa hadir benar-benar sebagai hotel yang bisa di-booking dan diinapiJatahnya, hanya satu penyewa tiap malam, mulai pukul 19.00 dan check-out keesokan paginya sebelum pukul 10.00Ongkosnya SGD 150 atau sekitar Rp 1,045 jutaCukup murah untuk menikmati kemewahan kamar hotel di sebuah lokasi strategis di Singapura.

Kemewahan hotel itu pun bisa dirasakan pengunjung secara gratis, tiap hari mulai pukul 10.00 hingga 19.00Saat itulah orang-orang antre panjang demi masuk sejenak ke hotel satu kamar tersebut.

Para pengunjung pagi - yang gratisan- akan diberi koin plastik, mirip biji permainan karambol, saat mengantreWarnanya hijau atau kuning"Maaf, ini untuk apa?" tanya Jawa Pos kepada salah seorang petugas pameran yang bertugas mengatur antrean.

Nancy, petugas berparas manis itu, menjelaskan bahwa koin plastik tersebut adalah nomor antrean dan sebagai tanda masuk hotelAneh, memangSebab, koin itu polosTak ada nomor, tak ada hurufJuga tidak ada nominal dolar penanda pembayaran"Ya memangKan masuknya gratisJadi, ini pura-puranya uang masuk hotel," ujar Nancy lalu tersenyum.

Karena yang dimasuki adalah hotel, pengunjung terikat sejumlah aturanItu sudah dijelaskan saat pengunjung mulai berbaris masuk hotelJadi, setiap beberapa langkah, ada petugas pameran yang terus-menerus menyuarakan aturan tersebutYakni, jumlah pengunjung yang masuk dibatasi, tidak boleh mengotori hotel, tidak boleh memindah barang, tidak boleh menggunakan kamar mandi, tidak boleh keluar ke balkonSampai di sini, masih belum terbayang bahwa moncong Merlion itu bisa menjadi hotel yang fasilitasnya begitu lengkap.

Di ujung antrean, ada dua petugas lagiSemua masih muda, berusia anak kuliahanSatu orang bertugas mengambil uang-uangan, seorang lagi mengatur jumlah pengunjung, yakni sekitar 10"15 orang sekali masukBersama wartawan koran ini, siang itu ada 12 pengunjung lain.

Aturan pertama sudah dirasakan di kepala antrean ituYakni, pengunjung harus melepas alas kakiTak ada tempat untuk menaruh sepatu atau sandalSemua diletakkan sendiri di trotoar di tepi muara Sungai Singapura (Singapore River) tersebutSetelah itu, berjalan berjingkat-jingkat menuju tangga besi untuk masuk hotelJalan berjingkat itu bukan peraturanTapi, kalau siang, paving stone trotoar di pinggir jalan tersebut begitu panas.

Setelah tangga besi "yang juga panas kalau siang", pengunjung akan langsung disambut meja resepsionisAda dua orang yang bertugas menerima tamu untuk malamPersis hotel betulanKalau siang, mereka hanya mempersilakan pengunjung langsung masuk kamar.

Di dalam kamar itulah aroma kemewahan langsung menyambutKamar tersebut berukuran sekitar 5 x 5 meter persegiTemboknya bernuansa cokelat dengan kertas dinding bermotif ikon-ikon SingapuraMulai Singapore Flyer alias wahana kincir setinggi 165 meter (tertinggi di dunia), patung Sir Thomas Stamford Raffles, hingga gambar Merlion ituLangit-langit hotel tersebut putih bersih dengan lampu temaram mengelilingi sudutnyaLantainya praquet kayu yang menguatkan kesan klasik dan mewahDi tengah-tengah ada karpet merah sebagai alas tempat tidur king sized.

Tapi, titik perhatian utama di ruang tersebut adalah si kepala singa yang menyembul di tengah-tengah lantai, tepat di atas bagian kepala tempat tidurKepala singa itu sundul langit-langitSinga tersebut menganga dan menatap tajam ke arah lautDi dalam mulutnya ada kepala saluran airDi situlah biasanya air mengucur terus-menerus

Biasanya, orang memang tak bisa sedekat ini dengan kepala Merlion setinggi 8,6 meter tersebutMereka hanya bisa melihat dari jauh atau mendekat ke tubuhnya sebagai latar belakang fotoJarang sampai bisa melihat detail kepala, mengamati matanya, hingga mendekat ke gigiginya.

Di seberang pintu masuk, tepat di depan wajah singa, ada jendela kaca yang bisa dibukaDi luar adalah balkon berlantai kayu dengan pagar besiPemandangan dari balkon cukup spektakulerKhas SingapuraYakni, Singapore Flyer, tribun penonton Grand Prix F1 Singapura, gedung Esplanade, serta Marina Bay Sands "hotel dan kasino yang berdiri menantang langit dengan tiga tower kembar itu.

Kamar mandi hotel pun cukup mewahNuansanya putihBagian dinding yang menghadap laut adalah kacaKarena itu, kalau dibuka, orang seolah-olah mandi di ketinggian, berbatasan langsung dengan laut

Di seberangnya juga masih tampak Marina Bay Sands, hotel mewah yang ongkos menginapnya empat hingga delapan kali lipat The Merlion Hotel yang hanya satu kamar ituBolehlah kalau para tamu mandi sambil membayangkan menginap di Marina Bay SandsSeperti makan nasi-kerupuk di sebelah orang jual sate.

Sebagai sebuah penginapan, The Merlion Hotel memang harus lengkapSelain balkon dan kamar mandi itu, tamu juga mendapat fasilitas standar berupa perangkat mandi dan coffee-maker plus dua botol air mineralSemua pakai logo The Fullerton, hotel bintang lima di seberang jalanLogo dan nama The Fullerton juga ada di dua pasang sandal putih untuk para tamu hotel.

Selain sebagai ekspresi seni, pengubahan patung Merlion sebagai hotel itu sejatinya menggugah kembali potensi monumen tersebut sebagai wahana wisata SingapuraSebab, Merlion itu mulai terengah-engah mengejar tempat wisata lain yang tampil jauh lebih elokSebut saja Universal Studio Singapura di Pulau Sentosa yang hampir selalu fullDi kawasan Marina Bay, patung Merlion "bersaing" dengan Singapore Flyer dan Marina Bay Sands.

Memang sulit mengukur berapa pengunjung yang datang di monumen Merlion itu"Tak ada data pastiTapi, rasanya turis hanya mampir sekejap di siniSatu"dua jepretan, langsung pergi," kata Koh Leuw, seorang penjaga pameranPendapat itu pun pribadi, bukan berdasar data resmi.

Memang, para turis masih tetap menjadikan patung Merlion di kawasan Marina Bay itu sebagai "lokasi wajib" yang harus disambangi ketika di SingapuraSelain di situ, ada empat lainnya yang dinyatakan sebagai patung Merlion resmi oleh pemerintah SingapuraDi Marina Bay ada duaSatu yang sedang jadi hotel, satu lagi kembaran kecilnya (setinggi 2 meter) yang berada di belakangnya.

Yang paling jangkung adalah Merlion setinggi 37 meter di Pulau SentosaSelain itu, ada dua Merlion lagi "masing-masing setinggi 3 meter" di kawasan Grange Road dan Mount Faber.

Di luar Singapura, kembaran Merlion ada di Merlion Restaurant di Cupertino, California, Amerika SerikatDi negeri kita, Merlion "persis yang di Singapura" berada di kawasan perumahan CitraLand, Surabaya, Jawa Timur.

Kalau berminat menginap di bawah mulut singa, silakan datang ke SingapuraHarus cepat karena, kata petugas pameran, yang mengantre untuk tidur sangat banyakHotel tak pernah kosong satu malam punKalaupun menginap di The Merlion Hotel, tak perlu khawatir singa itu tiba-tiba menyemprotkan air ketika para tamu sedang tidur di bawah moncongnya(*/c5/ttg)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Komunitas Eden yang Kontroversial setelah sang Pemimpin Bebas dari Penjara


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler