Mike Marjinal…Balada Punk Indonesia

Kamis, 23 Maret 2017 – 14:50 WIB
Mikail Israfil alias Mike Marjinal. Foto: Dok Mike untuk JPNN.com.

jpnn.com - BAPAKNYA tentara. Tapi, dia anti militerisme. Pentolan band punk Marjinal ini di garis depan saat mahasiswa menggulingkan rezim Soeharto. Kini, ia masih bersetia di garis massa.

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Jokowi…Siapkan Palangka Raya jadi Ibu Kota Indonesia

Setamat dari SMP 254 Jakarta, atas saran ayahnya, Mikail Israfil melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pelayaran Menengah (SPM) Cawang, pada tahun ajaran 1992/1993.

Entah siapa pula yang memulai, waktu itu budaya di SPM setali tiga uang dengan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), dan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN)--kini Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

BACA JUGA: Misteri Hilangnya Arsip Negara

Cenderung feodal. Memupuk budaya senioritas, dan mengedepankan kekerasan.

Hanya gara-gara merokok, "enam bulan pertama, ogut habis jadi samsak," lelaki yang kini dikenal sebagai Mike Marjinal itu mengenang masa lalunya.

BACA JUGA: Kisah Satu Babak Perfilman Indonesia

Mike jadi bulan-bulanan para senior. "Disuruh push up-lah, lari keliling lapangan, dipukulin, dimaki. Habislah! Ogut jadi korban senioritas militeristik.”

Terus-terusan ditindas, Mike pun berontak. “Setelah enam bulan jadi samsak para senior, ogut nggak tahan. Seragam PDH sekolah ogut bakar di depan rumah. Lalu memulai gerilya.”

Satu persatu para senior yang biasa memperlakukannya dengan keji, dicegatnya di terminal Pasar Minggu, Terminal Blok M dan berbagai tempat. Ditantangnya duel satu lawan satu.

Yang berani dihajarnya, yang menolak duel diperlakukannya sebagaimana dirinya diperlakukan di sekolah. Push up!

Dia melakukan itu sendirian. Bahkan tak hanya satu lawan satu, tiga orang-pun diladeninya. Hal itu berlangsung selama tiga bulan. Aksi itu jadi teror bagi para senior.

“Banyak yang jadi ketakutan tuh. Akhirnya hal itu menjadi bahan omongan, bahkan sampai ke telinga para alumni. Banyak tuh alumni yang datang ingin ketemu, yang mana sih anaknya…ogut pikir mau ngapain, ternyata mereka justru salut.”

Pada bagian ini, pria yang tubuhnya penuh tato itu tertawa terbahak-bahak.

Sejak itu, hingga lulus dari SPM Cawang pada 1995, Mike selow di sekolah itu.

Teman-teman seangkatannya merasa terlindungi. Tak ada lagi senior menyiksa junior. Setelah naik kelas, adik kelas pun mengidolakannya.

“Kita nongkrong bareng, ngerokok bareng, bebas-bebas aja. Kan ada tuh senior yang sok-sokkan ama juniornya, apalagi kalau lagi ama ceweknya. Kalau kita mah nggak,” ujarnya tanpa terpesit rasa jumawa.

Ada kisah menggelikan jelang lulus dari sekolah itu. Di SPM, para siswa diwajibkan membuat karya tulis sebagai penentu kelulusan.

Nah, karena tidak pernah mengerti materi sekolah, dia fotokopi bahan tesis dari Akademi Ilmu Pelayaran (AIP). Ternyata, Pak Yanto yang menjadi guru pengujinya adalah pembuat tesis itu.

“Kamu mau lulus?" tanya Pak Yanto.

Terang saja Mike mengiyakan.

"Coba push-up 200 kali…"

Mike patuh. Entah apa sebabnya, "baru 50 kali push up, disuruh berhenti. Dan ogut dinyatakan lulus. Lalu dia ngomong, tesis itu yang bikin dia. Hehe…hehe, tengsin dah!” tutur lelaki kelahiran 23 Juni 1975 ini tersipu-sipu.

Mike menceritakan masa lalunya yang ini kepada saya beberapa tahun lalu. Dinihari ketika televisi di markas Marjinal, Jl Setiabudi, Jagakarsa, Jakarta Selatan menayangkan Spanyol melumat Rusia pada partai semifinal Euro 2008.

Baru-baru ini, 21 Maret 2017, kami jumpa di LBH Jakarta. Usai tahlilan untuk Ibu Patmi petani Kendeng.

Dia menghampiri dan kami berpelukan. Hangat. Sehangat kopi yang disuguhkannya saat kami nonton bola bareng di Marjinal sembilan tahun lampau, di rumah sewaan yang menyempil di tepi Setu Babakan.

"Punk itu bukan dari London. Bukan dari Inggris. Itu sejarah keliru," bisiknya membuka obrolan. Kami diskusi. Ternyata Marjinal sedang mengkaji dan sedang mulai menulis buku sejarah Punk.

"Budaya punk itu, erat dengan budaya leluhur kita…Indonesia," serunya penuh semangat. Kajian dan bukunya belum selesai. Jadi, belum ada yang bisa disimpulkan. Penelitian masih berlangsung.

Kembali ke kisah semula…

Lulus SPM Cawang, Mikail Israfil putera Ibu Rumani dan Pak Al Onli ini kuliah di Akademi Teknologi Grafika Indonesia (ATGI), Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Anak ke-empat dari lima bersaudara ini tidak mengikuti jejak ayahnya menjadi tentara. Al Onli, ayah Mike seorang prajurit TNI Angkatan Darat.

Jangankan masuk tentara, Mike yang jadi penyuka musik cadas gara-gara mendengar band Exploited malah mendirikan grup band bernama Anti Military bersama kawan-kawan kampusnya pada 1996.

Anty Military inilah cikal bakal Marjinal--band punk fenomenal asal Indonesia yang mendunia. Bobi, sekondan lama semasa di kampus, masih bersetia bersamanya di Marjinal hingga hari ini.

Tak sekadar nama band, lewat lagunya, dia mengkritik kekerasan aparat yang semena-mena terhadap rakyat.

sampai kapan ini terjadi/dijajah bangsa sendiri/mari kita rapatkan barisan/untuk melawan penindasan…tentara keparat/aparat bangsat/militer anjing tai kucing…

Apa hanya bermusik? Tidak! Mereka di garis depan ketika mahasiswa mulai turun ke jalan melawan rezim militeristik Soeharto pada 1990-an.

"Mike ini kan dulu mahasiswa ATGI," kata Yoga Hermawan, yang pada 1990-an boleh dibilang satu di antara pendekar bawah tanah Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jakarta.

Yoga kelahiran 1974. Selisih satu tahun dari Mike. Dia mahasiswa angkatan 1993 di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Poilitik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Menurut Yoga, medio 1990-an, antara 1995/1996, mahasiswa UMJ dan ATGI bersekutu membentuk Forum Study Aksi dan Informasi untuk Demokrasi (Forsaid).

Semasa itu, untuk cari selamat, Forsaid beberapa kali pindah markas. Apa yang sedang dilakukan para mahasiswa waktu itu gerakan yang tidak biasa. Mereka melawan rezim yang menakutkan.

Menurut Yoga, memang sejak awal Mike sudah nge-punk.

"Mike itu jiwa seninya bagus. Dia bermusik. Di waktu senggang, kita bernyanyi-nyanyi di sekretariat (Forsaid--red). Mereka lah tu yang hibur. Dulu buat bayar kontrakan sekretariat susah. Makan susah. Untuk itu, kita ngamen."

Di samping itu, mereka juga bikin puisi. Cetak. Jual puisi. "Anak-anak ATGI itu ahlinya percetakan," kenang Yoga yang kini menjadi konsultan hukum, dalam sebuah obrolan siang dengan JPNN.com, Kamis, 23 Maret 2017.

Mereka juga bikin macam-macam souvenir, sablon kaos untuk dijual--usaha yang masih dilakoni anak-anak Marjinal hingga sekarang.

Suatu hari, "karena jarang mandi. Orangnya rada jorok. Kutuan tuh rambutnya yang gimbal kriwil-kriwil. Beli obat. Sibuk dia ngurusin rambut gimbalnya. Kawan-kawan lalu saranin suruh botak. Hahaha…nggak mau dia."

Pun demikian, semasa kuliah dulu, sebagaimana dikisahkan Yoga, Mike dan kawan-kawannya boleh dibilang menguasai kampus ATGI. Ada kode tanda petik saat muncul kata; menguasai.

Dalam sejarah gerakan, Forsaid bersama forum-forum mahasiswa lain di Jakarta kemudian bersatu membentuk Komite Aksi Mahasiswa bersama Rakyat untuk Demokrasi (Komrad) pada 1998.

"Dia (Mike) aktif demo 1998 melawan Orde Baru," ungkap Yoga.

Setelah Soeharto lengser, bersama sejumlah tokoh mahasiswa dari seluruh Indonesia, Mike mendirikan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) pada 1999.

Lagu Kerakyatan

Tubuh Mike dibaluri aneka macam gambar rajah. Namun, di balik kesangaran penampilannya, ia sosok humoris, bersahabat dan punya angan-angan mulia. Yakni, terciptanya tatanan masyarakat yang saling bermanfaat dan tidak saling merugikan.

Bersama Marjinal, Mike telah menelorkan karya-karya yang mudah sekali diterima Rakyat.

Lagu-lagu Marjinal kerap dikumandangkan para demonstran.

Para pengamen menyenandungkannya di bus kota, di angkot dan lain sebagainya.

Tak hanya itu, korban sosial karena himpitan ekonomi yang kemudian terpaksa harus keluar masuk bui-pun menggemari karyanya.

maling-maling kecil dihakimi/maling-maling besar dilindungi/hukum adalah lembah hitam/tak mencerminkan keadilan/ada uang kau bisa dimenangkan/tak ada uang know say goodbye…

Lagu berjudul Hukum Rimba adalah satu dari sekian banyak lagunya yang cukup membumi.

Tidak sekadar beronani dengan seninya, buah karya Marjinal, selain untuk mempertahankan diri dalam mengarungi samudra kehidupan juga menjadi penyelaras bahtera zaman dan menebarkan benih-benih perlawanan terhadap penindasan serta menaburkan budaya pembebasan.

Coba saja simak lagu Marjinal. Banyak di kanal youtube.

Syair lagu-lagu mereka tak sekadar punya gaya bahasa. Lebih dari itu, ia punya daya bahasa. Ya, daya bahasa!

Syairnya berdaya menghidupkan naluri agar tidak tunduk bila ditindas. (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bukan Haji Salman, ini Manuver Ibnu Saud


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler